-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Santo Yoseph Setia Pada Maria (Mat 1:24)

Kamis, 25 Maret 2021 | 11:37 WIB Last Updated 2021-03-25T05:16:42Z
Kesetiaan Santo Yoseph pada Maria sebagai seorang suami tidak sekedar kesetiaan sehidup semati, tak dipisahkan oleh siapapun kecuali kematian, melainkan KESETIAAN yang lebih mendalam yaitu kesetiaan secara rohani atau kesetiaan sebagai spiritualitas hidup. Kesetiaan sebagai pengungkapan iman dalam sebuah komitmen.

Kesetiaan sebagai spiritualitas hidup adalah kesucian hati seorang Santo Yoseph yang menjaga kesucian Bunda Maria. Bunda Maria Yang Tak Bernoda adalah karena kuasa Allah namun juga berkat kerjasama Santo Yoseph yang menjaga kesucian Bunda Maria sebagai seorang Bunda Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.

Kesetiaan Sebagai Jawaban Atas Panggilan Tuhan:

“Sesudah bangun dari tidur, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.” (Mat 1:24a). Kesediaan Santo Yoseph untuk mengambil Maria menjadi istrinya merupakan jawaban “Ya” atas panggilan dan kehendak Allah.

Hal ini mengungkapkan kepada kita bahwa perkawinan sebagai pasangan suami istri pertama-tama bukan karena perasaan suka dan kehendak kedua belah pihak, namun merupakan Kehendak Allah sendiri. Maka kesetiaan juga merupakan anugerah dan kehendak Allah yang senantiasa dihidupi oleh pasangan suami istri. Kesetiaan pasangan suami istri dalam segala situasi merupakan jawaban atas panggilan dan kehendak Allah yang telah mempersatukan mereka.

Kesetiaan Sebagai Pemberiaan Diri:

Kesetiaan Santo Yoseph sebagai suami Maria juga ditunjukan melalui kemampuannya menjaga kesucian pribadi dengan mengendalikan hawa nafsu dan keinginan daging. Kesetiaan Santo Yoseph ini merupakan kesetiaan menjaga kesucian. Kesetiaan sebagai pemberiaan diri.

Kesetiaan menjaga kesucian ini juga sejatinya menjadi teladan bagi pasangan suami istri terutama teladan bagi para suami. Bahwa kesetiaan seorang suami pada istrinya adalah pertama-tama menjaga kesucian martabat perkawinan. Bahwa perkawinan tidak semata-mata soal hubungan suami istri tetapi kemampuan mengendalikan hawa nafsu pribadi ketika sang istri sedang sakit atau belum siap untuk berhubungan suami istri. Di sinilah makna kesetiaan sebagai pemberian diri dalam arti mampu mengendalikan kehendak dan keinginan pribadi.

“Pertahankanlah, hai Yoseph, bersama Maria istrimu, keperawanan anggota-anggotamu, karena dari kesucian anggota-anggota itu dilahirkan kuasa malaikat. Biarlah pasanganmu Maria menjadi ibu Kristus dalam daging, dengan mempertahankan keperawanannya; Anda, bagaimanapun, juga menjadi ayah Kristus dengan menjaga kesucian dan kehormatannya.” (St. Agustinus)

Kesetiaan Sebagai Tanggungjawab:

Berawal dari panggilan Allah dan jawaban ketaatan Santo Yoseph untuk mengambil Maria yang sedang mengandung Yesus berkat karya Roh Kudus (Mat 1:24). Kesediaan Yoseph untuk mengambil Maria sebagai istrinya mengungkapkan sebuah tanggungjawab luar biasa yang didasari oleh Pengorbanan. Menanggalkan kehendak pribadi (rasa malu) dan mengikuti Kehendak Allah: ketaatan iman. Dengan kata lain; kesetiaan sebagai tanggungjawab tidak lain adalah Ketaatan Iman.

Masalah yang dihadapi pasangan suami istri sejatinya menjadi jalan untuk memperkuat tanggungjawab. Bahkan sejatinya adalah panggilan untuk mengungkapkan tanggungjawab untuk menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi dan bukannya menjadi bagian dari masalah dengan menjadikan permasalahan yang dihadapi sebagai alasan untuk melepaskan tanggungjawab.

Kesetiaan Sebagai Pengorbanan Yang Mendasari Cinta:

Dalam kacamata manusiawi, pengalaman yang dihadapi Santo Yoseph adalah pengalaman yang sangat berat. Dalam pengalaman kita, banyak juga yang tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan mereka, apalagi Santo Yoseph yang tidak pernah menyentuh tubuh Maria dan harus menghadapi pengalaman yang tidak ia duga namun dia yang harus diminta oleh Allah untuk menerima Maria, bertanggungjawab dan menjadi pelindung serta penjaga keberlangsungan hidup Maria dan bayi Yesus yang dikandung.

Dalam Injil Matius 1:19 Santo Yoseph mempertimbangkan maksudnya untuk “menceraikan atau meninggalkan” Maria ketika mengetahui Maria sudah hamil. Namun semuanya berubah, ketika Santo Yoseph lebih mengutamakan Kehendak Allah daripada keinginannya sendiri. Kekuatan Santo Yoseph ada pada kesetiaannya membangun relasi pribadi dengan Allah.

Beato Gabriele Allegra mengatakan bahwa; “Betapa rajin Santo Yoseph berdoa untuk semakin mengenal Kehendak Allah dan meningkatkan cinta pada istrinya yang tak ternoda.”

Santo Yoseph menunjukan kepada kita semua bahwa kekuatan doa sebagai kekuatan relasi dengan Allah pada akhirnya memampukan pengorbanan yang menjadi dasar cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta dengan pengorbanan untuk melindungi dan menjaga pasangan.

Kesetiaan suami istri hanya bisa bertahan ketika ditopang oleh kesetiaan doa yang memampukan semangat pengorbanan (keberanian untuk mengorbankan waktu, tenaga dan perasaan) untuk lebih mengenal Kehendak Allah dalam diri pasangan masing-masing (mengenal kelebihan, kelemahan, sifat) dan menyuburkan cinta masing-masing pasangan.

Manila: 23 Maret 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update