-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Guru Mabar: Di Manakah Engkau?

Senin, 26 April 2021 | 17:45 WIB Last Updated 2021-04-26T10:47:51Z
Oleh: Sil Joni*

Tulisan ini sebenarnya lebih tertuju kepada para guru yang tergabung dalam grup diskusi facebook, Guru Mabar Menulislah (GMM). Namun, tidak menutup kemungkinan, pesannya bisa juga ditujukan untuk semua orang yang punya visi yang sama dalam menghidupkan kultur literasi di daerah ini.

Ketika pandemi Covid-19 'masuk' ke wilayah ini awal tahun 2020, sebagian guru yang mengabdi di Manggarai Barat (Mabar), khususnya mereka yang tergabung dalam grup diskusi facebook: "Guru Mabar, Menulislah (GMM)", sukses memproduksi karya literasi dalam bentuk buku. Wabah Covid-19 seakan 'menyuntikkan' energi positif bagi kelompok guru itu untuk berkreasi dan berinovasi.

Secercah fajar optimisme kian merekahnya spirit literasi di Kabupaten Mabar, mulai tampak kala itu. Mengapa? Para guru adalah ujung tombak keberhasilan gerakan literasi. Anggota grup GMM telah berinisiatif untuk berada pada garda terdepan menghidupkan tradisi literasi di Kabupaten ini.

Bulan-bulan awal pembentukan grup itu hingga waktu peluncuran buku sulung berjudul: "Guru Mabar Berkreasi di Tengah Pandemi Covid-19", Oktober 2020, gairah dan antusiasme kita dalam mengkreasi tulisan begitu mengagumkan. Grup facebook GMM tampak sangat semarak dan dinamis oleh percaturan ide yang mengalir secara bebas dalam forum itu. Semua anggota grup, berpartisipasi secara aktif. Hampir setiap hari, kita membaca buah pikir para guru itu yang diracik dalam bentuk tulisan ilmiah-populer.

Tetapi, entah mengapa spirit menulis itu mulai menurun di penghujung tahun 2020 dan bahkan saat ini kondisi itu kian memprihatinkan. Grup GMM terlihat sangat kesepian. Tulisan yang diunggah dalam wadah itu, tidak seberapa untuk tidak dibilang 'tidak ada' dalam sehari. Kita tidak lagi membaca atau menanggapi karya tulis dalam aneka gaya yang diracik oleh para guru tersebut.

Kendati demikian, saya tetap percaya bahwa para guru, anggota grup GMM memiliki potensi yang membanggakan dalam bidang baca-tulis ini. Absen menulis di kanal diskusi GMM tidak bisa dijadikan patokan soal 'tradisi berliterasi' itu. GMM hanya 'salah satu opsi' dari sekian banyak media alternatif saat ini.

Boleh jadi, menulis di grup GMM 'kurang terlalu prestisius dan bernilai' ketimbang media yang lain. Selain itu, para anggota grup tentu mempunyai akun media sosial pribadi yang setiap hari dimanfaatkan dengan sangat baik. Jadi, menulis di GMM bukan sebuah 'keharusan'. Jika 'kondisi batin' (mood) sedang bagus, mungkin ada pilihan untuk menuangkan gagasan di GMM. Tetapi, itu hanya sebuah kebetulan dan spontanitas belaka. Tidak lahir dari kesadaran yang benar-benar mengakar.

Dari ulasan di atas, jawaban  pertanyaan dalam judul tulisan ini adalah para guru Mabar itu 'masih di sini', di jalan literasi yang sunyi. Mereka tetap menyusuri lorong itu, pada titian yang variatif. Bukan hanya di GMM. Jawaban ini tentu sangat logis dan masih memberi harapan. Energi literasi para guru belum habis dan mungkin tak bakal habis.

Atas dasar itu, saya tidak bisa 'memaksa' para anggota grup untuk setia mengisi ruang diskusi virtual GMM. Tulisan ini hanya sebatas ajakan atau lebih tepat 'undangan etis' agar kalau berkenan, kita kembali 'meramaikan' ruang ini melalui tulisan seperti pada masa awal hadirnya grup ini.

Undangan ini, hemat saya, selaras dengan 'roh idealisme' yang tersemat indah dalam nama grup: Guru Mabar Menulislah. Ini sebuah imperasi etis yang semestinya selalu menyadarkan para guru untuk mewartakan ilmu dan kebenaran melalui jalur literasi. GMM, meski tampilannya sederhana, dan kurang seksi dari sisi kenaikan pangkat dan keuntungan ekonomi, tetapi bisa dijadikan alternatif untuk mengaktualisasikan potensi akademik secara kreatif dan produktif.

Maju atau matinya grup ini sangat bergantung pada 'tingkat keaktifan kita' dalam menggaulinya secara intensif. Prinsipnya adalah grup GMM berasal dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Siapa lagi yang menghidupkan grup ini kalau bukan kita? Kapan lagi kita menarik manfaat dari grup ini, kalau bukan sekarang?

*Penulis adalah anggota grup GMM. Tinggal di Watu Langkas.
×
Berita Terbaru Update