-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Iman Itu Berawal Dari Sebuah Tragedi Penyaliban (Cahaya Iman Seorang Muslim: Bapak Kapitan Corebima)

Jumat, 09 April 2021 | 16:02 WIB Last Updated 2021-04-09T09:02:58Z
Dalam setiap tragedi iman semakin nyata dan kokoh kuat. Dalam setiap peristiwa kelabu iman semakin mendapat tempatnya bahwa setiap duka dan derita yang dihadapi bukan sekedar ujian atau cobaan terhadap iman kita tetapi menjadi lahan subur untuk menumbuhkembangkan iman bahwa Allah tak pernah menggugat dan menghakimi umat-Nya melalui penderitaan tetapi menjadi kesempatan bagi kita untuk sejenak merenung; “sudakah saya menanggapi rahmat Allah, merawat dan menjalankannya dengan baik dan benar?”

Walaupun harus diakui bahwa dalam setiap tragedi kehidupan, Allah selalu menjadi sasaran empuk untuk menuangkan segala keluh kesah kita; “ini adalah kehendak Allah. Ini adalah ujian dari Allah.”

Tragedi yang dialami oleh keluarga kita di bumi Nusa Cendana menjadi ladang untuk menanamkan iman kita, menaburkan aroma wangi cendana dalam sikap dan tindakan iman kita yang kokoh kuat dan tulus ikhlas. Dan itu telah dibuktikan oleh Yesus sendiri. Tragedi penyaliban di Kalvari, drama penyiksaan Jumad Agung telah menebarkan aroma wangi belas kasih, solidaritas Allah dalam kebangkitan Kristus.

Bahwa solidaritas dan kebersamaan anak-anak Nusa Cendana tidak diragukan lagi. Bahkan solidaritas yang menjadi buah dari penghayatan iman juga ikut dihadirkan dalam peristiwa yang mengharu birukan kita semua. Solidaritas meski kemudian menjadi korban untuk menyelamatkan yang lain dan sesama. Dan itulah sejatinya iman seorang pengikut Kristus yang paling tidak dinyatakan oleh seorang saudara, bapak kita Kapitan Corebima yang nota bene adalah seorang Islam yang menjadi korban banjir bandang di desa Waiburak-Kecamatan Adonara Timur.

Bapak Kapitan Corebima meskipun seorang Islam menunjukan kepada kita semua bahwa mengimani Kristus bukan semata-mata untuk diri sendiri tetapi diatas segalanya adalah membawa Yesus untuk menyelamatkan orang lain meski nyawa sendiri yang harus menjadi taruhan. Peristiwa penyaliban dan kebangkitan Kristus yang mengungkapkan solidaritas Allah kepada manusia justru menjadi nyata melalui pengorbanan bapak Kapitan Corebima. Dia yang menyelamatkan istri dan anak-anaknya serta membangunkan para tetangganya tetapi justru ia yang menjadi korban dan baru ditemukan kemarin dibawah reruntuhan rumahnya sendiri.

Bapak Kapitan Corebima menjadi tanda nyata Sabda Yesus; “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. (Yoh 15:13).

Tragedi di rahim Nusa Cendana, bumi Flobamora juga merupakan tragedi penyaliban yang menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menunjukan iman kita sebagai pengikut Kristus. Iman yang menuntut pengorbanan tulus untuk menegaskan komitmen solidaritas kita yang merupakan komitmen solidaritas dari Allah sendiri bagi sanak keluarga kita di tanah Flobamora.

Kita tidak harus menjadi Yesus yang disalibkan. Tapi paling tidak kita menjadi seperti bapak Kapitan Corebima yang mengorbankan sedikit isi dompet kita, dan mengulurkan tangan kasih kita untuk menyelamatkan saudara-saudari, keluarga kita semua yang hari-hari ini sedang menderita.

Kita jadikan tragedi salib ini sebagai jalan membawa sukacita kebangkitan Kristus, agar sesama kitapun paling tidak ikut mewartakan kebangkitan Kristus karena telah melihat Tuhan; “Kami telah melihat Tuhan meskipun dalam sebuah tragedi” melalui tangan-tangan kasih kita semua seperti kesaksian Maria kepada para murid lainnya; “Aku telah melihat Tuhan”.

Mari kita jadikan setiap tragedi kehidupan sebagai pijakan untuk melihat lebih jelas tragedi penyaliban Kristus yang justru dari tragedi penyaliban Kristus itu sendiri membuat kita melihat dengan jelas dan tegas solidaritas Allah yang berpuncak pada kebangkitan Kristus. Maka daripada kita “menghakimi” marilah kita gugat diri kita sendiri dengan mengulurkan tangan kasih kita sebagai jalan membawa kebangkitan Kristus sebagai puncak solidaritas Allah kepada sanak keluarga kita di tanah Flobamora. Amen.

Manila: 07-April 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update