-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

COVID-19 DAN CINTA PADA SANG KEBIJAKSANAAN TERSALIB [Sebuah Catatan Reflektif]

Senin, 05 April 2021 | 12:39 WIB Last Updated 2021-04-09T08:26:59Z
Oleh: Pater Fidel Wotan, SMM

Pengantar

Penderitaan bukanlah sebuah pengalaman yang dengan gampang diterima oleh kebanyakan orang. Penderitaan lebih-lebih merupakan suatu pengalaman yang dinilai negatif dan harus dihindari. Bagi banyak orang apa yang disebut dengan penderitaan adalah hal yang tidak menyenangkan dan patut disingkirkan. Penderitaan malahan dilihat sebagai “musuh” yang harus dilawan. Ilmu kedokteran modern memproduksi setiap hari berbagai jenis obat baru untuk meringankan penderitaan. 

Namun Allah yang diimani umat Kristiani adalah “Allah yang menderita”, Dialah hamba Tuhan yang menderita (Yes 52:13-53:12). Dalam injil kita membaca: “kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk 6:27). Dari pada disingkirkan dari penderitaan manusiawi, Allah menunjukkan dalam kedatangan Yesus yang lahir dari Perawan Maria bahwa Ia tertarik mengalami penderitaan. Allah menjelma dan mendarah daging dalam manusia untuk dapat memahami penderitaan mereka. Allah menjadi manusia dalam penjelmaan Yesus supaya mengenal arti penderitaan. Penderitaan itulah yang mau dirangkul dan dihidupi oleh Sang Kebijaksanaan Tersalib.

Yesus Putera Allah yang Tunggal menemukan penderitaan sebagai sesuatu yang suci dan mulia. Sebagai manusia, Yesus tidak mengejar penderitaan secara aktif, tetapi apa yang dihadapi-Nya dirangkulnya sebagai sesuatu yang suci. Ia menghadapi penderitaan dengan cinta kasih dan merangkul, menciumnya dan membuatnya bernilai keselamatan. Ia mencintai Salib-Nya bahkan sudah sejak masuk dalam rahim ibu-Nya. Seluruh hidup-Nya sendiri malahan ditandai dan dipenuhi dengan Salib dan penderitaan.  Itulah sebabnya mengapa Santo Louis de Montfort (1673-1716) mengatakan bahwa Yesus Kristus begitu menyatu dengan Salib-Nya: “tiada Salib tanpa Yesus, dan tiada Yesus tanpa Salib ... Salib adalah Kebijaksanaan, dan Kebijaksanaan adalah Salib.” Melalui cinta kasih, pada dasarnya penderitaan itu menjadi “sarana keselamatan.”

Dengan tidak menyayangkan Putra-Nya sendiri dan dengan tidak meluputkan-Nya dari semuanya yang berkaitan dengan keadaan manusia, kecuali dari hal dosa, Allah menciptakan kemungkinan bagi setiap manusia mengambil bagian dalam hidup ilahi untuk selama-lamanya. Penderitaan apapun yang dialami manusia adalah hal yang tak terelakkan. Melalui penderitaannya  sendiri, seorang manusia dirangkul dalam cinta kasih Allah. Jikalau penderitaan Yesus di Salib mendekatkan Dia pada Bapa-Nya, maka penderitaan setiap pengikut Kristus berguna untuk mendekatkannya pada Allah. Memang, tak ada seorang atau apapun yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus pada Salib-Nya.

