-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BUNDA MARIA PENGANTARA SEGALA RAHMAT

Rabu, 21 April 2021 | 14:47 WIB Last Updated 2021-04-21T07:47:57Z
Oleh: Pater Fidel Wotan, SMM

Makna dan Fungsi Kepengantaraan Maria

Umumnya yang namanya “mediator” berarti “pengantara” atau dengan kata lain, dia yang berada di antara dua belah pihak yang berbeda. Fungsinya cukup jelas, yakni menjadi pengantara atau perantara (penghubung) antara yang satu dengan yang lain.

Menurut Carol, sebutan “mediator” biasanya digunakan untuk menyatakan fungsi kehadiran seseorang, yakni dia yang berdiri di antara dua pribadi atau kelompok entah dalam rangka untuk memfasilitasi suatu pertukaran nilai-nilai kebaikan atau yang lebih sering dipakai untuk mendamaikan kelompok-kelompok yang berbeda. Jikalau hal ini diterapkan pada Maria, maka menurutnya, gelar “Mediatrix” seperti ini menghantar orang melihat kembali ke belakang (maknanya) pada abad VI di Timur dan abad IX di Barat. Dikatakan bahwa sejak abad XVIII gelar itu dipakai secara luas oleh umat Katolik di mana pun mereka berada. 

Masih dalam pengertian atau makna tersebut, H. Holstein mengatakan bahwa secara umum jikalau sebutan itu diterapkan pada Perawan Maria, maka kehadiran atau keberadaannya memang menunjukkan peran atau fungsinya sebagai seorang “pengantara”, di mana ia menjadi figur yang mengantarai doa-doa manusia kepada Yesus dan kita bersyukur atas rahmat yang diberikan. Dalam konteks ini, sejatinya menurut Holstein, Maria constitue un “lien” permanent (baca: menjadi seorang pengantara) yang tetap antara Yesus dan kaum beriman.

Bunda Maria mungkin dijuluki sebagai “Mediatrix” (pengantara) dapat dipahami dalam beberapa arti berikut ini sebagaimana diuraikan lebih lanjut oleh J. B. Carol. Pertama, Perawan Suci Maria digelari demikian oleh karena sebagai Bunda Allah yang mulia dan penuh dengan rahmat, Maria menempati posisi berada “di antara” Allah dan ciptaan-Nya. Atau barangkali dipahami dalam arti berikut ini. Kedua, Maria dijuluki demikian sebab bersama dengan Kristus dan berada di bawah-Nya, ia bekerjasama atau terlibat aktif dalam rekonsiliasi antara Allah dan umat manusia, sementara ia sendiri masih berada di bumi. Ketiga, bisa juga dipahami sebagai “Mediatrix” oleh karena Maria membagikan rahmat-rahmat yang Allah anugerahkan pada putra-putri-Nya. Jadi, dengan demikian melalui tiga makna yang diuraikan tersebut, kita dapat memahami bahwa apa yang menjadi “Mary’s mediation” (kepengantaraan Maria) mestinya selalu dimengerti sebagai pribadi yang berada di belakang, dan bergantung pada satu-satunya Pengantara tunggal dan utama pada Bapa, yakni Kristus. Dari sebab itu, menurut Carol salah satu fokus perhatian yang paling baik untuk memahami peran dan fungsi kepengantaraan Maria di samping kepengantaraan tunggal Yesus Kristus ialah dengan melihat fungsinya sebagai “dispensation of graces” atau dalam bahasa Italia “dispensatrice di tutte le grazie” (pembagi: dia yang menyalurkan segala rahmat dari Allah).

Masih menurut Carol, tatkala kita mengatakan bahwa Bunda Maria itu “Mediatrix” sebagai penyalur rahmat-rahmat, maka yang dimaksudkan ialah segala kebaikan dan aneka berkat yang dikurniai (diberikan) oleh Allah bagi segenap ciptaan-Nya itu semua dianugerahi dalam kebajikan dan atas dasar campur tangan Maria. Maka dalam konteks ini, sebetulnya tindakannya itu memiliki dimensi yang universal, yakni meliputi segala makhluk yang di surga dan di bumi dengan pengecualian pada Kristus sendiri dan dirinya (Maria).

