-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NAKENG CARA": KULINER IKONIK MABAR?

Sabtu, 20 Maret 2021 | 11:25 WIB Last Updated 2021-03-20T04:25:24Z
Oleh: Sil Joni*

Idealnya, kita tidak bisa mengabstraksi manusia dalam bingkai pemikiran yang universal. Melucuti' status 'kekonkretan dan kelokalan' manusia, merupakan aktus pembunuhan terhadap 'keunikan' seseorang. Manusia, mesti dipahami dalam keseluruhan latar belakang budaya yang khas.

Dimensi 'kekhasan' itulah yang menjadi penanda identitas kolektif sebuah komunitas etnis dan politis sekaligus menjadi 'daya tarik' bagi yang lain untuk sekadar merasakan aroma kekhasan itu. Saya kira, aktivitas industri pariwisata yang kian semarak di Mabar saat ini, tidak terlepas dari faktor 'kekhasan' yang begitu memesona 'publik' yang lebih luas.

Selain menikmati suguhan panorama alam yang begitu eksotis, para wisatawan (pelanggan) tentu saja sangat mendambakan 'sensasi' pelbagai kearifan lokal (local wisdom) yang tersedia di wilayah ini. Setiap suku bangsa (komunitas etnis) memiliki kearifan lokal yang sarat dengan nilai-nilai budaya. 

Kearifan lokal bisa dimaknai sebagai produk budaya masa lalu yang patut diwariskan dan dijadikan pegangan hidup bagi generasi sekarang. Kendati hidup dalam konteks kelokalan, tetapi sebenarnya, nilai-nilai yang terkandung dalam pelbagai kearifan lokal itu bersifat universal.

Kearifan lokal itu bisa mewujud dalam bentuk pandangan hidup, pengetahuan, mitologi, tingkah laku, dan tindakan manusia dalam relasinya dengan diri, sesama, alam dan Sang Pencipta. Produk makanan dan proses pembuatan aneka hidangan lokal itu, bisa dikategorikan sebagai 'local genuine' itu.

Pertanyaannya adalah apakah ada produk makanan yang dianggap sebagai 'kekhasan Mabar'? Jika ada, mengapa produk itu tidak ditawarkan sebagai salah satu 'menu favorit' untuk disuguhkan kepada wisatawan? Mengapa pasar wisata kuliner kita didominasi oleh produk makanan asing? Mengapa kita kurang percaya diri untuk menjadikan 'pangan lokal' sebagai komoditi unggulan dalam pasar pariwisata saat ini?

Di tengah 'sepinya minat warga lokal' untuk mendorong pangan lokal 'berkompetisi' di ruang publik kepariwisataan, beberapa pelaku usaha dan pegiat pariwisata di Mabar coba 'mewacanakan 'nakeng cara' (ikan Baronang) sebagai kuliner ikonik Mabar. Ini sebuah 'terobosan positif' untuk menghidupkan kembali tradisi menangkap, mengolah, dan mengonsumsi Nakeng Cara di Mabar.

Nakeng Cara, bagi komunitas etnis Manggarai, baik yang berada di pesisir maupun yang hidup di pedalaman, lebih dari sekadar 'lauk pemuas rasa lapar' belaka. Ikan Baronang merupakan 'bagian yang tak terpisahkan' dari narasi kebudayaan ke-Manggaraia-an. Ada kisah-kisah kultural yang terselip dalam setiap actus menangkap, mengolah (proses pengeringan dan pengasinan), dan mengonsumsi ikan tersebut.

Saya berpikir, pelbagai narasi budaya tentang 'nakeng Cara' itu, perlu diangkat secara kreatif ke panggung industri pariwisata bersama menguatnya kemauan kita menjadikan ikan itu sebagai kuliner lokal yang khas Manggarai. Sebagai contoh, bagaimana Nakeng Cara itu menjadi 'media kekeluargaan dan persaudaraan' dalam sebuah acara yang bersifat rekreatif. Nakeng Cara kering itu dibakar untuk dimakan bersama pisang bakar atau ubi bakar dan 'ute lomak/lawar'.

Sebenarnya, Nakeng Cara ini tidak hanya kaya akan nilai budaya, tetapi juga memiliki 'unsur cita-rasa' yang khas dan kandungan gizi yang mengagumkan. Kita akan mendapat asupan nutrisi biologis dan budaya sekaligus ketika mengonsumsi ikan Baronang ini. Tetapi, sayangnya 'tradisi mengonsumsi' Naken Cara mulai berkurang seiring menurunnya jumlah produksi dan derasnya serbuan produk makanan asing dalam pasar wisata kita.

Untuk diketahui bahwa Baronang (Siganus Sp.) adalah sekelompok ikan laut yang masuk dalam keluarga Siginidae. Ikan ini dikenal oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda satu sama lain sesuai spesiesnya, seperti di Kepulauan Seribu dinamakan kea-kea, di Jawa Tengah dengan nama biawas, nelayan-nelayan di Pulau Maluku menamakan dengan sebutan samadar dan di Manggarai disebut Cara, Sencara, dan Ancara. 

Baronang ditemukan di perairan dangkal laguna di wilayah Indo-Pasifik dan timur Laut Tengah. Ikan ini dalam bahasa Inggris disebut rabbit fish karena perilaku makannya yang memakan tumbuh-tumbuhan (rumput laut) secara rapi seperti dipangkas mesin rumput kecil. Baronang merupakan salah satu ikan yang menjadi favorit bagi para pemancing di laut.

Ikan baronang adalah salah satu sumberdaya hayati perairan laut yang banyak diminati untuk dikonsumsi dan juga merupakan salah satu ikan favorit bagi pemancing ikan di Indonesia. Ikan ini begitu diminati konsumen karena memiliki daging yang gurih dan bernilai gizi yang lumayan tinggi. Diketahui masih banyak lagi spesies Baronang lainnya. Penyebarannya cukup luas dan ada di hampir seluruh perairan wilayah Indonesia.

Kendati tersebar di hampir seluruh perairan Indonesia, tetapi Nakeng cara yang hidup di perairan Mabar 'terasa lebih enak dan sedap'. Jadi, ada perbedaan 'kualitas rasa' jika dibandingkan dengan Baronang yang hidup di perairan lain itu.

Jika demikian, mengapa kita masih 'ragu dan kurang percaya diri' untuk menjadikan Nakeng Cara sebagai kuliner ikonik Mabar? Bukankah 'unsur rasa yang khas' dan sepotong narasi budaya yang begitu inspiratif dalam Nakeng Cara menjadi semacam 'trademark' yang bisa dieksplorasi secara kreatif untuk memikat hati para konsumen/pelanggan/wisatawan yang berkunjung ke Mabar?

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update