Dunia dalam Isolasi Pandemi Covid-19

Dalam buku, Membongkar Derita (Ledalero, 2006), Pater Budi Kleden, SVD (Sup. General SVD saat ini) berkata: “Salah satu akibat dari keburukan adalah penderitaan.” Sesungguhnya apa itu “penderitaan”? Seringkali penderitaan itu sukar diartikulasikan secara gamblang dan seperti kata Pater Budi: “penderitaan memang sulit didefinisikan.” Namun yang pasti menurutnya, “penderitaan dialami oleh makhluk hidup yang dapat merasa sakit entah secara fisis maupun mental.” Oleh karena itu, tepatlah apabila dikatakan demikian: “Penderitaan adalah rasa sakit yang dialami manusia sebagai efek langsung dari sesuatu yang merugikannya.” Seringkali kita menyaksikan dan barangkali kita sendiri pun turut mengalami  “penderitaan” datang menimpa diri kita. Mungkin kita sekalian menderita karena kehilangan orang-orang yang dicintai; keluarga, orang tua, kakak-adik, sahabat dan kenalan atau pun kita kehilangan konfrater, konsuster kita terutama akibat covid-19 selama pandemi ini. Sebagai umat Kristiani dan juga sebagai bagian dari komunitas dunia, kita sekalian pasti merasa kehilangan mereka yang begitu dekat di hati kita. Kita merasa sehati-sejiwa dengan mereka yang telah mendahului kita dan kita sudah menunjukkan kepedulian, keprihatinan itu dengan ikut mendoakan keselamatan jiwa mereka. Ada banyak orang dan bahkan kita sendiri pun kadangkala menderita karena “ketidakadilan, tekanan, kekerasan, atau karena kehilangan sesuatu yang telah dialami sebagai sesuatu yang berarti: kesehatan, harta benda, harga diri, manusia lain.” Penderitaan itu tidak hanya meluluh datang dari luar. Ringkasnya, orang yang menderita tidak hanya disebabkan oleh pengaruh faktor eksternal dari luar dirinya, tetapi juga terjadi karena kesalahan atau perbuatannya sendiri. Pater Budi Kleden dengan sangat bagus merumuskan demikian: “Penderitaan terjadi bukan hanya karena sebab dari luar seperti tertimpa bencana alam, tetapi juga karena kesalahan sendiri: orang menderita karena perbuatannya atau sebagai akibat tindakannya yang mengecewakan dirinya dan / atau orang lain, karena kegagalan mencapai sesuatu.”

Tahun 2020-2021 bukanlah sebuah periode yang menyenangkan bagi dunia. Sejak akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan adanya virus corona (covid-19). Untuk pertama kalinya virus itu muncul di daratan Tiongkok, persisnya di Wuhan, Provinsi Hubei dan kemudian menyebar ke mana-mana di seluruh dunia. Setelah virus itu menular ke mana-mana, dunia tampak mulai panik gelisah atau takut. Satu kajian yang dilakukan para peneliti China, yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet, mengklaim kasus pertama virus corona terjadi pada 1 Desember, jauh lebih awal dari keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pihak berwenang China awalnya melaporkan bahwa kasus virus corona pertama terjadi pada 31 Desember 2019 dan banyak dari kasus-kasus awal infeksi yang menyerupai pneumonia ini terhubung dengan pasar makanan laut dan hewan di Wuhan.

Hari demi hari, virus itu seakan tidak mau berhenti mencari mangsa yang baru entah tua maupun muda. Setiap orang bisa saja menjadi target berikutnya. Manusia dan penghuni jagat raya ini “seakan tidak mampu lagi menghadapi wabah salah satu virus yang terganas saat ini, corona (covid-19).” Virus ini tidak pernah berhenti menjejakkan kakinya memasuki satu tempat ke tempat yang lain. Dia seakan tidak mau puas mendiami suatu wilayah dan suku bangsa tertentu. Ia tidak menetap di satu tempat saja. Dengan kecepatannya, ia terus “membombardir” jutaan masyarakat dunia dengan serangan-serangannya yang mematikan. Serangannya benar-benar melumpuhkan segala-galanya (segala aktivitas societas dan pelayanan publik menjadi terganggu) dan puncaknya ialah merenggut nyawa manusia. Dapat dibayangkan bahwa dalam hitungan waktu yang tak begitu lama virus itu membidik satu per satu manusia yang ada di bawah kolong langit ini.

