-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pasir Putih Bagai Surga Tersembunyi; Dari Mancing Ikan Hingga Lupa Pulang

Rabu, 17 Maret 2021 | 19:47 WIB Last Updated 2021-03-17T12:57:56Z
Di antara banyak panorama alam di Manggarai, Satarmese Barat (SABAR) memiliki surga yang masih tersembunyi yakni pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih selalu meremajakan pasangan mata. Pribadi yang teralienasi dari dirinya sendiri pun didandan oleh keputihan pantai yang tengah bermesraan dengan pesona dan kecantikannya. Inikah yang namanya surga tersembunyi di balik tatapan? 

Keputihan dan keterpesonaan pantai pasir putih menarik daya minat ribuan orang. Dan aku adalah salah satu di antara beribu pasang mata yang ingin mengukir kemolekan alamnya. Aku datang untuk memancing ikan-ikan di antara pasang lautan tenang dan hangat. Kebetulan rumahku kira-kira 10 menit jika mengendarai speda motor menuju pantai tersebut. Jika aku dan teman-teman pergi mancing ikan, terkadang kami lupa pulang. Lupa pulang bukan hanya karena aku menangkap ikan-ikan melainkan magnet keindahan sunset di celah sanubarnya. Panorama pasir putih menggerakan jemari untuk menggoreskan percikan-percikan cinta dan keindahan agar boleh dipacari oleh siapapun bila didandan dengan kemajuan tehnologi. 

Kemolekan Pasir Putih
Pantai Pasir putih terletak di bagian selatan Manggarai, Satarmese Barat, tepatnya di desa Pasir Putih (desa pemekaran dari desa Ruwuk). Pantai pasir putih memiliki laut yang tenang karena arus ataupun gelombang tak bertuan dihadangi oleh pulau Mules yang tidak kalah indah. Pasang air laut tidak memudarkan paras cantiknya. Namun semakin menawan dan menggoda jika pasang surut tiba, seolah-seolah menampakan rahasia keterpesonaan.

Pantai ini diapiti bebatuan rapi tersusun di semenanjung kecil-kecillan tepatnya di bagian barat. Semenanjung pantai bagaikan perhiasan-perhiasan yang bila dipandang, aku terjatuh berkali-kali hingga tak mampu terbangun kembali. Bebatuan berantakan merapikan keindahan semenanjung tersebut. Tatkala sunset mendekat, aku mendekap kehangatan cahya merah jingga di antara deburan ombak. Rasanya aku berada di keindahan asali. 

Pasir putih semakin terlihat sempurna oleh karena dandanan pulau Mules yang terkesan memukau. Kedua tempat ini berhadap-hadapan bagaikan tengah berpacaran. Suara keindahannya bersahut-sahutan. Sepasang tempat ini berbicara tentang cinta lewat kemolekan dan pelangi keindahannya. Bibirku bungkam. Mataku tak jemu menatap. Hatiku hening. Dalam ketermenungan, aku hanya bisa mengelus dada sambil berkata TERIMAKASIH TUHAN atas alam ciptaan-Mu.

Di bagian timur pasir putih terukir indah sebuah nama. Dintor, itulah nama tempat itu dan tidak asing bagiku serta mungkin bagimu juga. Dintor dikenal sebagai tempat penjualan ikan segar. Para saudara dan keluargaku yang muslim selalu menyapa lewat senyum tatkala aku lewat. Senyuman itu tersirat kata "nana, cala ngoeng weli ikan segar ite...." (nana, kamu mau beli ikan segar?). Aku pun membalasnya dengan senyuman. Sebab di dalam tas kecilku hanya tersisa kail-kail untuk menangkap ikan di semenanjung pasir putih sore itu juga.

Pantai Dintor justru melengkapi keutuhan pemandangan pasir putih. Bila wisatawan menjadikan pasir putih sebagai tujuan destinasinya khususnya dari arah timur, mereka pasti melewati Dintor. Matanya terpaut oleh pelbagai jenis ikan segar. Dengan sendirinya mereka membeli ikan. Ataupun wisatawan dari arah barat, mereka pasti pergi ke Dintor untuk membeli ikan segar. 

Ikan segar semakin menyegarkan suasana pantai. Wisatawan semakin ketagihan untuk meneguk bilur-bilur kemolekan pasir putih yang tengah bermesra-mesraan dengan Mules Island. Daya tarik romantika kedua tempat itu membawa hati ke alam sesungguhnya yakni alam cinta. Di sana pribadi memahami cinta Tuhan dalam kemolekan asali. 

Kemolekan pantai pasir putih merupakan pintu masuk ruang permenungan dan pergumulan tentang keindahan hidup. Berbicara tentang keindahan hidup dimulai dari keindahan dunia sendiri. Dunia kita sendiri semakin indah berarti itulah cermin sejati yang melihat keindahan yang tampak di luar pribadi kita. Dunia kita indah atau hati kita murni berarti cara kita melihat alam atau dunia yang tampak di luar juga indah, murni.

