-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SEKILAS TENTANG "TAMAN BACA MASYARAKAT"

Selasa, 23 Maret 2021 | 09:14 WIB Last Updated 2021-03-23T04:26:57Z
Mungkin publik Manggarai Barat tak terlalu familiar dengan istilah Taman Baca Masyarakat (TBM). Tetapi, sebenarnya apa yang disebut sebagai TBM itu sudah 'beroperasi' di Mabar meski skala dan intensitasnya masih rendah. Hemat saya istilah TBM itu merupakan 'nama lain' dari perpustakaan publik. Nama boleh beda, tetapi esensinya sama, yaitu tersedianya 'tempat baca' dengan koleksi pustaka yang terbuka untuk dikonsumsi oleh khalayak pembaca yang lebih luas.

TBM itu bisa dikelola oleh badan khusus dalam pemerintahan. Tetapi, biasanya TBM ditangani oleh para pegiat literasi yang bergerak di luar sistem birokrasi pemerintahan. Mereka adalah kumpulan individu yang membaktikan dirinya untuk memfasilitasi dan mengkreasi ruang bagi masyarakat dalam 'membaca dan mencari informasi melalui media pustaka' dengan mendirikan TBM di lokasi yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat.

Benar bahwa buku tidak lagi menjadi 'satu-satunya' opsi untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang berkualitas, tetapi bagaimanapun juga peran buku sebagai 'pembuka cakrawala berpikir dan memperluas imajinasi kreatif', tetap tak terbantahkan. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan peradaban di berbagai belahan dunia, tidak terlepas dari 'tingginya animo manusia' dalam melahap buku-buku bermutu dan serentak terpacu untuk memproduksi karya literer yang bermutu juga. 

Kita tahu bahwa 'minat baca buku' pada masyarakat Indonesia umumnya dan Mabar khususnya, masih tergolong rendah. Boleh jadi salah faktor 'rendahnya minat baca' tersebut adalah minimnya stok bacaan dan tempat membaca yang nyaman. Bagaimana mungkin publik membaca buku sementara harga buku sulit terjangkau dan perpustakaan umum relatif jauh dari publik?

Atas dasar itu, Negara 'terpanggil' untuk menggerakkan pelbagai elemen masyarakat untuk secara bersama-sama membentuk dan mengelola Taman Bacaan yang bisa digunakan secara bebas oleh masyarakat. Upaya menciptakan TBM di semua Propinsi sebetulnya sudah berjalan cukup lama. Sayangnya, Popinsi NTT sangat 'telat' merespons prakarsa Negara tersebut. 

Bahkan masih ada Kabupaten di NTT (termasuk Mabar) yang belum mempunyai TBM dengan para pengelola yang berkompeten. Saat ini, pihak Propinsi begitu getol 'merekrut' para calon pengelola TBM di Mabar yang akan tergabung dalam sebuah wadah tidak resmi, Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). Tentu, ini sebuah 'keteledoran' yang patut diratapi.

Untuk diketahui bahwa program TBM dimulai sejak tahun 1992/1993. Kehadirannya merupakan pembaharuan dari Taman Pustaka Rakyat (TPR) yang didirikan oleh Pendidikan Masyarakat pada tahun 1950-an. Program TBM ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan TBM sangat penting sebagai sarana belajar masyarakat.

Jadi, TBM merupakan sebuah lembaga yang menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai tempat penyelenggaraan pembinaan kemampuan membaca dan belajar. Selain itu, TBM juga merupakan tempat yang digunakan untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat, khususnya yang bersumber dari bahan pustaka. 

Bahan pustaka itu sendiri merupakan semua jenis bahan bacaan dalam berbagai bentuk media. Karena pentingnya TBM ini, diperlukan para pengelola.  Mereka yang menjadi pengelola adalah orang-orang yang memiliki dedikasi dan kemampuan teknis dalam mengelola dan melaksanakan layanan kepustakaan kepada masyarakat. 

Dengan kata lain, para pengelola TBM adalah individu yang benar-benar memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam memberikan layanan pustaka. Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya kegiatan TBM ini adalah membangkitkan dan meningkatkan minat baca sehingga tercipta masyarakat yang cerdas. TBM juga bisa menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat agar semakin 'melek literasi'.

Tulisan ini bermaksud memaparkan 'sekelumit' isu elementer TBM yang saya ramu dari pelbagai sumber. Tentu, harapannya refleksi sederhana ini bisa menjadi acuan bagi para calon pengelola TBM untuk memantapkan pilihannya sebagai agen penggerak literasi di tanah Mabar ini.

