-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gereja Adalah Ibu dan Saudari

Jumat, 09 April 2021 | 15:54 WIB Last Updated 2021-04-09T08:56:44Z
Di saat-saat situasi krisis, bencana atau kritis ada satu pertanyaan yang sering muncul: Dimanakah Gereja katolik? Pertanyaan yang terdengar biasa –biasa saja tapi bernada sinis dan menyindir daripada sebuah pertanyaan murni untuk mencari jawaban yang jujur. 

Salah satu tampilan rupa cantik gereja sebagai ibu dan saudari nampak dalam aksi dan kontemplasi para biarawati (Suster-suster) dari berbagai macam kongregasi. Pertanyaan yang bisa muncul disini adalah: akan seperti apa Gereja tanpa para biarawati religus yang dikuduskan ini? Paus Fransiskus pernah mengatakan dan bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan ini. Kata Paus tanpa mereka:  “The Church would be missing maternity, affection, tenderness and a mother’s intuition” (“Gereja kehilangan hati keibuannya, kasih sayang, kelembutan, dan intuisinya sebagai seorang ibu”--Paus Fransiskus, 8 Mei 2013). Mereka hadir dan menampilkan gereja sebagai ibu dan saudari bagi sesamanya.

Kita semua tentu sepakat, Gereja adalah Umat Allah, kumpulan orang-orang terbaptis. Singkatnya, Kita semua adalah Gereja. Dalam situasi bencana banjir bandang dan badai yang melanda sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), wajah Gereja ditampilkan dengan cantik dan ceria dalam diri para biarawati (suster) dalam berbagai aksi karitatif dan kemanusiaan yang seadanya dan sederhana tapi menyentuh ke kedalaman hati setiap kita. 

Maka disini, Gereja adalah para biarawati (suster-suster) tua, muda, enerjik dan ceria yang rela berdiri berlama-lama di sekitar panasnya tunggu api di dapur umum tempat penampungan untuk  memberi dan membagikan makanan sederhana ala kadarnya kepada sesama saudara yang ada di posko-posko pengungsian. Gereja adalah para biarawati religius yang berjalan berjam-jam ditengah lumpur untuk membagikan bantuan amal kasih yang mereka punya. Gereja adalah biarawati-biarawati tua-muda yang rela memikul bungkusan bantuan dan membagikan paket makanan ke desa-desa terisolir yang tertimpa bencana. Gereja adalah para biarawati yang berjalan sambal menjunjung atau memikul beras dan kardus (dos-dos)  bantuan untuk dibawa dan dibagikan pada mereka yang sangat membutuhkan. Gereja adalah juga para biarawati yang bertugas dan melayani di pusat-pusah Rumah Sakit tempat mereka berkarya. Bayangkan. Mereka berani keluar dari kenyamanan harian mereka dalam biara untuk ada bersama dengan sesama mereka yang lapar, sakit, menderita dan membutuhkan uluran tangan. Mereka juga tidak “peduli” jam doa komunitas dan pribadi mereka diganggu. Sebab bagi mereka aksi yang dilakukan adalah sebuah doa yang tulus. Ada ungkapan: “alangkah lebih baik tangan yang membantu daripada bibir yang berdoa”. Mereka juga tidak “memikirkan” jika aksi solidaritas mereka, nyawa adalah taruhannya.  Mereka hidup dalam kekurangan dalam biara atau komunitasnya tapi dari kekurangan itu justru mereka memberinya dalam totalitas. Sebab hanya satu yang ada dalam pikiran mereka adalah misi kemanusiaan, keselamatan sesamanya adalah yang paling utama. Yang tertanam dalam hati dan pikiran mereka, keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum tertinggi. Mereka tidak ada dalam berita dan tidak ingin diberitakan karena mereka menerima nasihat Tuhan: " Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat. 6: 3).

NB: Beberapa foto ini diambil dari WAG. Foto-foto ini dibagikan bukan untuk menarik simpati tertentu, tetapi hanya untuk menginspirasi dan membantu menjawab pertanyaan: "Di mana Gereja Katolik?"

Oleh: Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update