-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Homili Paus Fransiskus, Misa Krisma (Kamis Putih, 24 Maret 2016)

Kamis, 01 April 2021 | 10:50 WIB Last Updated 2021-04-01T03:50:30Z
Seperti biasa di Vatikan pada hari Kamis Putih ada dua perayaan penting. Pada pagi hari biasanya ada Misa Krisma untuk para imam. Lalu pada sore harinya ada Misa "Coena Domini". Dalam Misa Krisma pada tanggal 24 Maret 2016, Paus berbicara tentang Yesus sebagai “Tanda Pertentangan” (Sign of Contradiction) karena mewartakan Kerahiman Allah yang “tak bersyarat” (unconditional), dan “tak terbatas” (infinite). Yesus menjadi tanda pertentangan justeru karena Dia mewarkatakan belas kasih Allah ini kepada orang-orang miskin (bukan kepada orang-orang kaya), orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan (bukan kepada mereka yang punya kuasa), orang-orang kecil (bukan para penguasa). Yesus juga berjuang melawan kejahatan, musuh utama kemanusiaan, bukan demi popularitas dan kekuasaan DIRI-Nya, tetapi demi pembaruan dan pembebasan umat manusia. Maka, belas kasih atau kerahiman selalu membawa kebaruan dan pembebasan. 

Paus mengajak para imam untuk seperti Yesus, berpihak kepada kaum miskin, lemah, tertindas dan terpinggirkan. Where the Lord proclaims the Gospel of the Father’s unconditional mercy to the poor, the outcast and the oppressed, is the very place we are called to take a stand, to “fight the good fight of the faith” (1 Tim 6:12).  Para imam diundang untuk berjuang melawan musuh kemanusiaan (kejahatan) dengan berdiri pada sisi pada korban idolatria kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatan. Para imam menurut Paus adalah Saksi dan Pelayan kerahiman Bapa yang bertanggungjawab untuk menginkarnasikan dan menginkulturasikan belaskasih Allah itu sehingga dapat menyentuh setiap orang dan secara pribadi mereka dapat memeluk dan mengalaminya dalam kehidupan konkret. 

Paus juga berbicara tentang dua hal di mana Allah menunjukkan kerahiman-Nya yang berlimpah, yakni melalui perjumpaan dan pengampunan itu sendiri. Melalui perjumpaan, seperti Bapa yang Baik Hati (Luk.15), Dia berlari mendapatkan anak-Nya, memeluk, mencium, mengenakan cincin pada jarinya, memakakaikannya sepatu dan menunjukkan bahwa anak bukanlah seorang pelayan. Belaskasih memulihkan segalanya; memulihkan martabat setiap pribadi. Para imam diajak untuk tidak ragu-ragu atau takut untuk menunjukkan rasa syukur yang berlimpah atas kerahiman Allah. “Kita hendaknya seperti seorang kusta yang setelah disembuhkan, meninggalkan Sembilan temannya untuk kembali kepada Yesus, bertekuk lutut di hadapan-Nya, memuliakan Dia dan bersyukur kepada-Nya”. Allah menunjukkan kerahiman-Nya yang berlimpah ruah dalam pengampunan. Dia tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita yang tak terbilang banyaknya tetapi juga memampukan kita bergerak dari keadaan memalukan ke keadaan diri yang bermartabat, seperti Simon yang mengakui dosanya tetapi diangkat menjadi penjala manusia oleh Tuhan. Para imam perlu menghindari dua kencenderungan ini: ketika malu karena dosa, kita menyembunyikan diri dan berjalan menunduk malu seperti Adam dan Hawa, atau ketika bangga dengan martabat kita, kita menyembunyikan dosa-dosa atau kelemahan kita dan merasa bangga untuk dilihat dan pamer. Di hadapan kerahiman Allah, kita perlu menjaga tegangan yang sehat antara “rasa malu yang bermartabat” dan “martabat yang palsu”. Kita perlu belajar dari Simon Petrus yang kasihnya kana Tuhan dipertanyakan oleh Yesus sendiri, tetapi pada saat yang sama memperbarui dirinya untuk menerima pelayanan menggembalakan domba-domba yang Tuhan percayakan kepadanya. 

Para imam juga perlu mengidentifikasikan diri sebagai orang-orang buangan, yang diselamatkan Tuhan. Kadang kita buta, kehilangan kemilau cahaya iman, bukan karena tidak akrab dengan Injil, tetapi karena teologi yang rumit. Kita kadang haus akan spiritualitas, bukan karena kehilangan Air Hidup tetapi karena spiritualitas yang “dangkal”, “bubbly” Spirituality. Kita merasa terjebak, bukan karena dinding batu atau baja yang tak dapat diatasi, tetapi karena keduniawian digital-virtual yang dapat dibuka dan ditutup dengan sekali klik. Kita tertekan bukan karena ancaman atau paksaan tetapi karena ribuan iklan komersial yang membuat kita tidak bebas untuk menapaki jalan yang menuntun kita kepada cinta terhadap saudara-saudari kita, kepada kawanan Tuhan, dan kepada domba-domba yang rindu mendengarkan suara gembala mereka. 
Tuhan datang untuk menebus kita, mengeluarkan kita dari kebutaan, keterkungkungan, dan ketertindasan untuk menjadi pelayan kerahiman dan penghiburan.

Penerjemah: Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update