-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENGKHIANATAN

Jumat, 26 Maret 2021 | 10:41 WIB Last Updated 2021-03-26T03:44:09Z
[…Pemenuhan kehidupan yang paling membebaskan sering kali disimpan untuk saat-saat di mana kita merasa paling terluka atau hancur…] 

Pengkhianatan adalah topik yang kompleks untuk ditulis. Keadaan pun sangat bervariasi. Toleransi pribadi kita  prihal pengkhianatan dan rasa sakit emosional juga berbeda-beda. 

Pengkhianatan menjadi satu di antara perbuatan tercela. Sejauh ini pengkhianatan itu familiar, bertalian, bersentuhan dengan perselingkuhan karena menodai nilai-nilai kesetiaan, loyalitas. Belum cukup sebetulnya.

Pengkhianatan juga datang dalam berbagai bentuk seperti pengabaian, atau secara sepihak mengakhiri hubungan meskipun sudah berkomitmen, gosip yang keji, dan menyebarkan kebohongan juga bisa dikategorikan sebagai pengkhianatan. 

Aspek pengkhianatan yang merusak adalah bahwa kesadaran kita tentang orang dan realitas kebenaran dirongrong, diperkosa. Apa yang terasa seperti kepercayaan yang kokoh tiba-tiba runtuh berantakan. Kepercayaan itu seakan-akan lenyap dengan sendirinya. Mengenaskan bila sampai mati rasa. 

Kita mulai terhuyung-huyung karena kehilangan arah, respek kita terhadap orang itu mulai gugur, dijejal aneka macam pertanyaan gugatan. Kepolosan kita hancur. Dan mulai bertanya-tanya: Apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa orang ini? 

JALAN MENUJU PENYEMBUHAN

Pengkhianatan itu menyakitkan. Tidak ada formula ajaib untuk membebaskan kita dari kesedihan dan kepahitan yang tersisa setelah pengkhianatan besar. Apalagi dilakukan oleh orang yang mendapat kepercayaan, sosok yang dipercaya. 

Pengkhianatan adalah pengalaman manusia yang tak terhindarkan. Jarang seseorang menjalani hidup tanpa merasa dikhianati.  Sayangnya, banyak orang terjebak dalam pembalasan, yang biasanya meningkatkan rasa sakit daripada menyembuhkannya. Fantasi balas dendam adalah upaya yang salah arah untuk melindungi kita dari rasa sakit dan kesedihan yang tak terhindarkan.  

Bagaimana kita bisa sembuh dari pengkhianatan agar kita tidak menyerah pada depresi , sinisme , dan keputusasaan? 
Poin positifnya bahwa pengkhianatan itu kerap membantu kita bergerak menuju kebijaksanaan dan kedewasaan yang lebih dalam. Pertumbuhan dan transformasi jarang datang tanpa rasa sakit. 

Minggu-minggu dan bulan-bulan setelah pengkhianatan memberikan jendela kesempatan untuk memahami diri kita sendiri dan kehidupan dengan cara yang lebih dalam. Pemenuhan kehidupan yang paling membebaskan sering kali disimpan untuk saat-saat di mana kita merasa paling terluka atau hancur. 

Menyembuhkan diri dari pengkhianatan berarti beringsut ke arah mempercayai pengalaman yang baru saja menimpa kita. Tahap yang paling sulit adalah membiarkan diri kita mengalami berbagai tahap duka yang menyertai kehilangan.  

Tubuh kita memiliki cara penyembuhan tersendiri dan Allah menganugerahkan itu masing-masing orang, keberanian dan kekuatan untuk merangkul kesedihan dan turbulensi hidup.

Sembuh dari penghinaan besar terhadap harga diri dan martabat kita membutuhkan waktu yang lama. Ini adalah zona peralihan yang mengundang kita untuk menjadi sangat sabar dan lembut dengan diri kita sendiri. 

Akhirnya, pengkhianatan dalam berbagai bentuknya dapat menjadi ritus perjalanan menyenangkan yang mengantar kita menuju pemahaman yang lebih cerah tentang apa itu cinta,  apa yang membantu cinta tumbuh subur, dan apa yang menghancurkannya. 

[…Cinta datang kepada mereka yang masih berharap setelah kekecewaan, yang masih percaya setelah pengkhianatan, dan yang masih mencintai setelah mereka terluka…]

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update