Senjata Pamungkas dan Harapan Baru 

Ketika dunia berduka, ia seakan-akan kehilangan arah dan pegangan hidup. Teror kematian terus-menerus terdengar dan dirasakan setiap hari, setiap saat. Kematian itu begitu dekat. Dunia ini memang sedang “sakit” dan “berduka” oleh karena wabah virus tersebut memporakporandakan segalanya. Sudah seharusnya, ia perlu disembuhkan dan dipulihkan. Semua orang sepakat mengatakan bahwa wabah ini harus dilawan dan dibasmi dari muka bumi. Manusia ingin ke luar dari situasi chaos di dalam dirinya sendiri, kita sendiri pun ingin melepaskan diri darinya. Setiap orang ingin mengindari cengkeraman maut covid-19. Memang saat ini dunia sudah dan sedang berperang melawannya. Hanya saja perang melawannya adalah “perang dalam keheningan”, sebab musuh yang dihadapi “tak hadir secara kasatmata.” Lalu dengan senjata apakah dunia mampu melawannya? Barangkali dengan sikap patuh, taat pada aneka kebijakan pemerintah dan anjuran dari dunia medis (penerapan 5 M) dan mungkin dengan adanya program vaksinasi, apa yang menjadi harapan dunia, perlahan-lahan penderitaan akibat covid-19 ini dapat diatasi. 

Munculnya virus ini, di satu sisi memang membawa kerugian dan penderitaan yang besar bagi sejarah peradaban manusia di abad ini, namun di pihak lain justru membawa berkah bagi bangsa-bangsa untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaannya, menanamkan rasa kesetiakawanan atau menguatkan rasa solidaritasnya dengan saudara-saudarinya di ruang dan waktu yang berbeda. Di tengah pandemi global ini, rupanya salah satu bahasa kunci yang dapat dipakai untuk menjaga interkonektivitas antara satu dengan yang lainnya ialah “bahasa kemanusiaan” tanpa memandang apa suku, budaya dan agama atau pun golongannya.

Apakah Allah Hadir Di tengah Penderitaan?

Dalam konteks kehidupan beriman, ada yang mengatakan bahwa wabah ini terjadi mungkin sebagai sebuah bahan refleksi dan permenungan global bahwa dunia saat ini sedang diuji cinta dan kesetiaannya pada Sang Pemilik Kehidupan. Barangkali situasi chaos ini terjadi oleh karena acapkali dunia enggan mendengar suara-Nya atau kurang mengandalkan-Nya. Tapi, apakah memang Tuhan sedang menguji iman dan kesetiaan dunia (manusia) pada-Nya melalui wabah yang satu ini? Kadangkala ada yang begitu cepat beranggapan bahwa ini terjadi karena Tuhan marah, atau bencana dan malapetaka terjadi karena manusia tidak lagi berdoa dan beriman kepada-Nya. Dari situasi tersebut, terkadang muncul pertanyaan klasik a la filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) mengenai letak cinta dan kebaikan atau bahkan keadilan Allah bagi manusia (teodicea/teodisea: “theos”, Allah dan “dike”, keadilan) dan seluruh ciptaan-Nya. Pertanyaan teodicea itu mungkin dapat dirumuskan demikian: “kalau Allah ada, mengapa ada penderitaan atau kejahatan di muka bumi.” Sebagai orang beriman, mempertanyakan relasi dengan Tuhan merupakan hal yang lumrah, sebab orang beriman memiliki konsep tentang Allah yang Mahabaik, Mahamurah, Mahaadil, dsb. Kini, konsep tentang kemahabaikan Allah itu dihadapkan secara paradoks dengan realitas lain di luar diri-Nya. Adanya bencana alam atau pun seperti wabah virus covid-19 saat ini adalah suatu kondisi yang bertentangan dengan kebaikan yang ada di dalam diri Allah. 