Carol mencatat bahwa seringkali Tradisi Katolik melihat Bunda Maria sebagai “channel” (saluran), “aqueduct” (keran), atau “treasurer” (bendahari) rahmat Ilahi. Menurutnya, tentu saja semua istilah ini merupakan metafor dan oleh karena itu tidak boleh dipahami secara literer seakan-akan Maria adalah instrument fisik dari rahmat itu sendiri. Justru, harus dimengerti sebaliknya, dia bukanlah demikian adanya. Dikatakan pula bahwa cara di mana Maria menampakkan perannya melalui kepengantaraannya sangatlah unik atau khusus. Berkenaan dengan semuanya ini, Carol menulis:

“It is not necessary that we explicitly implore her intercession in our prayers. But whatever we mention her or not, it is through her that we receive whatever we receive. Since she is our loving Mother in the supernatural realm, she knows our needs and wishes to help us in all of them; and since she is the Mother of God, her prayer on our behalf cannot but be most powerful and efficacious.”

Bagi Carol, sebetulnya entah melalui Maria atau tidak, setiap orang dapat menerima yang seharusnya ia terima (rahmat dan berkat surgawi) dalam dan melalui peran Maria. Dialah sosok yang mengetahui dengan baik segala kebutuhan dan kerinduan manusia karena memang dia adalah Bunda Allah dan doa-doanya sangatlah powerful (penuh dengan kekuatan) dan berdaya guna bagi hidup setiap orang.

Maria Pengantara Segala Rahmat

Setelah kita dihantar melihat penjelasan singkat tentang makna atau arti “Mediatrix” dan bagaimana itu diterapkan pada pribadi Maria, maka berikut ini secara khusus kita menyelami konsep Santo Louis de Montfort (1673-1716) tentang Maria Pengantara Segala Rahmat. Pertama-tama, sesungguhnya sang “teolog klasik” ini mempertimbangkan sebuah kebenaran dasar tentang komunikasi diri Allah Tritunggal pada Maria: dia penuh rahmat dan itu juga demi kita. Orang kudus ini menulis:

“Allah Bapa telah mengumpulkan semua air dan tempat terkumpulnya air itu dinamakan-Nya laut (bahasa Latin: Maria); begitu juga tempat untuk segala rahmat-Nya dinamakan-Nya Maria. Allah yang Maha besar itu mempunyai sebuah khazanah, sebuah gudang yang berisi penuh, di mana Ia menyimpan segala sesuatu yang indah, yang gemerlapan, yang langka dan berharga, ya malahan Putra-Nya sendiri. Khazanah yang luar biasa besar itu adalah Maria. Orang-orang Kudus menyebutnya khazanah Tuhan. Dari kepenuhannya semua orang menerima bagiannya secara melimpah.”

Selanjutnya, pada nomor lain dari tulisannya yang sama, orang kudus ini menjelaskan demikian:

“Allah Roh Kudus telah memberi kepada Maria, mempelai-Nya yang setia, anugerah-anugerah yang tak terkatakan. Dia memilih Maria menjadi pembagi segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu, Maria membagi semua anugerah dan rahmat itu kepada siapa dia mau, sebanyak dia mau, seperti dia mau dan apabila dia mau. Jadi, tidak ada satu pun anugerah surgawi yang diberikan kepada manusia, yang tidak melalui tangan Bunda yang murni. Memang demikianlah kehendak Allah, bahwa kita akan menerima segala sesuatu melalui Maria. Dengan cara itu, Yang Mahatinggi mau memperkaya, mengangkat dan memberi hormat kepada Maria, karena Perawan ini, berdasarkan kerendahan hatinya yang dalam, telah menjadikan dirinya miskin, hina dan tersembunyi dalam kekosongan yang paling dalam, sepanjang hidupnya. Demikianlah pikiran Gereja dan para Bapa Gereja.”