Tujuan Pembentukan TBM
Telah disinggung sebelumnya bahwa TBM itu merupakan 'nama lain' untuk perpustakaan publik. Karena itu, deskripsi soal tujuan berdirinya TBM tentu tidak terlepas dari tugas dan fungsi dari sebuah perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan didirikan atau taman bacaan masyarakat itu mempunyai kegiatan utama yaitu mengumpulkan semua sumber informasi dalam berbagi bentuk entah tertulis (printed matter), terekam (recorded matter) atau dalam bentuk lain.
 
Selanjutnya, semua informasi tersebut diproses, dikemas, dan disusun untuk disajikan kepada masyarakat yang diharapkan menjadi target dan sasaran akan menggunakan taman bacaan tersebut. Oleh karena itu penyelenggaraan taman bacaan tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Ada beberapa tujuan terbentuknya TBM. Pertama, menjadi tempat mengumpulkan atau menghimpun informasi.  Taman bacaan masyarakat tersebut mempunyai kegiatan yang terus-menerus untuk menghimpun sebanyak mungkin sumber informasi untuk dikoleksi.

Kedua, sebagai tempat mengolah atau memproses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu seperti registrasi, klasifikasi, katalogisasi serta kelengkapan lainnya, baik secara manual maupun menggunakan sarana teknologi informasi, pembuatan perlengkapan lain agar semua koleksi mudah digunakan.

Ketiga, menjadi tempat memelihara dan menyimpan. Artinya ada kegiatan untuk mengatur, menyusun, menata, memelihara, merawat, agar koleksi rapi, bersih, awet, utuh, lengkap, mudah diakses, tidak mudah rusak, hilang, dan berkurang.

Keempat, sebagai salah satu pusat informasi, sumber belajar, penelitian, preservasi serta kegiatan ilmiah lainya. Memberikan layanan kepada pemakai, seperti membaca, meminjam, meneliti, dengan cara cepat, tepat, mudah dan murah.

Kelima, membangun tempat informasi yang lengkap dan ”up to date” bagi pengembangan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku/ sikap (attitude).

Keenam, merupakan agen perubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Dalam konsep yang lebih hakiki eksistensi dan kemajuan TBM menjadi kebanggaan dan simbol peradaban kehidupan umat manusia.

Koleksi Pustaka dalam TBM
Sebuah TBM pasti memiliki koleksi pustaka yang sangat relevan atau berkaitan dengan kebutuhan masyarakat pembaca. Koleksi taman bacaan masyarakat yang memadai, baik mengenai jumlah, jenis, dan mutunya, yang tersusun rapi, dengan sistem pengolahan serta kemudahan akses atau temu kembali informasi, merupakan salah satu kunci keberhasilan perpustakaan. 

Oleh karena itu TBM perlu memiliki koleksi bahan pustaka yang relatif lengkap sesuai visi, misi, perencanaan strategis, kebijakan, dan tujuannya. Koleksi bahan perpustakaan yang baik adalah dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan pembaca. Kekuatan koleksi pustaka ini merupakan daya tarik bagi pemakai, sehingga banyak dan lengkap koleksi bahan pustaka yang dibaca dan dipinjam, akan semakin ramai pengunjung TBM dikunjungi masyarakat dan makin tinggi intensitas sirkulasi buku.

Akhirnya makin besar pula proses transfer informasi (transfer of information) dan di sini taman bacaan berfungsi sebagai media atau alat serta jembatan perantara antara sumber informasi dengan masyarakat pemakai. Dengan demikian maka informasi ilmu pengetahuan yang dibaca, digali, ditemukan di perpustakaan dapat dikaji, diteliti, dikembangkan, disalurkan dan disebarluaskan secara terus-menerus tanpa ada habis-habisnya.

Ada beberapa fungsi yang menjadi target tersedianya koleksi pustaka yang memadai tersebut. Pertama, fungsi pendidikan. Untuk menunjang program pendidikan dan pengajaran, koleksi bahan pustaka yang sesuai atau relevan dengan jenis dan tingkat program studi, sangat membantu memperlancar proses pembelajaran.
Kedua, fungsi penelitian. Untuk menunjang program penelitian perguruan tinggi, perpustakaan menyediakan sumber informasi tentang berbagai hasil penelitian dan kemajuan ilmu pengetahuan mutakhir.