Memandang semuanya itu, barangkali orang digerakkan untuk bertanya demikian: apakah Allah yang Mahabaik, Mahakasih itu mengendaki bencana seperti yang sedang terjadi saat ini? Lalu apa sebabnya Dia yang Mahabaik itu mengizinkan terjadi suatu bencana dalam hidup manusia? Pandangan atau pun persepsi seperti inilah yang seakan-akan “menuduh” Allah sebagai sumber malapetaka dan kejahatan. Padahal tidaklah demikian dan justru sebaliknya, Dialah yang menjadi sumber segala kebaikan, cinta dan kemurahan (bdk. Mzm 108:8-14; Rm 8:28; Luk 6:36). Memang ada yang beranggapan bahwa ini terjadi karena sebab-sebab atau faktor-faktor alamiah tanpa ada kaitannya dengan Sang Pencipta. Bagaimana persisnya jawaban atas hal ini? Sebetulnya masing-masing orang dapat merenung dan menjawab pertanyaan tersebut. Namun, yang pasti bahwa apapun latar-belakang dan sebab alamiah munculnya virus ini, kehadirannya menjadi bahan pelajaran bagi komunitas dunia agar tidak pernah melupakan arah dan tujuan final hidupnya. Dunia atau manusia sejatinya lemah dan rapuh bahkan bisa saja mengalami apa yang disebut dengan “hidup tanpa arah yang jelas.” Hidup manusia pada dasarnya pun terbatas dan siapa pun akan melewati tahapan terakhir dalam hidupnya (mati).  Setiap orang bisa saja kehilangan arah dan bahkan menjadi putus asa apabila tidak bersandar pada satu titik pijak yang penting. Alam ciptaan dan segala isi kandungannya, termasuk mahkota ciptaan tertinggi, yakni manusia tidak akan pernah abadi. Semuanya itu terbatas. Di tengah kerapuhan, dan ketidakberdayaan ini, sebagai orang beriman, Tuhan mestinya menjadi pilihan akhir dari segala macam opsi untuk bersandar dan menggantungkan harapan pada-Nya. Sebab Dialah pencipta kehidupan (bdk. Kej 1:1-31), Dialah bukit batu dan pertahanan kita dan tempat manusia berlindung (bdk. Mzm 31:4-5). Dialah sumber air hidup (bdk. Yoh 4:14) serta satu-satunya “Jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Mungkin di tengah runyamnya situasi hidup manusia dewasa ini karena adanya pandemi covid-19 atau pun aneka problem, kesulitan, konflik dan penderitaan lainnya, ada semacam gerakan global bagi umat beriman untuk menyadari kerapuhan dan keterbatasan hidup sebagai manusia di hadapan Sang Penciptanya. Geliat semacam ini, justru mendorong orang untuk mencari pertolongan dan perlindungan pada-Nya.

Berjalan Bersama Kristus Sang Kebijaksanaan Tersalib

Masa pra-Paskah yang sudah hampir berakhir saat ini, sebetulnya tetap menjadi momen yang tepat untuk senantiasa berada dan memandang Sang Kebijaksanaan yang Tersalib, Yesus Kristus. Dia telah menderita karena kita. Dalam arti tertentu, kita sekalian yang turut menderita bersama seluruh umat dunia karena pandemi ini, diundang untuk berani menyatukan semua kesukaran, kesulitan hidup selama ini dengan penderitaan dan korban Kristus di Salib. Barangkali oleh karena covid-19, kita kesulitan melaksanakan secara maksimal tugas-tugas pelayanan di paroki, di lembaga atau tempat-tempat kategorial tertentu di mana kita diutus. Sebetulnya, pandemi covid-19, bukanlah alasan untuk memalingkan diri dari Kristus yang Tersalib, tetapi justru menjadi suatu “kesempatan emas” untuk berada bersama Dia secara lebih dekat dan intim nan mesra dengan-Nya. Sekalipun “Allah itu seolah-olah tidur”, tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Ia “tidak tidur” dan justru tetap ada dan hadir dalam “buritan perahu peziarahan” kita setiap hari. Pandemi covid-19 mestinya tidak membutakan mata dan hati manusia terhadap Allah, tetapi justru menjadi dorongan untuk tetap menaruh harapan baru pada Kristus yang Tersalib, Dia yang sedang menderita bersama seluruh umat manusia saat ini. Perjalanan manusia Kristiani menuju Paskah Tuhan tidak boleh berhenti pada ruang dan kurun waktu tertentu, sebab Kristus yang Tersalib itu tetap hadir di tengah-tengah kita.

