-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

URGENSI PENDIDIKAN EKOWISATA DI MABAR

Sabtu, 13 Maret 2021 | 18:14 WIB Last Updated 2021-03-13T11:22:48Z
Kekuatan utama pariwisata di Manggarai Barat (Mabar) dan mungkin di tempat lainnya, bisa dipadatkan dalam tiga anasir elementer; people, nature, dan culture. Keramahan warga lokal (sisi hospitalitas) yang dipadu dengan keindahan alam (nature) dan artefak budaya nan eksotis, membuat wilayah Mabar menjadi 'firdaus' (the real paradise) bagi para pelancong dan pencinta aktivitas petualangan.

Kemasyuran obyek turisme di wilayah ini sudah menembus sudut-sudut dunia. Poppularitas itu kian melejit ketika Labuan Bajo dan sekitarnya ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan destinasi super prioritas oleh pemerintah pusat (Pempus). Tidak hanya berhenti di situ, Labuan Bajo juga telah baptis sebagai destinasi wisata 'super premium'.

Perhatian pempus untuk mengakselerasi kemajuan pembangunan sektor pariwisata di Mabar dalam beberapa tahun terkahir begitu membanggakan. Pempus menggelontorkan dana yang fantastis guna menyediakan dan membangun infrastruktur kepariwisataan yang memadai di sini. Wajah Labuan Bajo dan beberapa spot destinasi favorit 'dipoles sedemikian' sehingga tampilannya kian memesona saat ini. 

Namun, semua skema pembangunan infrastruktur yang massif itu menjadi relatif kurang berdampak bagi publik, jika sumber daya manusia (SDM) warga lokal tidak digenjot secara serius. Pembangunan fisik harus sejalan dengan pembangunan kualitas manusianya.

Berbicara tentang proyek pembangunan manusia, sebetulnya identik dengan wacana tentang pendidikan yang bermutu. Hanya dalam dan melalui konsep dan praksis pendidikan yang berkualitas, idealisme untuk mengubah atau meningkatkan mutu SDM kita, akan termanifestasi.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa 'nature' (keindahan alam) menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Mabar. Karena itu, secara tipologis, pariwisata Mabar masuk dalam tipe pariwisata berbasis alam (ekowisata). Atas dasar itu, wacana tentang implementasi pendidikan ekowisata sangat urgen dan relevan saat ini. 

Tulisan sederhana ini coba mendiskusikan sisi urgensitas dan kemungkinan penerapan desain pendidikan ekowisata di dalam lingkungan pendidikan formal. Tesis dasarnya adalah keberhasilan aktivitas ekowisata di Mabar tidak terlepas dari tumbuhnya kesadaran dan pengetahuan dari warga lokal dan wisatawan dalam merawat dan menjaga keaslian dan kelestarian alam di sekitar area wisata.

Ekowisata: Apa Itu?
Istilah ekowisata ini memiliki riwayat kelahiran dan definisi yang kompleks. Tidak ada tafsiran tunggal yang dijadikan patokan absolut. Banyak ahli berbeda pendapat kapan istilah ekowisata ini dimunculkan. Hetzer (1965) sebagaimana disitir Fennel (1999) dan Blamey (2001) misalnya, telah menggunakan istilah yang mirip ketika ia memperkenalkan empat prinsip wisata bertanggung jawab (responsible tourism), yaitu meminimalkan dampak lingkungan, menghormati budaya setempat, memaksimalkan manfaat bagi masyarakat lokal, dan memaksimalkan kepuasan wisatawan. 

Orams (1995) dan Hevenegaard (1994) dalam Fennel (1999) menyatakan istilah itu hanya bisa ditelusuri balik pada akhir tahun 1980-an. Sedangkan yang lain (Higgins, 1996) mengatakan istilah itu bisa ditelusuri hingga akhir tahun 1970-an. Namun Fennel (1999) sendiri mengatakan bahwa pernyataan yang secara konsisten ada dalam beberapa literatur mendukung fakta bahwa Ceballos-Lascurain adalah orang yang pertama kali menggunakan frase ‘ekowisata’ pada awal tahun 1980-an.

Ceballos-Lascurain mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan ke tempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini. Definisi ini mirip dengan yang diberikan The International Ecotourism Society (1990); yaitu suatu bentuk perjalanan wisata ke areal alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat (Fandeli, 2000).

Dalam perkembangannya, ternyata bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan, sehingga menciptakan kegiatan bisnis. Ekowisata kemudian didefinisikan sebagai bentuk baru dari perjalanan bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999 dalam Fandeli, 2000). Bahkan ekowisata ini berkembang karena ada latar belakang dan minat terhadap pendidikan, yang kemudian Australian Departement of Tourism mendefinisikannya sebagai wisata berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis (Fandeli, 2000).

