-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HOMO VIATOR

Jumat, 09 April 2021 | 15:30 WIB Last Updated 2021-04-09T08:38:15Z
Setiap manusia yang hidup tidak pernah memilih untuk dilahirkan ke dunia. Tidak ada diskusi sebelum dilahirkan karena memang kita adalah ketiadaan. Hanya kemudian kita lahir adalah sebuah fakta yang mau tidak mau harus kita terima sebagai yang terberi. Ada orang yang kocak menyebut kelahiran kita sebagai sebuah keterlemparan. Kita lahir seperti terlempar dari satu keadaan yang sulit dinamakan, tanpa kita ketahui sebelumnya kita ini apa, menuju ke dunia dengan kompleksitas sifat yang melekat padanya. Secara ilmiah barangkali kita sepakat dan tidak bisa diperdebatkan bahwa kita berasal dari peleburan dua komponen yang luar biasa: sperma dari ayah dan sel telur dari ibu dalam pembuahan. Pertemuan itu mungkin direncanakan namun mereka tidak pernah bisa bertanya kepada kita masing-masing (calon janin) apakah mau dilahirkan ke dunia ini atau tidak. Karena itu, kelahiran bukanlah pilihan kita.  Namun harus kita terima juga bahwa adanya kita adalah realisasi dari kemungkinan dan lahir atas dasar rencana orang lain (orang tua). 

Ketika kita sudah lahir (bahkan saat sejak ada dalam Rahim), kita adalah pribadi yang spesial dan unik. Kita membawa serta sifat-sifat bawaan kita, serta ciri-ciri biologis yang khas dan mempribadi. Tidak ada dua manusia pun yang sama, saudara kembar sekalipun. Setiap pribadi dilahirkan dengan berbagai ciri khas yang mempribadi, dan kemungkinan-kemungkinan kwalitas yang akan berkembang sejalan bersama bertambahnya usia dan tergantung lingkungan di mana kita berada dan dibentuk. Namun satu hal yang membuat kita sama adalah fakta bahwa ketika kita sudah dilahirkan kita mulai berziarah. Dalam ziarah itu, kita dihadapkan begitu banyak tawaran dan pilihan, tantangan dan peluang. 

Kelahiran membawa kita kepada kehidupan. Dan kehidupan (ziarah) memaksa kita untuk menentukan pilihan tentang arah mana yang harus kita tempuh. Bahkan hidup itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah pilihan di mana kita harus menentukan visi masing-masing. Pilihan pun masih berhadapan dengan misteri hari esok yang masih sangat kabur; hanya bisa diduga atau diprediksi namun tidak bisa dipastikan. Satu-satunya kepastian yang kita hadapi adalah kematian, ziarah menuju kembali kepada ketiadaan. Tentang menjadi apa kita besok, usia berapa kita pergi, dengan cara apa kita kembali dan hidup seperti apa yang kita capai masih merupakan tanda tanya besar atau misteri. Kadang kita menjadi seseorang yang tidak pernah kita rencanakan dan mimpikan dan malah kita bisa saja menjadi sesuatu yang melampaui ekspektasi atau harapan kita. Namun itu semua masih berada dalam kemungkinan. Satu kebenaran yang tidak bisa kita tolak adalah bahwa kita bisa merencanakan apa yang kita lakukan, namun kita tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi. 

Dalam menentukan pilihan, kadang kita terbentur dengan banyak hal seperti lingkungan yang menawarkan peluang dan tantangan. Kita juga sering bertabrak dengan mimpi atau pilihan orang lain seperti keluarga atas hidup kita. Saat kita masih kecil, orang tua sekurang-kurangnya sudah merencanakan dan memilih jalan untuk kita. Mereka mendidik kita dengan caranya, dengan satu harapan agar kita menjadi seperti apa yang mereka impikan. Mereka menentukan makanan apa yang harus kita konsumsi, pakaian apa yang kita pakai, sekolah mana yang harus kita masuki, jurusan apa yang harus kita pilih dsb. Semua itu kadang mereka pilih dengan mimpi mereka atas kita dan tidak peduli dengan mimpi-mimpi kita.

Kita memiliki mimpi sendiri. Sejak kita kecil, kita sudah memiliki harapan dan cita-cita yang terpatri dalam hati dan benak kita. Hanya dengan menonton film bersambung Wiro Sableng, saya bermimpi untuk menjadi pendekar pembela kebenaran. Setelah melihat betapa seorang bupati sangat dihormati dan disambut dengan meriah di kampung, saya juga ingin menjadi bupati. Singkatnya, setiap orang memiliki pilihan masing-masing walaupun kadang bersembunyi bahkan dikebiri di balik mimpi-mimpi orang tua. Ketika kita sudah cukup matang untuk berpikir dan memilih, pilihan pertama yang harus kita putuskan adalah apakah kita harus mengikuti pilihan orang lain atau tidak. Perang besar terjadi saat itu! Kemenangan atas perang itu menentukan menjadi manusia seperti apa kita besok hari. Jika mengikuti pilihan orang lain maka ada banyak kemungkinan yang terjadi, orang lain (orang tua) akan bahagia, orang banyak memuji kita sebagai anak yang berbakti namun kadang kala yang parahnya adalah kita tidak bahagia. Atau pun kalau dipaksa untuk berbahagia, kita malah menjadi orang lain; kebahagiaan yang kita perolah adalah semu, dan senyum yang kita miliki adalah senyum titipan. Sebaliknya, ketika kita memilih dan menentukan jalan kita sendiri tanpa dibayang-bayangi oleh mimpi orang lain, kita adalah pemenang sejati, kebahagiaan yang kita capai kelak adalah milik kita, senyum pun bukan senyum titipan orang lain. Kalaupun kita gagal menjadi apa yang kita impikan, hanya kita yang tahu nikmatnya arti kegagalan.

