-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SINETRON INDONESIA

Sabtu, 27 Maret 2021 | 21:01 WIB Last Updated 2021-03-27T14:04:07Z
Indonesia selain kaya akan budaya, suku, ras, agama, bahasa, dan lainnya. Negeri ini, juga kaya akan judul sinetron. Karena terlalu banyak sinetron yang sudah ditonton, membuat saya “kenyang” akan alur ceritanya. Tema yang diangkat, rasanya itu-itu saja. Mentok-mentok hanya seputar cinta. Entah cinta kepada lawan jenis atau orang tua. Mulai dari cinta segitiga, perjodohan, anak yang tertukar, dan lain sebagainya. 

Mereka yang menggemari sinetron tentu harus meluangkan waktu yang panjang, demi menyaksikan setiap detik dari setiap adegan tokohnya. Kalau sehari saja tidak menonton, tentu ada rasa “bersalah” di hati dan rasanya kehilangan sekian adegan sehingga sedikit ada ganjalan yang mengganggu.

Para pemeran dalam sinetron tentu digaji dalam membawakan setiap alur dalam kisahnya. Tapi karena begitu ikut terlarut dalam alur, sering kali membuat para penonton ikutan baper dibuatnya. Sampai-sampai ada yang turut sedih, menangis, marah, kesal, dan bahkan membuat syukuran atas keberhasilan sang tokoh protagonis dalam memperoleh kebahagiaannya. Duh, segitunya? Hehehehe

Oleh karena itu, tak heran banyak para penggemarnya saat berjumpa dengan pemeran antagonis dalam kehidupan nyata, sampai-sampai melukai secara fisik si artis. Ada yang mencubit dan memukul hingga membekas, begitu kisah dari mereka pemeran antagonis. Tapi di sisi lain, tentu itu adalah sebuah pertanda baik, bahwa mereka memang benar-benar berhasil memerankan karakternya. Sehingga, penonton dibuatnya ikut terbawa rasa kesal dan marah.

Kebanyakan penggemar sinetron Indonesia adalah kaum emak-emak dan remaja. Walaupun secara logika, banyak ceritanya yang terlalu dibuat-buat, seperti halnya anak sekolah yang berdandan secara berlebihan dan berpakaian kurang sopan. Efeknya anak sekolah banyak juga yang mengikuti cara berdandan dan berpakaiannya. Lain cerita, seperti adegan saat akan ada tokoh yang ingin menjalani proses persalinan. Ia mengalami proses kontraksi hingga persalinan yang sangat singkat dan teriak-teriak ketika proses tersebut berlangsung. Padahal, ini adalah “penanaman karakter” yang salah, begitu kata beberapa dokter dalam mengritisi sinetron Indonesia.

Dalam sinetron Indonesia juga perputaran waktu begitu cepat, tahu-tahu sekian bulan kemudian atau sekian tahun kemudian. Kalau dipikir-pikir, tentu efek negatif dari ini membuat pola pikir manusia ingin cepat-cepat menuju waktu yang diimpikan tanpa melihat proses. Dengan kata lain, lebih berfokus pada hasil bukan pada proses. Maka, tak heran banyak kaum muda yang menginginkan segala sesuatu secara instan. Tapi di sisi lain, memang tidak mungkin sinetron akan menceritakan secara detail kisah dalam alurnya. Mau sampai kapan cerita itu akan tamat dan soal pembiayaan produksi tentu akan mencekik para produser beserta timnya.

Begitulah kiranya sinetron Indonesia. Walaupun dengan segala seluk-beluknya, inilah tontonan yang sering menduduki rating tertinggi acara di TV dan selalu ditempatkan pada jam-jam “penting”.

Oleh: Gabriela Fina
×
Berita Terbaru Update