-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DI MANA GEREJA KATOLIK?

Minggu, 11 April 2021 | 10:49 WIB Last Updated 2021-04-11T03:51:23Z
Ada satu pertanyaan yang sering muncul pada saat-saat situasi krisis, bencana atau kritis. Dimanakah Gereja katolik? Pertanyaan yang terdengar interogatif yang lebih bernada sarkasme, sinis, menyindir daripada sebuah pertanyaan murni untuk mencari jawaban yang jujur.

Tetapi biarkan saya mencoba untuk merenungkan di mana Gereja sekarang tanpa ada niat untuk terlibat dalam “ pertengkaran ide-rasa ”dengan mereka yang selalu bersikap skeptis (karena tidak ada jawaban yang cukup bagi mereka yang sering mencibir sinis), tetapi biarkan saja refleksi ringan ini untuk memperkuat iman orang-orang percaya.

Gereja adalah orang-orang terbaptis. Gereja adalah para awam. Ada pengusaha baik pria atau wanita, ada artis, aktor dan pejabat pemerintah yang jujur, pemimpin paroki dan anggota organisasi gereja, para donatur, dermawan, relawan dan warga negara yang berusaha keras untuk memberi makan mereka yang lapar. Memberi bantuan kepada mereka yang tertimpa bencana dan menguatkan mereka yang berkesusahan. Mereka semua merasa sebagai orang-orang terpilih dan selalu berusaha untuk menanggapi panggilan Allah dengan hadir dan membantu sesama mereka. Ada sabda: "Sebab aku lapar dan kamu memberi aku sesuatu untuk dimakan" (Mat 25:35).

Gereja adalah para biarawati (suster-suster) tua, muda, enerjik dan ceria yang rela berdiri berlama-lama di sekitar panasnya tunggu api di dapur umum tempat penampungan untuk  memberi dan membagikan makanan sederhana ala kadarnya kepada sesama saudara yang ada di posko-posko pengungsian. Gereja adalah para biarawati religius yang berjalan berjam-jam ditengah lumpur untuk membagikan bantuan amal kasih yang mereka punya. Gereja adalah biarawati-biarawati tua-muda yang rela memikul bungkusan bantuan dan membagikan paket makanan ke desa-desa terisolir yang tertimpa bencana. Gereja adalah para biarawati yang berjalan sambal menjunjung atau memikul beras dan kardus (dos-dos) bantuan untuk dibawa dan dibagikan pada mereka yang sangat membutuhkan. Mereka rela jadwal doa mereka diganggu. Mereka berani keluar dari kenyamanan harian mereka untuk ada bersama dengan sesama mereka yang lapar, sakit dan menderita. Mereka tidak ada dalam berita karena mereka menerima nasihat Tuhan: " Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat. 6: 3).

Gereja adalah para imam yang memberkati yang mereka yang sakit dan yang sekarat.  Mereka setia mendampingi umat-umat mereka di posko-posko penampungan. Mereka berusaha mencari cara agar setiap umat mereka yang tertimpa bencana bisa terhibur dan tersenyum. Kadang-kadang mereka berjalan dengan rosario di tangan mendaraskan doa bagi umat-umatnya. Mereka juga turun langsung untuk membagikan bantuan ala sederhananya kepada umat yang membutuhkan. Mereka tidak mau tinggal diam. Mereka meninggalkan kenyamanan pastoran karena panggilan mereka adalah menjadi "gembala yang berbau domba" (Paus Fransiskus).
Gereja adalah Paroki-paroki dan biara-biara Katolik yang menyediakan tempat penampungan sementara bagi para pengungsi, membantu mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus dan menguatkan mereka yang membutuhkan penghiburan.  Nama-nama mereka tertulis di surga karena mereka mematuhi perintah Tuhan: " Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan” (Mat. 25:35).

Gereja adalah orang-orang katolik yang berada pada garis depan pada saat-saat sulit dan kritis: para tentara (TNI) dan para polisi (POLRI). Mereka  mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Mereka rela berlama-lama dalam air dan lumpur untuk menyelamatkan sesama mereka. Mereka berani menantang derasnya arus air banjir hanya untuk satu misi yakni keselamatan. Mereka adalah tampilan wajah Gereja yang dikerahkan untuk misi kemanusiaan agung ini dan kepahlawanan mereka akan diingat untuk waktu yang sangat lama. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kemanusiaan. 

Gereja adalah Bapa Suci yang berdoa untuk kita hari demi hari, bahkan minggu lalu pada Rabu, 7 April 2021, dalam audiensi umum di Vatikan, beliau mengingat  semua korban bencana alam banjir dan badai di Indonesia (NTT) dan Timor Leste dalam doanya. Begini kutipan doa Bapa Paus: “Saya ingin mengingat dalam doa saya, para korban banjir yang melanda Indonesia (NTT) dan Timor Leste beberapa hari ini. Semoga Tuhan menyambut mereka yang meninggal, menghibur keluarga mereka dan menguatkan mereka yang kehilangan tempat tinggal.” Gereja adalah para Uskup yang melayani kawanan domba mereka. Menjaga, menenangkan dan menemani dengan cara masing-masing. “Karena di mana ada Uskup, disitu ada Gereja Katolik” (St Ignatius of Antiokhia).

Gereja adalah juga  keluarga-keluarga yang berada di tempat-tempat lain yang berdoa bersama di rumah mereka untuk sesama saudara mereka di NTT dan Timor Leste yang tertimpa bencana. Ketika bencana ini berakhir, semoga tetap ditemukan kembali bahwa rumah dan komunitas kita memang adalah "gereja domestik" sebagai rumah doa bersama, tempat hangatnya persaudaraan, dan kita  menjadi Gereja yang lebih kuat sehingga " gerbang neraka pun  tidak akan menang melawannya".

Di atas segalanya, Gereja adalah mereka yang lapar, haus, dianiaya, berkabung, berduka dan kehilangan apa yang menjadi hak milik mereka. Mereka disebut “yang diberkati” dan Kerajaan Surga adalah milik mereka (Mat. 5: 3-10).

Jadi, pertanyaan, dimanakah Gereja Katolik? Gereja ada di tempat di mana cinta itu dibagikan sebab pada akhirnya, Gereja adalah kita semua yang menerima dan berbagi baptisan, iman, dan harapan yang sama dalam kebangkitan.
Kita adalah GEREJA KATOLIK!

Oleh: Pater Doddy Sasi, cmf
×
Berita Terbaru Update