Di dalam homilinya selama Adorasi Sakreman Mahakudus (Maret 2020) pasca mulai merebaknya covid-19 yang begitu mengganas kala itu di Italia dan dunia,  Paus Fransiskus mengatakan bahwa virus corona telah menyatukan manusia di dalam kemanusiaannya sebagai saudara dan saudari. Saya mengutip kata-kata Bapa Suci: “Ci siamo trovati impauriti e smarriti, siamo stati presi alla sprovvista da una tempesta inaspettata e furiosa, ci siamo resi conto di trovarci sulla stessa barca tutti fragile e disorientati ma allo stesso tempo importanti e necessari. Tutti chiamati a remare insieme, tutti bisognosi di confortarci a vicenda. Su questa barca ci siamo tutti, tutti. Non possiamo andare avanti ciascuno per conto suo …ma solo insieme.” Beliau berkata bahwa kita sekalian merasa takut dan tersesat, kita terkejut oleh gelombang badai yang panas. Kita telah menyadari bahwa kita berada di dalam perahu yang sama, kita semua rapuh dan bingung, tetapi pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita semua dipanggil untuk tinggal bersama, semua perlu saling menghibur. Pada perahu itu kita semua hadir. Kita tidak dapat mendayung sendirian, akan tetapi kita mendayung secara bersama-sama. Dalam renungan itu, Bapa Suci menggunakan kisah para murid di atas perahu yang diceritakan oleh Penginjil Markus (Mrk 4:35-41), di mana mereka diterjang oleh badai yang tak terduga, dan Yesus tertidur di buritan. Ketika mereka memanggil Yesus, para murid sebetulnya membuktikan pula iman mereka bahwa Yesus pasti akan membantu, namun ternyata Yesus menegur mereka karena Dia tahu bahwa iman mereka masih kurang. Paus mengatakan bahwa sebetulnya para murid Yesus masih lemah dalam imannya, padahal mereka tidak pernah berhenti percaya pada-Nya. Malahan, mereka datang memanggil-Nya untuk meminta bantuan. Akan tetapi, kita melihat di sini “bagaimana” cara mereka memanggil-Nya: “Guru, apakah Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ay. 38). “Apakah Engkau tidak peduli … .” Para murid berpikir bahwa Yesus tidak tertarik akan nasib hidup mereka, tidak merasa peduli terhadap mereka. Padahal, menurut Bapa Suci, “Dia lebih dari siapa pun. Dia sangat peduli dengan kita.” 

Seperti yang ditekankan Paus, Tuhan memanggil kita sebagai manusia untuk beriman meskipun acapkali kita seperti para murid yang tidak terlalu percaya bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dan terlibat di dalam situasi (hidup) manusia. Namun sekalipun demikian, Paus mengatakan bahwa manusia tetap terdorong untuk datang pada-Nya dan tetap percaya kepada-Nya. Bapa Suci berkata: “Ci chiami a cogliere questo tempo di prova come un tempo di scelta. Non è il tempo del tuo giudizio, ma del nostro giudizio: il tempo di scegliere che cosa conta e che cosa passa, di separare ciò che è necessario da ciò che non lo è. È il tempo di reimpostare la rotta della vita verso di Te, Signore, e verso gli altri”. Jadi menurut Paus, apa yang disebut dengan saat “pencobaan” adalah “waktu untuk memilih” dan itu bukannya waktu penghakiman bagi diri kita sendiri, melainkan penghakiman kita bersama, yakni waktu untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu, waktu untuk memisahkan apa yang perlu dari yang tidak. Paus  mengatakan bahwa ini merupakan waktu untuk mengembalikan hidup kita ke jalur yang benar, yang berkenan untuk hidup kita, untuk Tuhan dan untuk sesama manusia. Kita sekalian juga bagaikan hidup dalam “perahu” itu seperti perahunya para murid Yesus tatkala berlayar di danau. 

