-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

INTISARI MARIOLOGI SANTO LOUIS DE MONTFORT “TEOLOG KLASIK” ABAD XVII [1673-1716]

Rabu, 14 April 2021 | 13:14 WIB Last Updated 2021-04-14T06:26:13Z
Oleh: Pater Fidel Wotan, SMM

Ketika orang berbicara tentang Montfort, maka pertama-tama pikirannya terarah pada beberapa hal ini; seorang yang kaku, prinsipiil-tegas, sederhana dan lebih suka mendekatkan dirinya pada kaum miskin, orang sederhana; misionaris dan pengkhotbah ulung serta seorang yang memiliki bakti [devosi] yang mendalam nan mesra kepada Perawan suci Maria. 

Pengalaman akan Allah dan relasinya yang begitu mendalam dengan-Nya rupanya menghantar orang kudus ini mampu menghasilkan berbagai macam karya tulis yang menarik, mendalam dan berbobot. Salah satunya ialah karya tulis mariologis yang dituangkannya dalam beberapa tulisannya. Karya mariologis Montfort yang paling tersohor ialah Bakti yang Sejati kepada Maria (Traité de la vraie dévotion a la Sainte Vierge). Banyak penulis dan pakar teologi mengatakan bahwa karya mariologis Montfort yang terkenal itu ternyata telah melambungkan namanya ke seluruh jagat raya dan menampak kansisi terdalam suatu bakti [devosi] khusus nan mesra kepada Maria. 

Sampai dengan saat ini, ajaran Marial Louis de Montfort sang “teolog klasik” tersebar luas di kalangan kaum religius dan kaum awam di seluruh dunia. Bahkan karya mariologis orang kudus ini telah menarik minat dan cinta yang mendalam dari seorang Paus Marial di abad modern, Yoh. Paulus II. Ajaran Marial yang sama pula justru ikut “menganyam dan mengubah hidup orang kudus Polandia” tersebut dan malahan kemudian ia menunjuk secara khusus figur Montfort sebagai seorang kudus yang memberikan pengajaran istimewa tentang Maria.

Tentang “Mariologi Montfort”, berikut ada sebuah pandangan yang menarik tentang komentar atas doktrin Marial tersebut.Catatan menarik berikut ini ditulis oleh seorang ahli Kitab Suci–ekseget, dosen di Pontificia Teologica “Marianum”, Roma–yang adalah Biarawan Montfortan Italia, Prof. Dr. Alberto Valentini, SMM. Sembari mengutip pandangan salah seorang pakar Spiritualitas Perancis, di mana ia mengatakan bahwa Montfort adalah seorang yang sudah melangkah lebih jauh dalam memahami arti atau makna Bakti kepada Perawan Suci Maria. Ia menulis:


“Di antara para kudus pada masanya “barangkali di segala zaman, Grignion de Montfort merupakan seorang yang mungkin melangkah lebih jauh dalam pendalaman teologis tentang bakti kepada Maria dalam pelayanan kehidupan Kristiani…karya tulis Bakti yang Sejati kepada Maria tetap menjadi buku klasik devosi Marial” (R. de Ville, L’ècole française de spiritualié, Paris 1987, hlm. 154). Memang popularitas Montfort, dalam lingkup yang paling beragam bertumpuh pada doktrin Marial-nya dan tersebar luasnya karya tulis Bakti yang Sejati kepada Maria. 

Namun penilaian yang terlampau tinggi ini mengantar kita pada suatu kesalapahaman yang seringkali muncul, yakni memikirkan doktrin Marial-nya Montfort terisolasi dari konteks utama pemikiran dan pengalaman rohani serta pengalaman misionernya. Mariologi Montfort merupakan bagian integral dari suatu keseluruhan: dimasukkan secara mendalam kedalam konteks kristologis, trinitarian dan eklesial, yang tanpanya akan direduksi menjadi salah satu dari sekian banyak devosi yang patut dipuji. Montfort secara khusus ditaklukkan oleh Kristus yang tersalib, oleh kebijaksanaan-kebodohan Salib: devosi Marial dan spiritualitasnya dimasukkan ke dalam pelayanan Sang Kebijaksanaan. 

