-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"Surat Cinta": Nasibmu Kini

Selasa, 16 Maret 2021 | 15:19 WIB Last Updated 2021-03-16T08:22:37Z
Oleh: Sil Joni*

Menulis surat umumnya dan surat cinta khususnya sebetulnya sebuah 'tradisi yang sangat positif' dan berguna tidak hanya untuk mengasah keterampilan menulis, tetapi juga media ideal pengolahan emosi secara kreatif. Penulis buku The Secret Letter Project: A Journal for Reflection, Growth and Transformasion Through the Art of Letter Writing, Juliet Madison’s mengatakan, surat sangat istimewa terutama pada proses pembuatannya.

Menurut Juliet, kekuatan menulis surat ada pada prosesnya. Yang dimaksudkan di sini tentu saja aktivitas menulis surat secara manual. Menulis surat (dengan tangan) berbeda dengan menulis surat berbasis ketik keyboard atau tuts-tuts komputer atau Telepon pintar. Surat tertulis tangan menggambarkan upaya yang tidak sederhana.

Dalam dan melalui kegiatan 'menulis surat' itu, totalitas emosi kita terekspresi secara kreatif. Kita mengungkapkan 'rasa dan pikiran' secara teratur dan sistematis dalam media kertas. Kertas surat itu menjadi semacam 'medium penyambung rasa' antara penulis dan penerima surat.

Dengan demikian, menulis surat itu sesungguhnya punya dampak pisau bermata dua. Kedua subjek yang 'terlibat' dalam aktivitas surat menyurat itu, merasakan efek positif dari keseriusan mereka berkomunikasi melalui medium itu. Untuk si pengirim surat misalnya, menulis surat mampu memecah kebuntuan di kepala. Sekaligus melatih kelihaian menata aksara, menjadi baris kata yang meneduhkan.

Selain itu, menulis surat juga mampu melelehkan dan meluluhkan kerasnya hati si penerima surat. Bagaimana tidak meleleh, membayangkan upaya menulis surat yang tak sederhana, sseorang bisa tahu betapa besarnya perjuangan si pengirim surat. Boleh jadi, sikap si penerima 'berubah total' ketika surat itu mendarat di hatinya.

Aneka ekspresi rasa akan terlihat ketika membaca dan mengetahui 'isi sebuah surat cinta'. Ada yang tertawa, senyum, mata berkaca-kaca, melompat kegirangan dan dengan penuh semangat menceritakan isi surat itu kepada sahabat atau orang terdekatnya. Tetapi, tidak sedikit yang kecewa, marah, jengkel, menangis, membanting diri, tidak bisa tidur, stres dan beragam ekspresi lainnya ketika sang pacar mengirim 'berita buruk' dalam sepucuk surat itu.

Sayang sekali, kisah romansa penulisan surat cinta di atas, hanya tinggal kenangan. Pesatnya perkembangan teknologi digital dan elektronik, menyebabkan tradisi menulis surat cinta dengan tangan di atas kertas, sudah tersingkir. Kita jarang melihat, mendengar, dan membaca 'surat-surat cinta' dari anak remaja SMP dan SMA yang ditulis menggunakan tangan tersebut. 

Lain zaman, lain pula warnanya. Ekspresi "cinta" anak muda (remaja) termasuk dalam "warna lain" itu. Surat cinta yang sangat "akrab dengan remaja tempo doeloe, sudah tergusur dan terkubur. Mungkin karena usianya sudah usur.

Goresan ini tidak bermaksud untuk "mengajak kita" berenang dalam nostalgia masa lalu. Untaian refleksi ini hanya sebuah "ratapan plus gugatan" akan "riwayat tradisi" menulis surat cinta yang sangat fenomenal dan emosional di masa lampau.

Harus diakui bahwa "pengungkapan rasa cinta" pada era menjelang akhir mileniu II mempunyai "nuansa keindahan" yang tiada duanya. Seni dalam bercinta menjadi panorama yang sangat dominan kala itu. Medium estetika yang lazim dipakai adalah "surat cinta" dengan sekian banyak cerita manis di dalamnya.

Hampir separuh dari rasa cinta kita "tertuang" dalam "lembaran putih yang kerap ditulis sebagai "yang tidak berharga" itu. Emosi cinta kita terasah secara kreatif dalam lembaran sederhana itu.
Tradisi "menulis surat cinta" sudah punah seiring pesatnya penetrasi dan invasi produk kultur modern yang mewujud dalam wajah teknologi digital saat ini. Mayoritas anak muda (remaja) zaman now tidak tahu (bisa) menulis surat cinta secara elegan. Mereka lebih suka "mengirim pesan tanpa emosi" melalui Hp (aplikasi teknologi digital).

Tidak heran jika "kebanyakan siswa SMA/SMP tidak bisa menulis dengan baik. Mutu tulisan siswa kita sangat memprihatinkan karena memang mereka tidak terbiasa mengolah rasa melalui media tulis yang ideal dan efektif. Salam.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update