Pantai pasir putih sangat strategis sebagai tempat pergumulan. Di tengah persoalan hidup atau keterasingan diri sendiri, engkau datang dan melihat deburan kecil-kecilan yang terkadang bergulung-gulung. Di sana, gelombang dan arus putih berdendang ria. Tumpahkan amarahmu dan berteriaklah di antara lorong-lorong gelombang yang sedang berakrobatik dalam ketakbertuanannya. Namun tak asyik didengar dan terkesan kiri bila kau bunuh diri di sana. Jangan bunuh diri, nanti kau takkan kembali. Cukuplah kau keluarkan semua gemuruh sesalan di sana. Kemudian masuklah dalam ketenangan dan biarkan kemolekan dan kecantikan pasir putih masuk di ruang-ruang kosong yang baru saja ditinggalkan gemuruh sesalanmu. Kemolekan pasir putih bagaikan obat manjur untuk menyembuhkan segala persoalan dan beban hidupmu.

Memancing Ikan Hingga Lupa Pulang
Pantai pasir putih tidak hanya kaya dengan keindahan alamnya, tetapi juga terkenal dengan berbagai jenis ikan. Orang terkadang dimudakan dari ketuaan usia tatkala pergi mancing ikan di sana. Mengapa terjadi demikian? Karena selain menumpahkan sepi dan gemuruh jiwa, dia menangkap ikan yang membuat kerutan-kerutan hidup berbinar dalam kepuasan sebab dia tangkapkan ikan besar dan banyak pula. Wajah senyumnya berseri-seri. Percikan sinar wajahnya terlihat jelas dari kelelahan. Sepatah kata kudengar di sepasang telinga, "aku menangkap banyak". Aku juga tidak mau kalah dari suara penuh sukacita itu. Celoteh bibirku pun terdengar di pundak ombak, "aku juga tangkap banyak", meskipun lebih sedikit dari hasil tangkapannya. Sebab hari-harinya dia melaut meskipun hasilnya tidak untuk dijual. 

Bagiku, menangkap ikan di laut khususnya di pasir putih tidak sekedar hobby tetapi seni yang menelurkan butiran-butiran sukacita dan keindahan hidup. Selain memancing ikan, saya didorong untuk masuk dalam bedahan-bedahan pergumulan hidup. Aku bergumul tentang keseluruhan eksistensi alam pasir putih. Mengapa kemolekan pantai pasir putih menggoda hati? Mengapa keindahannya terpaut dengan magnet jiwa? Mengapa "seni memancing ikan" sebagai seni bermenung tentang panorama alam pasir putih? Mengapa aku lupa pulang meski terkadang aku tidak menangkap seekor pun ikan di sana? Sebaliknya juga, mengapa aku menangkap banyak ikan tetapi tetap tidak mau pulang? Ada apa dengan diriku dan ikan di sana? Ada apa di balik kemolekan pantai pasir putih?

Memancing ikan hingga lupa pulang terjadi karena aku terlalu terlelap dalam keasyikan. Tatkala terlalu asyik menangkap ikan dan terlelap dalam pelbagai keindahan alam, engkau lupa kalau waktunya udah senja atau hampir malam. Keasykan dalam tarikan penuh sensasi meskipun ikannya kecil, namun engkau merasa tangkapan itu sangat berarti dan luar biasa. 

Di tengah suasana senja yang ditemani cahaya merah jingga dan dipadukan angin sepoi-sepoi syahdu, dandanan alam pasir putih menenang dan mendamaikan suasana hati. Panorama alamnya mendandani engkau dengan kemolekannya. Seketika pun engkau berubah bagaikan bintang di langit. Jiwamu berkilau karena suasana damai, tenang, sukacita dan butiran cinta membuat hatimu seputih salju. Sebab di sana engkau memuntahkan duka dan luka karena dosa. Sehingga meski dosa memerah akan diputihkan oleh kemolekan dan kecintaan yang ditampakkan oleh pantai di sana. Benarkah demikian? Imanmu membuktikan realitas itu. Jika engkau dengan hati yang tulus dan penuh keyakinan memuntahkan luka, maka engkau meneguk kesejukan cinta dan harapan. 

Realitas keasykan mancing ikan dan eksistensi kemolekan alam pantai pasir putih menyadarkan engkau pantas 'at home', asyik, dan lupa pulang. Dalam konteks ini, pantai pasir putih dapat dikatakan sebagai surga yang tersembunyi. Kenapa pantai tersebut dikatakan demikian? Karena pasir putih tidak hanya mengenai panorama alamnya, tetapi bagaimana alam itu menyumbangkan manfaatnya bagi setiap pribadi. 

Panorama pantai pasir putih memberikan suasana damai, tenang, sukacita, kemolekan, harapan baru, dan keyakinan akan keindahan asali yang selalu meremajakan hidup ditengah hempasan badai kehidupan. Sumbangan manfaatnya itu mendorong saya menyebut pantai pasir putih diibaratkan surga yang tersembunyi namun memberikan nilai kehidupan sehingga aku terlelap dan terjatuh berkali-kali hingga lupa pulang ke rumah. 

Oleh: Nasarius Fidin
Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang, Jawa Timur

Gambar: voxntt.com
×
Berita Terbaru Update