Dengan demikian Mariologi Montfortan secara kuat ditautkan pada Kristologi dan karya tulis Bakti yang Sejati kepada Maria mempunyai landasan pada karya tulis Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi, sebuah buku fundamental, yang sangat diperlukan untuk memahami Spiritualitas Montfortan secara menyeluruh dan untuk mengerti suatu devosi kepada Maria yang lebih tepat dan memadai. Menurut Montfort, Maria adalah jalan yang istimewa untuk memperoleh Kebijaksanaan Ilahi, Yesus Kristus yang tersalib.”

Dari catatan Ekseget dan Biarawan Montfortan tersebut dan dari seluruh doktrin Marial sang “teolog klasik” ini, dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Mariologi orang kudus ini – sekalipun tidak dikategorikan ke dalam suatu traktat yang lengkap dan utuh sebagai manayang dikatakan oleh Gaffney – memiliki suatu landasan teologis yang solid atau kokoh. Dari sebab itu, kalau orang ingin memikirkan dan mendalami doktrin Marial atau Mariologi orang kudus ini, maka beberapa hal berikut ini patut diketahui:

Pertama, Mariologi Montfort mesti dipahami dalam konteks holistik. Artinya, pemikiran atau doktrin Marial-nya selalu dipikirkan dalam gandengannya dengan disiplin ilmu teologis lainnya, yakni Kristologi, Eklesiologi, Pneumatologi, dll. Atau dalam bahasa Valentini: “Mariologi Montfort merupakan bagian integral dari suatu keseluruhan: dimasukkan secara mendalam ke dalam konteks kristologis, trinitarian dan eklesial.”

Karya-karya mariologis orang kudus Perancis ini pada hakikatnya sangat kristosentris, trinitaris dan eklesial. Dengan demikian, betul sekali kalau Mariologi Montfort secara kuat ditautkan pada Kristologi dan master piece-nya yang tersohor itu, Bakti yang Sejati kepada Maria. Tulisan ini sebetulnya mempunyai landasan pada karya tulis lainnya (kristologis), yakni Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi. Membaca buku-buku mariologis dan kristologis yang dihasilkannya itu, merupakan hal penting bagi siapapun yang berminat memahami secara baik dan lengkap Teologi dan Spiritualitas Montfort. Semuanya ini akan turut membantu siapa pun dalam rangka untuk mengerti secara menyeluruh bakti [devosi] kepada Perawan Suci Maria yang ia ajarkan dengan lebih tepat danmemadai.

Kedua, Mariologi Montfort didukung oleh sebuah kerangka kerja kristologis yang kuat dan bergantung pada misteri dan tindakan Trinitaris. Doktrin Marial-nya memiliki tujuan eklesial yang jelas atau bahkan mengarah pada suatu karya pelayanan pastoral (dimensi misioner-apostolis). Dalam konteks ini, kita mesti mengetahui dan mengakui bahwa memang orang kudus ini sangat spiritual, namun pada saat yang sama ia mampu secara luar biasa mengabdikan dirinya bagi misi dan pewartaan Injil, khususnya bagi kaum miskin. Itulah sebabnya, Mariologi Montfort atau doktrin Marial yang diajarkannya pertama-tama bertujuan untuk para pendengar yang sederhana dan bukan kaum intelektual, cendekiawan ataupun seorang profesor disebuah universitas atau kampus teologi tertentu. 

Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan teologis, meski pada akhirnya dia memilih belajar autodidak di perpustakaan di Seminari Saint Sulpice, Perancis sebelum ditahbiskan menjadi imam, pengetahuan dan pemikiran teologinya dapat dikatakan sangatlah memadai. Itulah sebabnya, mengapa Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai seorang “teolog klasik yang berbobot.” Dari sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa ketika orang kudus ini berbicara tentang Maria, sebetulnya pikiran-pikirannya memiliki suatu dasar teologi yang kuat dan kokoh. Ringkasnya, bangunan Mariologinya sangatlah bernas atau berbobot dan disusun di atas fondasi teologis yang sangat kuat.

Ketiga, Mariologi Montfort tidak hanya berbobot dan memiliki landasan teologis yang solid, tetapi juga sangat sederhana. Sekalipun Montfort bukanlah seorang “teolog” yang mengajar khususdi kampus teologi atau universitas tertentu, karya mariologisnya amat menyentuh kaum sederhana. Memang harus digarisbawahi bahwa kesehariannya ialah berteologi secara kontekstual dan menyampaikan suatu ajaran yang sangat sederhana bagi kaum pinggiran, atau bagi rakyat jelata dan orang-orang kecil. 

Di dalam seluruh pengajaran Marial-nya itu, dia tidak pernah melupakan pengalaman pribadi dan pastoralnya. Seluruh pengalaman tersebut ikut mendukung apa yang ia wartakan. Dalam konteks ini, kita pun dapat memahami mengapa orang kudus ini tidak mengalamatkan tulisan-tulisannya, termasuk doktrin Marial-nya bagi kaum terpelajar atau kaum cendekiawan. Dia justru memilih kelompok miskin dan sederhana. Alasannya jelas bahwa kelompok kelas bawah ini lebih mudah mau menerimanya sebab mereka memiliki itikad baik dan iman daripada kaum intelektual.

Dari sebab itu, seperti kata Bossard, “tulisannya lebih cocok dibaca, didalami, dihidupi oleh kelompok yang pertama, sebab mereka akan lebih mudah menerima pemikiran, refleksi dan gaya bicara Montfort ketimbang kelompok yang kedua, sebab iman kelompok pertama lebih sederhana.”

Harus diakui bahwa seperti kata Gaffney bahwa Montfort yang adalah misionaris sekaligus penulis rohani di zamannya, tidak pernah mau menulis suatu summa of Marian doctrine atau menulis suatu traktat mariologis. Kejeniusannya justru terbaca dalam hal ini, yakni dia mewartakan Injil secara otentik, dan dalam gaya hidup dan perkataan-perkataannya mampu menghantar para pendengarnya (umat) seperti “Perawan Maria” untuk “mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya” (bdk. Luk 11:28). 

Pemikiran-pemikiran tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang siapakah orang suci ini dan minat teologis dan sasaran penulisan setiap karya-karya tulis yang pernah dihasilkannya. Dalam konteks ini, tidak tertutup kemungkinan dapat dikatakan bahwa Mariologi yang tampak dari tulisan- tulisannya telah menimbulkan minat dan refleksi dari para teolog yang secara terus-menerus menemukan kekayaan yang mendalam dan tidak pernah berhenti dieksplorasi dan dikembangkan.

DAFTAR BACAAN

Magisterium Gereja:

YOH. PAULUSII, Ensiklik Redemptoris Mater (Ibunda sang Penebus), no. 48, Seri Dokumen Gerejawi, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta1987.

Buku dan Artikel:

BOSSARD, A., “True Devotion”, dalam STEFANO DE Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publication, Bay Shore, 1994.

DE MONTFORT, LOUIS MARIE GRIGNION, Bakti yang Sejati kepada Maria, 14-36, terj. MGR. ISAK DOERA, Serikat Maria Montfortan, Bandung 2009.
GAFFNEY, P., “Mary” dalam STEFANO DE FIORES (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

VALENTINI, ALBERTO, “Una teologia mariana cristocentrica trinitaria ed ecclesiale”, L’osservatore Romano 29 April 2020.
×
Berita Terbaru Update