Dunia dan hidup kita sekalian sampai detik ini boleh dikatakan masih terombang-ambing oleh berbagai macam kekuatiran dan kegelisahan, salah satu hal yang masih cukup menghantui hidup kita  sampai detik ini ialah semakin meluasnya virus corona ke sudut-sudut dunia. Meskipun demikian, seperti kata Bapa Suci, sebetulnya kita yang ada di dalam “perahu” ini (baca: hidup) tidak bisa berjalan sendiri, melainkan selalu berjalan maju secara bersama-sama (baca: mendayung perahu bersama): “non possiamo andare avanti ciascuno per conto suo …ma solo insieme”. Kesulitan dan tantangan dunia kita saat ini dengan adanya virus tersebut merupakan sebuah badai dahsyat yang telah dan sedang mengamuk serta menghantam “perahu iman kita kepada Allah.” Sekalipun demikian, saya yakin bahwa “perahu iman” ini tidak akan hancur karena Yesus ada bersama kita, Dia hadir bersama dunia, Dia tidak tidur, tetapi bangun dan menghardiknya dan dunia menjadi tenang dan aman: “Diam! Tenanglah!” (Mrk 4:39).  

Salib dalam Rangkulan Kasih Allah

Kita sekalian yang berada di penghujung masa pra-Paskah ini, barangkali bertanya ke dalam diri, sejauh manakah secara pribadi masing-masing kita telah mempersiapkan diri selama 40 hari ziarah “padang gurun” penderitaan kita apapun bentuk dan modelnya, luas dan dalamnya, dipanggil untuk ikut merefleksikan peziarahan itu bersama Kristus yang menderita; Dia berpuasa dan berdoa pada Bapa-Nya sebagai wujud kesetiaan dan cinta pada perutusan-Nya. Apakah puasa dan tobatku selama ini juga sungguh-sungguh merupakan suatu ekspresi luapan cinta yang mendalam dan bukti pengorbananku pada Kristus, Sang Kebijaksanaan yang Tersalib? Di tengah penderitaan dunia saat ini akibat covid-19, apakah yang sungguh-sungguh mendorongku secara kuat untuk merenungkan sengsara dan derita Kristus Tersalib? Santo Montfort dalam karya kristologisnya, “L’amour de la Sagesse Éternelle” (Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi) berkata: “kadangkala orang mendengar bahwa ada orang yang mati bagi sahabat-sahabatnya. Tetapi apakah kita akan pernah mendengar tentang seseorang, yang mau mati bagi musuh-musuh-Nya, kecuali tentang Putra Allah? Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.  (Rom 5:8): Tetapi Yesus Kristus membuktikan betapa Ia mencintai kita, oleh karena Ia mau mati bagi kita, walaupun kita orang-orang berdosa, demikian juga musuh-musuhNya. Hal ikhwal yang khusus dalam sengsara Yesus, ialah banyaknya, beratnya dan lamanya penderitaan-Nya. Luasnya penderitaan ini begitu besar, sehingga Dia disebut: 'Manusia, Sang penderita' (Yes 53:3). Pada Dia, dari telapak kaki sampai ke ujung kepala, tidak ada tempat tanpa luka, (Yes 1:6). Sahabat yang tercinta ini dari jiwa kita, menderita dari segala sudut secara lahir dan batin, dalam tubuh dan dalam jiwa.” (CKA 157).

Catatan Akhir

Sebetulnya, apa yang terjadi di Kalvari – jikalau kita sendiri menyukainya – merupakan suatu jalan yang ditempuh Tuhan sendiri demi membebaskan manusia dari isolasi moral-kejahatan dan kelambanan serta kedegilan hatinya. Di bawah Salib inilah, Bunda Maria yang dijadikan sebagai teladan dan model hidup beriman yang benar di tengah segala kesusahan [baca: penderitaan], ia berduka bagi Sang Putra yang sedang menghadapi ajalnya, dan menderita bagi kematian anak-anak yang meninggal karena dosa, justru di situlah ia membuka suatu misi baru untuk berada dekat dengan manusia. Misi yang diembannya ialah menjaga dan melindungi serta membawa mereka agar mampu mengenali karya para murid-Nya, karya dan tindakan Gereja dengan hati seorang Ibu yang mencari kebaikan bagi anak-anaknya. Di bawah kaki Salib, di samping Maria, setiap orang Kristiani dipanggil secara komunal untuk menyaksikan suatu pentasan atau “teater” Kasih Ilahi bagi dunia. Dari sebab itu, mengenangkan Maria yang Berdukacita (Mater Dolorosa) pada hakikatnya membuat seseorang mengenali dalamnya Kasih Allah bagi dunia. Di bawah Saliblah, kita semua pun merasakan betapa tingginya Cinta Kasih Sang Bapa dengan mengorbankan Putra-Nya dan melibatkan Maria di dalam rencana agung tersebut. Itulah sebabnya, mengapa di tengah dukacita atau penderitaan apapun, setiap orang Kristiani dipanggil untuk belajar banyak dari Maria, seorang tokoh, model atau panutan dalam menyatukan penderitaan pribadi dengan penderitaan Putranya yang terkasih. Inilah alasan sederhana mengapa orang Kristen dipanggil untuk mau merayakan hidup dan bersukacita di tengah penderitaan dan salib-salib yang dihadapinya, sebab di dalam Maria, Allah menunjukkan solidaritas-Nya yang amat besar dan cinta-Nya yang dalam bagi manusia yang malang dan berdosa. 