Dari berbagai definisi yang diinterpretasikan secara berlainan oleh para ahli tersebut, minimal ada tiga benag merah untuk memhami apa itu ekowisata. Pertama, atraksi wisata/daya tarik dominan berbasis alam (nature-based. Kedua, interaksi pengunjung dengan berbagai atraksi tersebut harus difokuskan pada belajar atau pendidikan. Ketiga, pengalaman dan manajemen produk harus mengikuti prinsip-prinsip dan praktek yang berkaitan dengan keberlanjutan ekologis, sosial-budaya, dan ekonomi (Gale dan Hill, 2009).

Pendidikan Ekowisata: Sebuah Urgensi
Sebetulnya, konsep dan praksis pendidikan ekowisata bertumpu pada aktivitas pembelajaran yang berbasis keutuhan dan kelestarian ekologis. Harus disadari bahwa obyek wisata alam itu sangat rentan atau berisiko jika tidak 'dirawat' dengan baik. Untuk itu, kita mesti merancang sebuah proses pendidikan yang berfokus pada peningkatan kesadaran kepada warga lokal maupun para wisatawan untuk terlibat dalam usaha 'menjaga keaslian dan keindahan pelbagai spot wisata alam di Mabar.

Hemat saya, dalam pelaksanaannya, pendidikan ekowisata bisa diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Para pemangku kepentingan di bidang pendidikan bisa mendesain konten kurikulum dan praksis pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan sikap dan perilaku siswa terhadap alam. Para peserta didik mesti diarahkan secara sistematis untuk membangun pola relasi yang harmonis dengan alam khususnya tempat yang memiliki daya tarik wisata tersebut.

Dalam tahap implementasinya, kita bisa menjadikan lingkungan atau obyek wisata alam itu sebagai perpustakaan alam di mana tersedia materi belajar sperti air, udara, energi serta tanah/lahan, dll. Dilengkapi mentor pemandu (dalam hal ini bisa dilakukan oleh seorang guru). Peserta didik atau wisatawan umum dapat langsung memilih tema materi: manusia dan energi, manusia dan Udara, manusia dan air, atau manusia dan tanah dan lahan.

Dalam upaya mendalami materi ini peserta maupun wisatawan umum mendapatkan informasi materi secara menarik, baik melalui media langsung, seperti: pohon-pohon, sungai, bebatuan, satwa, atmosfer, dsb.
Akhir dari kegiatan perpustakaan alam ini adalah ruang diskusi. Para pengunjung telah disediakan ruang meeting/kelas, dll (pilihan disesuaikan dengan kapasitas pengunjung atau siswa.
 
Peserta didik ketika berada pada tempat ini mendapatkan akses untuk dapat belajar mandiri menggali sumber informasi ilmu pengetahuan secara langsung, dapat berupa materi limbah, pengelolaannya maupun pemanfatannya. Melalui bantuan mentor peserta didik distimulus dengan diskusi dan dilanjutkan explorasi (pencarian) objek belajar, kemudian mengenal objek dengan mengamati karakteristik, mengenal permasalahan sampai pada mencari solusi dari permasalahan tiap objek.
 
Proses ini membantu peserta didik belajar secara terstruktur. Objek wisata alam dengan pola edu-ekowisata merupakan tempat pengembangan bakat, pendidikan lingkungan hidup sedini mungkin bukan sekedar mengenalkan anak-anak terhadap permasalahan lingkungan, tetapi lebih kepada mengembangkan bakat baik anak, melalui penanaman cara pandang serta sikap yang benar terhadap alam. Sehingga diharapkan mereka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan (Dumouchel2003). 

Alam dengan segala komponennya merupakan media belajar paling menjanjikan dalam memperantarai aspek kognitif dengan keterampilan proses anak. Sehingga sudah saatnya sistem pembelajaran hadir sebagai tempat di mana penghargaan terhadap keunikan masing-masing peserta didik dimulai. Diharapkan agar dengan keunikannya, para peserta didik bisa merasakan getaran hubungan kedekatannya dengan alam. Dengan begitu maka lahirlah peserta didik yang memiliki 'perasaan cinta yang besar' terhadap alam.

