-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bukan Drama Tapi Cinta

Senin, 19 April 2021 | 09:50 WIB Last Updated 2021-04-19T02:58:34Z
Hari ini saya bertugas sebagai sopir untuk rombongan suster-suater SSpS bersama team relawannya; mengantar dan menjemput mereka di Tasi Tolu, sisi Barat Kota Dili Timor Leste. Ini termasuk salah satu titik yang mengalami dampak langsung dan parah oleh banjir bandang Minggu 4 April yang lalu. 

Sekedar menginformasikan, tempat ini bernama Tasi Tolu merujuk pada tiga danau yang berdampingan, terpisah dari laut pantai Utara kota Dili. Namun karena hujan lebat yang melanda wilayah ini, tiga danau ini telah melebur menjadi satu, karena debit air naik. Dampak terparah adalah: ratusan rumah terendam banjir dan akses dari Kota Dili ke pemukiman di lereng bukit terputus. Untuk membantu mereka di sana pihak Bomberus mendatangkan perahu karet untuk menghantar logistik (maksnan dan air bersih) dan memuat penumpang yang ingin menyeberang. Ratusan Keluarga mengungsi.

Setelah menurunkan para suster, saya kembali ke mobil dan memarkirnya di bawa pohon. Saya masuk ke dalam mobil dan mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh DPR RI wilayah pemilihan luar negeri, yaitu Ibu Christiany dari partai Golkar. Dia menginisiasi dan merangkap menjadi admin pertemuan ini. Dia mengundang keterlibatan  WNI diaspora yang ada di Timor Leste.

Program ini dimaksudkan untuk mendengar aspirasi dari WNI yang ada di Timor Leste. Ini juga bagian dari wujud perhatian dan tanggung jawab pemerintah Indonesia terhadap warganya di rantauan. Sayangnya, niat baik ini tidak ditanggapi secara antusias oleh WNI di Timor Leste. Hal ini terbukti dari jumlah orang yang terlibat, sangat sedikit jika dibanding dengan jumlah WNI yang ada di Timor Leste.

Setelah itu saya kembali ke pinggir danau yang penuh dengan orang yang lalu lalang. Mereka terdiri dari para korban, para relawan, pihak pemerintah dalam hal ini Bomberus (pemadam kebakaran dan basarnas Timor Leste) pihak keamanan dan tentu saja para pengnkung. Saya memperhatikan bagaimana orang tanpa lelah membantu para korban.

Saya secara pribadi tertegun dan mengagumi seorang pria tua berambut dan berjenggot putih yang tidak tinggal diam. Siapa lagi kalau bukan KayRala Xanana Gusmao. Saya tidak pernah berhenti mengaguminya. Beberapa hari lalu, dia membuat Dili heboh dengan aksinya: rela tidur di jalan beraspal beralaskan tikar lucuh untuk memperjuangkan nasib jenasah yang diduga mati karena covid. Sekarang, dia dengan team bomberos dan relawan berjuang menyedot air danau untuk menyelamatkan masyatakat yang rumahnya terendam air danau yang enggan untuk surut. SAYA KIRA, INI BUKAN DRAMA TAPI CINTA. Tapi terserah anda menilainya.

Bravo MB Xanana
Viva Timor Leste

Oleh: Pater Wendly J. Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update