Fix, kita semua sudah lahir dan sedang berjalan dalam jalan kita masing-masing. Kita adalah homo viator, makhluk yang berziarah. Kita berziarah dan bersejarah pada jalan kita masing-masing. Kita menciptakan kisah kita pada buku kehidupan kita masing-masing, menapaki setiap langkah menuju masa depan yang penuh dengan misteri, tak tepecahkan, tak terdeteksi. 

Kita sedang berziarah menuju apa yang kita impikan; entahkah impian itu adalah original ataukah mimpi titipan orang lain (orang tua, atau organisasi) yang jelas kita sedang berada dalam ziarah. Sebagai makhluk yang berziarah, kita pastinya tahu aturan-aturan kehidupan yang tertulis dan tak tertulis. Dan kita berhak untuk merencanakan apa yang harus kita lakukan, mempunyai hak untuk menentukan alur kisah kita masing-masing, namun kehidupan selanjutnyalah yang menentukan apa yang akan terjadi dan apa yang mau tidak mau harus kita rangkul. Kita bisa saja bermimpi besar, namun waktu akan menjawab semuanya, kadang jawabannya adalah kekosongan atau jauh dari ekspektasi kita. 

Ada banyak kisah yang melukiskan bagaimana final berjalan lurus dengan mimpi awal. Menanam jagung pasti memanen jagung, kata petuah ibu saya dulu. Namun itu tidak berarti dengan mudah kita mencapainya. Merealisasi mimpi adalah menggusur gunung, kadang batu terguling dan menghantam kepalamu dan engkau pun terhempas. Kebahagiaan sejati malah di dapat di ujung kisah, ketika kita jatuh dan bangun lagi dan bisa berdiri di ujung perjuangan dengan berdarah-darah dan air mata, entah karena luka-duka dan pun pula karena suka. 

Ada pula banyak kisah yang berceritera tentang hal yang sebaliknya. Menanam jagung, menuai rumput. Kisah akhir dari sebuah ziarah kadang kala dan malah lebih sering mengingkari mimpi awal. Saya teringat akan sharing dari beberapa teman yang begitu kuat dalam bercita-cita ingin jadi ini atau itu namun akhirnya malah berlabuh di tempat lain dan menjalani karir yang tidak pernah ada dalam mimpinya. Awalnya susah untuk dijalankan, namun secara perlahan mereka mulai mencintai statusnya dan mulai bermimpi lagi akan satu hal yang lebih dari sekedar menjadi seseorang pada status tertentu. Ada yang ingin menjadi imam, malah menjadi guru; dan setelah menjadi guru, mereka memulai pertualangan dan berjuang untuk menjadi bukan sekedar guru, tapi menjadi guru yang baik. 

Namun hukum alam tetap berlangsung terus-menerus, kita merencanakan apa yang akan kita lakukan tapi tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi atas diri kita. Besok itu hanya bisa diramalkan atau diperkirakan, tapi tidak bisa dipastikan bahwa apa yang kita mau akan terjadi seperti itu. Masa depan hanya bisa diduga-duga, seperti orang yang mengisi SDSB atau kupon putih. Banyak perkiraan angka rejeki yang keluar, kita bisa menghayal akan mendapatkan uang yang banyak lalu berimajinasi membeli mobil baru, tapi terakhir gigit jari. Hukum alam. Itulah homo viator.

Homo viator hidup dalam banyak paradox. Salah satu paradox dari hidup itu adalah ingin menjadi diri sendiri tetapi harus hidup bersama. Manusia itu adalah makhluk yang mempribadi namun sekaligus juga makhluk social; makhluk yang sendiri tapi juga ada bersama yang lain. Mungkin kelihatan mudah untuk disesuaikan namun kadang juga dapat menjadi masalah besar. Muncul berbagai macam istilah dan sebutlah dua di antaranya: egoisme dan altruisme. 

Egoisme adalah satu gejala atau kecenderungan dan dalam skala tingkatan yang paling tinggi disebut paham yang menekankan ke-akuan. Egoisme artinya kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri; memusatkan segala-galanya pada kepentingan sendiri. Dalam upaya mencapai mimpi, dalam upaya memperjuangkan pilihan kadang kita jatuh ke dalam sifat egoistik. Hal ini dapat dibaca secara terang benderang dalam kehidupan sosial dan juga politik di mana orang cenderung mengagung-agungkan diri sendiri, memperjuangkan kesuksesan pribadi, mencari nama besar dengan cara mengorbankan orang lain. 