Bagi Montfort, Maria itu disebutnya sebagai l’unique trésorière de ses trésors (satu-satunya bendahara) dan l’unique dispensatrice de ses graces (satu-satunya pembagi rahmat-Nya). Selengkapnya orang kudus ini menulis:

“Hanya Maria yang memperoleh rahmat di hadapan Allah tanpa bantuan dari salah satu makhluk biasa. Semua orang lain memperoleh rahmat hanya berkat perantaraan Maria, setelah Maria memperolehnya dari hadapan Allah. Dan hanya melalui Maria semua orang yang masih akan datang akan memperoleh rahmat. Maria sudah penuh rahmat, ketika Malaikat Agung Gabriel menyalami dia dan pada saat Roh Kudus menaungi dia dengan cara yang tak terkatakan Maria dipenuhi rahmat berlimpah-limpah. Dari hari ke hari, dari saat ke saat, Maria mengembangkan kepenuhan ganda itu sedemikian rupa, sehingga Perawan ini mencapai titik puncak perahmatan yang melampaui segala ukuran dan pengertian. Itulah Yang Mahatinggi mengangkat Maria menjadi satu-satunya bendahara dan pembagi rahmat-Nya. Dari Marialah tergantung siapa yang dimuliakan, ditinggikan dan diperkaya, siapa yang akan boleh menempuh jalan yang sempit menuju surga dan kendati apa saja berjalan melalui pintu yang sempit hidup ini. Marialah yang menentukan siapa yang boleh menerima takhta, tongkat dan mahkota kerajaan. Yesus, di mana-mana dan selalu, adalah buah dan Putra Maria. Di mana pun Maria adalah pohon yang benar yang menghasilkan buah kehidupan, ibu sejati yang melahirkan Kristus.”

Menurut pakar Spiritualitas Montfort, ajaran orang kudus itu tentang Maria seperti yang telah diuraikan sebelumnya – pengantara segala rahmat – mau menerangkan secara implisit bahwa dalam kenyataan yang paling dalam, Maria dianugerahi segala rahmat. Perawan Suci ini dianugerahi aneka rahmat ilahi oleh karena memang dia sendiri adalah Bunda Rahmat, Tuhan Yesus Kristus. Selain itu, dia dikurniai rahmat ilahi sebab dia telah memberikan persetujuan atau menjawab “ya” pada saat Inkarnasi Sang Segala Rahmat, yakni sebagai seorang yang menjadi pembicara (dia yang mewakili) seluruh umat manusia. Dalam arti inilah, maka bisa dipahami pula bahwa dalam Maria, yaitu melaluinya persetujuan yang representatif itu, Rahmat yang Menjelma menjadi nyata. Bagi P. Gaffney, sebenarnya Montfort sangatlah setia pada pemahamannya tentang dua bentuk formalitas peran Maria pada saat Inkarnasi, yakni “komunikasi diri Allah Tritunggal pada Maria” dan “Maria yang menerima dengan penuh cinta dan kebebasan rahmat melalui fiat-nya.” Jadi, bagi Gaffney sebetulnya apa yang tampak dari kedua bentuk ini merupakan satu realitas yang sama, yakni dinamisme cinta. Artinya melalui cintalah, Allah mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia lewat seorang wanita, yakni Maria. Melalui cinta yang sama pula, Maria menanggapinya dengan memberikan persetujuannya (fiat) pada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus.

Maria Bunda Pengantara karena Penuh Rahmat

Sebagaimana yang sudah diketahui, sebutan “Mediatrix” mengandung makna yang cukup mendalam, tidak hanya sekedar menjadi pribadi yang berdiri di antara ke dua belah pihak, atau mengantarai yang satu dengan yang lain. Akan tetapi lebih dari itu, dalam konteks kepengantaraan Maria, sebutan itu menunjukkan identitas yang khas dan menyatakan pula suatu makna tertentu.

Maria disebut sebagai Bunda Pengantara, (Mediatrix) oleh karena ia memiliki kualitas-kualitas tertentu. Gaffney melihat bahwa Montfort menggunakan istilah “Mediatrix” untuk Maria oleh karena Perawan Suci ini “penuh rahmat”, yakni rahmat yang datang dari Allah sendiri. Dalam Surat kepada Titus, Rasul Paulus menulis: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Dalam arti ini, Yesus itu “Rahmat yang Menjelma.” Menurut Montfort, memang pada hakikatnya Allah Bapa adalah sumber dari setiap rahmat. Beliau menulis: “Allah Bapa, sumber setiap anugerah yang sempurna dan sumber setiap rahmat (red: lih. Yak 1:17), telah menyerahkan Putra-Nya kepada Maria dan demikianpun segala rahmat.” Dalam konteks ini, betul sekali jikalau dikatakan bahwa tak ada rahmat yang tidak datang dari Bapa dan rahmat itu memiliki asal-usul dari dalam diri-Nya sendiri. Karakteristik Sang Bapa pada hakikatnya menyangkut kepenuhan sumber. Maksudnya, Allah Bapa merupakan sumber mata air (rahmat). Sebetulnya Dia rindu memberikan kepada manusia rahmat yang terbesar sebagaimana yang dikatakan Montfort dalam karya kristologisnya, Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi (CKA 104). Orang kudus ini menulis: 