Pandemi covid-19 adalah sebuah bencana yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup kita. Masing-masing kita tentu turut merasakan betapa tidak mudahnya menjalani hidup secara normal saat ini sebagaimana biasanya. Dalam banyak hal kita pun terjepit dan tampaknya kehilangan “gairah, antusiasme” untuk menjalani hidup sehari-hari. Namun, bagaimana pun juga pandemi ini semestinya tidak melemahkan dan menenggelamkan cinta dan kesetiaan kita pada Allah. Pandemi ini malahan masih memberi kemungkinan baru bagi dunia dan kita sendiri untuk tetap “menganyam” kasih persaudaraan, solidaritas antara satu dengan yang lain. Meskipun kita terpisah jauh, hati dan kasih persekutuan tetap membara dan membakar semangat misioner kita masing-masing. Dalam konteks ini, kita masih memiliki sosok yang amat istimewa yang setia mendampingi dan menemani hidup kita dan dunia umumnya. Dialah Ibunda Sang Kebijaksanaan Tersalib, Perawan Suci Maria. Kehadirannya sebagai Bunda Berdukacita, Mater Dolorosa tetap menjadi simbol solidaritas pada Sang Putra yang mati di kayu Salib dan simbol solidaritas bagi semua putra-putrinya yang memerlukan Yesus. Dari pihak kita sebagai umat beriman Kristiani, mendekati Bunda yang Berdukacita ini menjadi sebuah isyarat “kasih sayang” dan tanda kedekatan, kehangatan dengannya sebagai seorang ibu yang sedang menderita karena kehilangan Sang Putra. Namun di atas semuanya itu, sebetulnya ini mengungkapkan suatu permintaan agar Maria tetap menemani kita sebagai seorang ibu dalam mendekati Kristus yang menderita dan bangkit itu untuk memeroleh “belaskasihan” dan “pengampunan” daripada-Nya, sebab dia adalah jalan yang hidup, sarana yang paling singkat, aman dan mudah untuk berjumpa dan berada bersama Putranya [Per Mariam ad Jesum].

Malang, 27 Maret 2021

DAFTAR BACAAN

Buku-buku:
De Montfort, Louis Marie Grignion, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi, Serikat Maria Montfortan, Bandung 2005.
Kleden, Paulus Budi, Membongkar Derita. Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Ledalero 2006.
Leibniz, Gottfried Wilhelm, Saggi di teodicea sulla bontà di Dio, sulla libertà dell’uomo, sull’origine del male, in V. Mathieu (a cura di), San Paolo 1994.
Renzo, Luigi, Percorsi di fede con Maria, Tau Editrice 2015.

Situs Internet
Https://www.ilfoglio.it/salute/2020/01/29/news/-il-coronavirus-senza-allarmismi-complotissmi-e-.
Https://www.vaticannews.va/it/papa/news/2020-03/editoriale-tornielli-papa-francesco-preghiera-fine-coronavirus.html.
Media Vatican Live (Video Berkat Paus Urbi et Orbi, 27 Maret 2020).
×
Berita Terbaru Update