Manusia egois adalah, kita yang mau tinggi dengan cara merendahkan, mau kelihatan dan dinilai baik dengan cara menjelekkan orang lain, mau maju dengan cara menggunting orang lain. Saya pernah mendengar bahkan terlibat aktif dalam perkumpulan tukang gossip, di mana setiap duduk bersama selalu nama sendiri disebut seolah-olah pahlawan. Dalam arti tertentu egoisme sama dengan narsisme: kalau saya tidak ada, semua pasti terbengkalai atau formulasi yang paling tenar adalah untung ada saya atau untung saya di sana waktu itu. Kalau saya tidak ada pasti semua hancur. Konon katanya narsisme berasal dari kata Narsismus tokoh dalam kisah klasik Yunani yang artinya: mencintai bayangan sendiri.

Altruisme adalah kebalikan dari egoisme. Orang-orang altruis lebih fokus pada orang lain sampai lupa pada diri sendiri. Mungkin ini kelihatan mulia, namun kalau kita teliti secara mendalam gejala ini juga sangat berbahaya. Pribadi altruistic cenderung untuk mengagungkan orang lain dan hanya memperhatikan kebaikan orang lain. Bagi mereka hidup adalah memberikan seluruh diri pada orang lain sampai lupa diri sendiri. Pada level yang lebih akut, orang-orang altruistic bisa menjadi manusia masokis, yang menikmati rasa sakit asalakan orang lain bahagia.

Apa pun itu, yang mau saya garisbawahi adalah bahwa kita hidup sendiri di antara orang lain dan kadang kita bukan hanya bertanggung jawab untuk diri sendiri, melainkan juga bertanggung jawab untuk orang lain. Kita pun tidak bisa mengelak dan tidak bisa melarang bahwa hidup kita juga ditentukan olah orang lain. Karena itu, homo viator adalah kita yang berjalan, beziarah dengan kaki sendiri dalam mata-mata dan pengaruh orang lain bahkan dalam rangkulan orang lain. Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana menjadi diri sendiri di antara diri orang lain. Hidup yang benar adalah berjalan maju dalam kemandirian tetapi tetap melirik dan mendengar suara. Melirik dan mendengar yang lain tidak berarti kita dikontrol dan mengontrol sepenuhnya oleh dan untuk yang lain, melainkan kita menilai dan memutuskan menjadi apa diri kita atas pengalaman perjumpaan. Tetap kita sendiri yang menentukan dipengaruhi atau tidak; kita sendiri yang memutuskan menjadi diri sendiri yang dikehendaki sendiri ataukah menjadi diri sendiri atas keputusan orang lain. 

Dalam hidup kita bisa memilih untuk menjadi apa saja. Dan dunia dan waktu pun bisa memberikan apa saja kepada kita. Barangkali ada yang bernasib baik, menjadi seperti apa yang dia ingini! Kadang dunia menentukan lain dari yang kita ingini. Itulah perjalanan dan itulah dunia. Ada satu kenyataan yang tidak bisa kita pilih dan hanya bisa menerima bahwa ziarah kita di dunia berujung pada kematian. Kelahiran yang tidak kita pilih, kehidupan yang kita terima, perjuangan yang kita jalani, nasib yang kita terima akan bermuara pada satu peristiwa yang tidak bisa ditawar: kematian. Kematian adalah kepastian, dan hak istimewa dari waktu untuk menentukan hari dan caranya. Kematian adalah hukuman akhir dari kelahiran dan kehidupan. Kita tidak bisa menghindarinya, hanya bisa menerimanya. Kita bisa berjuang untuk hidup secara baik; dan itu hanya bisa membantu untuk menunda keputusan sang waktu. Namun kita tidak bisa membatalkannya. Benarlah kata pemikir, ketika kita sudah lahir, kita sebenarnya berada dalam ziarah menuju kematian. Ketika kita lahir, kita sudah cukup tua untuk mati. Apa pun pangkat kita, setinggi apa pun gelar akademis kita, kita berujung pada pencapaian gelar yang sama: Almarhum/almarhumah.

Kita adalah homo viator, makhluk peziarah yang menerjang waktu dari lahir hingga mati. Apa yang terjadi setelah kematian? Apakah kita masih terus berziarah? Silahkan bertanya kepada para teolog atau para mistikus dari agama masing-masing. Saya takut menjelaskan apa yang terjadi setelah kematian, karena ini berkaitan dengan keyakinan masing-masing. Dan jawabannya bisa anda dapat dari yang berkompeten. Hanya bisa saja saya bilang: surga dan neraka adalah episode lain dari ziarah kita sebagai HOMO VIATOR.

Steyl, 2 November 2019
Di depan pusara St. Arnoldus Janssen

Oleh: Wendly J. Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update