“Ketika Sang Sabda Abadi, Kebijaksanaan Abadi, dalam dewan tinggi Tritunggal Mahakudus mengambil keputusan menjadi manusia … Ia memberitahu kepada Adam … dan berjanji kepada para Bapa Bangsa yang tua … bahwa Ia akan menjadi manusia untuk menyelamatkan dunia. Oleh karena itu, selama 4000 tahun yang lewat setelah penciptaan dunia, semua orang kudus Perjanjian Lama berdoa dan memohon kedatangan Mesias dengan doa yang terus-menerus. Mereka mengeluh, menangis dan berseru: “Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas. Baiklah bumi bertunaskan keselamatan” (Yes 45:8). Namun seruan mereka mohon bantuan, doa-doa dan kurban mereka tidak cukup berkuasa untuk menarik Kebijaksanaan atau Putra Allah keluar dari rahim Bapa-Nya. … Terus menerus mereka malahan mempersembahkan hatinya kepada Allah, namun hati mereka pun tidak cukup berharga untuk memperoleh rahmat istimewa ini.”

Intisari dari rahmat Allah ialah Yesus Kristus itu sendiri, Sang Kebijaksanaan Abadi dan Menjelma. Montfort malahan mengatakan bahwa Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan yang Menjelma adalah sang Rahmat itu sendiri. Di dalam Dia terdapat segala harta hikmat dan pengetahuan ilahi (Kol 2:3). H. J. Jünemann melihat bahwa Montfort memandang Yesus Kristus sebagai “pernafasan Bapa, penuh rahmat dan kebenaran.” Di dalam Kristus, rahmat Allah menjumpai kemanusiaan secara pribadi. Hal ini dapat dilihat pula dalam Kidung yang dilantunkan Montfort: “the true treasure / of the grace of Jesus Christ; this Heart calms his anger, / obtains his grace and his favor.” Jadi, apa yang menjadi intisari dari rahmat Allah menemukan ungkapannya secara personal. Nah, menurut Montfort, setiap keterlibatan di dalam kehidupan Allah atau setiap partisipasi aktif di dalam kehidupan Allah merupakan rahmat Kristus atau kurnia Kristus itu sendiri, Dia yang selamanya dan di mana saja selalu menjadi buah dari rahim Bunda-Nya. Dengan demikian, segala rahmat yang datang kepada kita manusia “melalui Maria.”

Montfort samasekali tidak memandang Rahmat yang Menjelma semata-mata hanya menetap atau berada di dalam Maria. Sesungguhnya, Maria berpartisipasi sebagai Bunda Allah sejauh diperkenankan pula sebagai seorang makhluk yang murni dalam kehidupan Putranya. Sejatinya, harus dikatakan bahwa Maria bukanlah sekedar instrument atau sosok impersonal yang samasekali tidak memiliki otonomi diri sebagai makhluk yang punya pengetahuan yang dengannya Sang Kebijaksanaan Abadi datang ke dunia. Justru harus dipahami demikian bahwa dialah Bunda Tuhan yang pengasih dan dipersatukan dengan-Nya oleh kasih dan pengetahuan yang unik layaknya bagi seorang ibu. Oleh karena itu, Gaffney melihat bahwa Bunda Maria sungguh-sungguh memberikan dirinya, hidupnya dalam suatu cara yang benar-benar unik atau khas. Gaffney menulis: “Yesus menyerahkan diri-Nya secara penuh kepada Maria, dan Maria juga menyerahkan sepenuhnya seluruh dirinya kepada Putranya sebab dia adalah Putra terbaik dan Maria adalah ibu yang terbaik.”