Pendidikan ekowisata tidak hanya tertuju kepada para peserta didik dalam sebuah lembaga pendidikan formal. Sisi edukasi dalam kegiatan berwisata sebenarnya lebih banyak dirasakan oleh para wisatawan. Ceballos-Lascurain, penemu istilah ekowisata, pernah berkata: “Poin utamanya adalah bahwa orang yang melakukan ekowisata mempunyai peluang untuk menceburkan dirinya di alam dengan cara yang kebanyakan orang tidak bisa menikmatinya dalam rutinitas mereka, dalam kehidupan perkotaan. Orang ini akhirnya akan memperoleh kesadaran dan pengetahuan tentang lingkungan alam (natural environment), bersama dengan aspek-aspek budayanya, yang akan mengubah [mereka] menjadi seseorang yang begitu terlibat dalam isu-isu konservasi” (Sander, 2010).

Apa yang dikemukakan oleh Ceballos-Lascurain di atas menggambarkan pada kita bagaimana pendidikan yang termuat dalam ekowisata. Dengan adanya interaksi antara pengunjung dan objek, kegiatan ekowisata telah berhasil menyampaikan pesan-pesan pendidikan sehingga mereka mengalami perubahan sikap dan pandangannya terhadap lingkungan ke arah positif. Aspek inilah yang banyak dilupakan dalam banyak praktek ekowisata. Bahkan, ia banyak terlewatkan dalam banyak penelitian ekowisata sebagaimana dikatakan oleh Sander (2010).

Alam merupakan sumber ilmu yang tanpa batas. Keanekaragaman lingkungan (alam, sosial, budaya) dapat menampung pengembangan minat (sense of interest) para wisatawan. Segala sesuatu yang ada di alam dapat langsung diamati (sense of reality), diselidiki (sense of inquiry), dan ditemukan (sense of discovery). 

Oleh karena itu, pendidikan sifatnya inheren (melekat) dalam ekowisata. Ekowisata harus mencakup komponen pendidikan dan interpretasi aspek alam dan budaya suatu tempat. Pengunjung harus belajar tentang sesuatu, membangun penghargaan terhadap budaya dari tempat yang ia kunjungi, dan juga membangun sebuah pemahaman tentang sifat dan proses-proses alami tempat tersebut, sebagaimana dikemukakan Lipscombe dan Thwaites (2001).

Damayanti dan Handayani (2003) menjelaskan bahwa aspek pendidikan menjadi bagian utama dalam pengelolaan ekowisata karena membawa misi sosial untuk menyadarkan keberadaan manusia, lingkungan, dan akibat yang akan timbul bila terjadi kesalahan dalam manajemen pemberdayaan lingkungan global.

Dalam penjabaran misi tersebut seringkali berbenturan dengan perhitungan ekonomis atau terjebak dalam metode pendidikan yang kaku. Salah satu tujuan ekowisata harus mampu menjabarkan nilai kearifan lingkungan dan sekaligus mengajak orang untuk menghargai apapun yang walaupun tampaknya teramat sederhana. Pada hakikatnya dengan kesederhanaan itulah yang menjadi pedoman masyarakat sekitar kawasan wisata mempertahankan kelestarian alamnya.

Seorang ekowisatawan mungkin dapat memperoleh pengetahuan dari pembaurannya dengan lingkungan dan masyarakat. Ia cukup merasa senang ketika memasuki hutan, saat ia mendapatkan informasi tentang strata tajuk hutan, mengapa owa berteriak di pagi hari, mengapa madu hutan berwarna hitam, dan yang lain sebagainya. Atau ketika ia mengunjungi sebuah perkampungan, ia dapat melihat dan mendapatkan informasi bagaimana cara membuat gula merah, cara membajak sawah, interaksi masyarakat di pasar tradisional, dan yang lainnya. 

Begitu juga sebaliknya, masyarakat akan terdidik dengan adanya transfer pengetahuan dari ekowisatawan kepada mereka, sebagai perwujudan prinsip memberikan manfaat kepada masyarakat lokal (benefits to local communities) (Lipscombe dan Thwaites, 2001). Inilah hubungan timbal balik antara ekowisatawan dengan masyarakat lokal.

Sudah saatnya, para pemangku pendidikan di Mabar mesti berani membuat terobosan untuk menjadikan 'pembelajaran yang berlokus pada obyek wisata alam', menjadi salah satu mata ajar pilihan di sekolah. Dengan itu, generasi muda kita sudah 'dibiasakan' untuk hidup selaras alam dan bisa secara kreatif mengemas produk wisata tanpa mengabaikan unsur konservasi.

Isu pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) bisa dipertahankan jika dan hanya jika penduduk lokal, terutama generasi muda kita, memiliki basis kesadaran ekologis yang kuat. Kesadaran itu terbentuk melalui desain dan implementasi pendidikan ekowisata yang terstruktur dan berkelanjutan.

Oleh: Sil Joni
Penulis adalah Pemerhati masalah sosial dan politik
×
Berita Terbaru Update