Ketiga, fungsi referensi. Fungsi ini melengkapi fungsi di atas dengan menyediakan bahan-bahan referensi di berbagi bidang dan alat-alat bibliografis yang diperlukan untuk menelusur informasi.
Keempat, fungsi umum. Perpustakaan masyarakat juga merupakan pusat informasi bagi masyarakat di sekitarnya. Fungsi ini berhubungan dengan program pengabdian masyarakat dan pelestarian bahan pustaka serta hasil budaya manusia yang lain.

Oleh karena itu, pengelompokan bahan pustaka di TBM terdiri atas: Koleksi pokok/dasar, Kelompok pelengkap, Koleksi pelengkap dan Koleksi penunjang.

Pengadaan Bahan Pustaka
Kita tiba pada diskusi seputar 'pengadaan koleksi pustaka yang beragam di atas'. Problemnya, hemat saya tidak terletak pada 'cara mengadakan sejumlah koleksi yang dibutuhkan', tetapi apakah pengelola TBM memiliki modal finansial yang cukup untuk membeli dan mendatangkan pelbagai jenis pustaka tersebut. 

Tak bisa dibantah bahwa pengadaan bahan pustaka adalah salah satu kegiatan utama yang dilaksanakan oleh bagian pelayanan teknis. Pada bagian ini dilaksanakan perencanaan penambahan koleksi, seleksi bahan pustaka, membuat ketentuan tentang prioritas koleksi yang akan ditambah (dibeli). Tetapi, untuk menyukseskan semua kegiatan itu, tentu butuh biaya yang besar. Ini menjadi persoalan elementer yang pasti dihadapi oleh pegiat TBM pemula seperti di Mabar.
 
Sekadar untuk diketahui bahwa pengadaan bahan pustaka dilaksanakan melalui beberapa cara. Pertama, pembelian. Prosesnya bisa melalui pembelian langsung dan bisa juga melalui pemesanan kepada penerbit, toko buku atau agen, baik pemesanan secara tetap (standing order) atau sesuai kebutuhan.

Kedua, tukar menukar. Cara seperti ini  biasanya dilakukan dengan perpustakaan atau lembaga lain. Untuk melakukan cara ini perpustakaan harus mempunyai bahan pustaka yang dapat ditukarkan, seperti terbitan perpustakaan atau diambil dari lokasi yang jumlah kopiannya berlebih.

Ketiga, bisa berupa hadiah dari siswa yang telah tamat, dari penerbit atau lembaga lain.  Penambahan dengan menggunakan cara ini memang lebih ekonomis, tetapi sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan bahkan kadang-kadang sudah kedaluwarsa.

Keempat, titipan. Perpustakaan kadang-kadang memperoleh titipan bahan pustaka dari perorangan atau lembaga lain agar bisa dimanfaatkan oleh pemakai perpustakaan. Dalam hal ini perpustakaan sekedar menjaga keberadaannya tanpa memikul risiko.

Epilog
Sampai pada titik ini, secara teoretis bisa disimpulkan bahwa TBM dalam dirinya sendiri memiliki 'tujuan yang luhur'. TBM adalah salah satu instrumen ideal untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin intens menggauli kultur literasi.

Akan tetapi, dalam praksisnya, pembentukan TBM di Kabupaten Mabar kemungkinan menemui kendala yang cukup serius. Persoalan utama adalah besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk  membiayai semua kegiatan teknis TBM termasuk membangun 'tempat yang layak' dan mendatangkan pelbagai jenis koleksi pustaka bermutu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, minimnya pengalaman dan kompetensi dari para pengelola, tentu berpotensi terganjalnya visi pembentukan TBM itu sendiri. Para pengelola yang 'tergabung dalam komunitas TBM' itu hanya berbekalkan tekat dan nekat. Pengetahuan dan skill teknis soal pengelolaan sebuah TBM, tentu masih jauh dari harapan.

Kendati demikian, pelbagai problem itu relatif bisa teratasi jika semua pemangku kepentingan di Mabar, mulai dari Pemda, DPRD, lembaga pendidikan, LSM, pers, pengusaha, dan para pegiat literasi  bisa bersinergi dan berkolaborasi secara produktif dalam membumikan gerakan menghidupkan kultur 'baca-tulis' di tanah wisata ini.

Oleh: Sil Joni
Tulisan ini sudah dimuat di media-warta-nusantara.id
×
Berita Terbaru Update