Dikatakan pula bahwa andaikata rahmat itu sesungguhnya merupakan suatu bentuk sharing dalam kehidupan Allah Trinitas, maka siapakah yang menyangkal bahwa Maria Bunda Rahmat yang tak bernoda itu ternyata ikut ambil bagian dalam kehidupan di dunia pada suatu tingkatan tertentu? Gaffney mengatakan bahwa dirahmati Allah itu sama artinya dengan mengambil bagian secara penuh dalam tingkat tertentu seperti yang dialami Maria. Dalam arti ini, dia adalah “Putri Sion” dan dalam mencintainya, Sang Penebus mencintai kita sekalian. 

Dari penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa sebetulnya Montfort sedang mengajari kita suatu doktrin yang mendalam dan solid. Baginya, Maria pertama-tama dan secara unik dikasihi dalam yang Terkasih. Mungkin maksudnya, dia sungguh-sungguh dikasihi oleh Yesus, Putranya sendiri. Di dalamnya Gereja yang ditebus melihatnya sebagai pola dan modelnya. Jadi, dalam arti yang lebih luas, apa yang menjadi cinta Trinitas bagi Maria itu jugalah cinta Trinitas bagi Gereja. Berkenaan dengan ini, Montfort mengatakan bahwa pola bertindak yang ditunjukkan oleh Yesus, Sang Kebijaksanaan pada saat penjelmaan dipegang setiap hari di dalam Gereja oleh Komunitas Allah Tritunggal. Montfort menulis:

“Pola bertindak yang diikuti ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus saat penjelmaan, yaitu datangnya Yesus Kristus yang pertama kali, tetap dipegang Mereka setiap hari di dalam Gereja secara tak kelihatan. Sampai akhir zaman, yaitu saat datangnya Yesus Kristus yang terakhir kali, Mereka akan tetap setia kepada pola yang sama.”

Sebetulnya, dengan mencintai Maria, maka Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus pun turut mencintai kita. Jadi, sebagaimana rancangan misteri-Nya, demikianlah rahasia-Nya. Dalam arti ini pula, Maria itu sungguh-sungguh menjadi “pengantara” segala rahmat. Kehadirannya bagi dunia dan manusia sangatlah diperlukan. Banyak di antara kita merindukan dan memerlukan sosok yang satu ini, dia menjadi pengantara kita pada Kristus. Doa-doanya amat diperlukan oleh semua orang yang merindukan keselamatan abadi.

Maria Menjadi Bunda Pengantara karena “Fiat”-nya

Allah dengan segala kekuasaannya memang dengan begitu mudah mengambil bagian dalam sejarah hidup manusia. Artinya kalau Dia mau menjadi manusia, itu bisa dilakukan-Nya tanpa harus menjelma ke dalam rahim seorang perawan. Akan tetapi, hal itu samasekali tidak dilakukan-Nya. Justru Dia mau menempuh jalan yang paling unik, cara yang paling memungkinkan hal itu terjadi, yakni melalui seorang manusia biasa, Maria. Penjelmaan-Nya terjadi karena inisiatif dari Allah sendiri dan inisiatif itu memerlukan tanggapan juga dari pihak manusia. Dalam arti ini, “ya”-nya Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus untuk melakukan karya keselamatan manusia mestinya ditanggapi pula oleh fiat seorang manusia, yakni Maria (bdk. Luk 1:26-38). Dengan kata lain, meminjam bahasa Gaffney, apa yang disebut dengan “Divine Love” (baca: Kasih Ilahi) menjelma menjadi daging melalui persetujuan Maria, dia yang menanggapi tawaran dan kehendak Allah atas nama seluruh bangsa manusia. Dengan demikian, menurut Gaffney dialah yang memperoleh rahmat bagi kita. 

Keterlibatan Maria secara personal dalam rencana ilahi itu sejatinya mewakili umat manusia yang memang selalu berada dalam ketiadaan atau ketakberdayaan karena dosa-dosanya dan mewakili semua mereka yang amat merindukan pemulihan hidup (baca: penyelamatan). Atas rencana ilahi tersebut,  – seperti kata Rahner – Maria pun setuju untuk dirahmati atau dikurniai oleh-Nya. Maka, dalam konteks inilah, Maria menjadi saluran rahmat Allah di mana semua rahmat itu datang kepada manusia melaluinya. Perawan suci ini menjadi pribadi yang dirahmati oleh Allah sebab ia telah menerima anugerah rahmat dari Allah secara amat istimewa melebihi semua makhluk yang lain. Sebetulnya ini tidak hanya menjadi ajaran atau pemikiran Montfort saja, tetapi juga merupakan pandangan bersama seluruh Gereja di sepanjang zaman dan kemudian dinyatakan atau ditegaskan pula oleh Konsili Vatikan II. Dalam Lumen Gentium no. 53 para Bapa Konsili berkata:

“Ia dianugerahi karunia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putra Allah, maka juga menjadi Putri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di surga maupun di bumi.”

Bagi Montfort, sejatinya Maria membagikan rahmat-rahmat bagi siapa pun (baca: kita) sebab dia sendiri memiliki kualitas diri atau keutamaan yang tinggi nilainya. Misalnya, hal itu terjadi berkat doa-doa yang memiliki daya pengaruh yang besar pada Allah, kemudian karena ia memiliki kerendahan hati yang mendalam. Semuanya itu selaras dengan kehendak-Nya. Montfort menulis:

“Doa-doa dan permohonannya begitu berpengaruh pada Allah, sehingga Yang Mahamulia selalu memandangnya sebagai perintah. Tidak pernah ia menolak doa Bunda yang terkasih karena selalu disampaikan dengan rendah hati dan sesuai dengan kehendak Allah.”

Oleh Putranya sendiri, Maria dimuliakan dan dia adalah “pengantara dari perantara” (Mediatrix of intercession). Menurut Gaffney, ini bukanlah tugas yang terberikan padanya, namun lebih dari itu sebetulnya ini berkaitan dengan kepribadiannya, sebab dia sendiri merupakan jawaban “ya” dari segala ciptaan pada Yesus, Sang Kebijaksanaan yang Menjelma itu.

Sebagai seorang misionaris yang ulung dan sangat dekat dengan orang-orang kecil dan sederhana, Montfort menggunakan beberapa sebutan atau predikat tertentu pada Maria. Melalui penyederhanaan sebutan itu, para pembaca khususnya kaum kecil, miskin dan sederhana dapat memahaminya dengan lebih baik. Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, pada Montfort pun kita menemukan hal serupa, di mana ia menyebut Maria sebagai canal, aqueduct, treasury, storehouse, dll., bahwa di dalam semuanya itu aneka rahmat yang datang dari Allah dibagi-bagikan. Misalnya, mengubah rahmat dari suatu kualitas pada sebuah kuantitas, dari berbagai bentuk kehidupan ilahi ke penerimaan akan suatu hal tertentu. Dengan mengatakan hal-hal tadi, misalnya menyebut Maria sebagai “canal” (saluran), dll., maka sebetulnya Montfort sedang memperlihatkan khazanah dan bahasa teologi pada zamannya. Jikalau diperhatikan dengan baik, apapun terminologi atau ungkapan iman dan refleksi Montfort tentang Maria atau pun bangunan spiritualitas dan teologinya samasekali tidak bisa dipisahkan dari tendensi teologi yang berkembang di zamannya. Jadi dalam konteks seperti ini, sebetulnya Bapa orang miskin ini tidak menghendaki orang-orang di zaman ini harus terpaku pada terminologi yang digunakan dan diterapkan bagi para pendengarnya di Perancis pada awal abad ke-19.

Dengan demikian, maka betul sekali jikalau dikatakan bahwa setiap zaman punya kekhasan, karakter tertentu yang membedakannya dari zaman atau periode yang lain. Teologi Montfort adalah teologi yang berkembang pada zamannya (abad XVII) dan tentu saja sangat cocok dipahami dan berlaku amat kuat pada masanya. Sekalipun demikian, itu tidak berarti bahwa teologinya dikatakan mati atau tidak lagi relevan bagi zaman ini (post Konsili Vatikan II). Justru sebaliknya, harus dikatakan bahwa teologinya masih memiliki nilai penting dan punya kontribusi tersendiri bagi kehidupan umat Kristiani di abad ini. Dalam arti ini, sebetulnya – sebagaimana yang diuraikan oleh Gaffney – setiap kebudayaan mestinya menemukan caranya sendiri dalam mengekspresikan kebenaran fundamental yang diucapkan oleh Montfort. Salah satu hal yang ia parafrasekan ialah soal keterlibatan Maria di dalam kehidupan Yesus. Di situ, Maria dilukiskan sebagai sosok yang berperan penting dalam membagikan atau menyalurkan rahmat Allah bagi manusia secara intensif. Dalam arti ini, Maria memang memberikan persetujuannya itu terhadap sang Rahmat (baca: Allah) atas nama seluruh umat manusia. Gaffney menulis: 

“Each culture must find its own way of expressing the fundamental truth Saint Louis Marie is enunciating: she who, as representative of humanity, shares most intensely in Jesus’s life, she who is the consent of the human race to the inbreaking of grace itself, is filled with grace, for us.”

Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang kepengantaraan Maria dalam perspektif Montfort di dalam konteks tadi, maka tepatlah apabila orang kudus ini berkata bahwa Maria adalah “perantara kita berdasarkan doa perantaraan.” Montfort menulis – kami mengutip dalam bahasa aslinya – “pour aller à Jésus, il faut aller à Marie, c’est notre médiatrice d’intercession.” Di pihak lain – kalau Maria dikatakan sebagai “médiatrice d’intercession”, maka Yesus sendiri adalah “médiateur de redemption”, kata Montfort. 

Yesus adalah satu-satunya Pengantara (Mediateur atau Mediator) antara Allah dan manusia (bdk. 1 Tim 2:5) sebagaimana ditegaskan kembali oleh Gereja dalam dokumen Lumen Gentium no. 60. Para Bapa Konsili berkata:

“Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul, “Sebab Allah itu esa dan esa pula Pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1 Tim 2:5-6).”

Dengan mengatakan demikian, maka jelas sekali kepengantaraan Maria selalu bersifat subordinatif, artinya selalu dan tetap bergantung pada kepengantaraan tunggal Yesus Kristus. Konsili malahan dengan tegas mengatakan bahwa peran keibuan Maria terhadap umat manusia samasekali tidak menyuramkan atau mengurangi kepengantaraan Kristus yang tunggal itu. Malahan dikatakan bahwa justru itu menunjukkan kekuatannya. Dengan kata lain, justru kepengantaraan Maria yang digagas Konsili menegaskan secara lebih kuat kepengantaraan Yesus Kristus. Kepengantaraan Maria dengan demikian bertumpu pada kepengantaraan Putranya sendiri dan ikut mendukungnya. Para Bapa Konsili berkata:

“Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan Ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh ini bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung padanya, dan menimba segala kekuatannya darinya. Pengaruh itu samasekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.”

Jikalau melihat tekanan biblis dan Magisterium atas kepengantaraan Maria di samping kepengantaraan tunggal Yesus pada Allah, maka sebetulnya posisi Montfort cukup jelas. Sekalipun dia menggunakan gaya bahasa Barok, yang kental dengan teologi di zamannya, ia samasekali tidak memisahkan Maria dari eksistensinya sebagai seorang makhluk ciptaan Allah. Selain itu, Montfort juga tetap mengakui dan mengatakan – sejalan dengan Magisterium Gereja – bahwa Perawan Maria pun ditebus oleh Kristus, Putranya sendiri. Menurut pemahaman Gaffney, hanya di dalam konteks Pengantara penebusan (Mediator of redemption), Sang Kebijaksanaan Abadi dan Menjelma, pada hakikatnya Maria dipandang sebagai seorang “Mediatrix”, seperti yang secara tepat diajarkan oleh Konsili Vatikan II.

DAFTAR BACAAN

Magisterium Gereja:

Dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, Jakarta 2002.

Buku dan Artikel:

Carol, J. B., “Dogmas Marian”, dalam Alfhonse Bossard (ed.), Dictionary of Mary, Catholic Book Publishing Corp, New Jersey 1997.

De Montfort, Louis-Marie Grignion Traité de la vraie devotion à la Sainte Vierge, n. 86, Shalom, Roma 2017.

______, The Hymns of St. Louis Marie de Montfort, God Alone II: Montfort Publications, Bay Shore, NY 2005.

Gaffney, P., “Mary”, dalam Stefano De Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

Holstein, H., “Médiatrice”, Petit Vocabulaire Marial dans A. Bossard (sous la direction), Desclée De Brouwer, Paris 1979.

Jünemann, H. J., “Grace”, dalam Stefano De Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

Rahner, K., Mary, Mother of the Lord: Theological Meditations, Herder and Herder, New York 1964.
×
Berita Terbaru Update