-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jangan Hakimi Ketidaksempurnaan Kami, Namun Doakanlah Kami

Kamis, 15 April 2021 | 12:01 WIB Last Updated 2021-04-15T05:06:43Z
Menjadi seorang imam, suster dan bruder bukan karena kehendak kami. Bukan pula karena kemauan kami. Tapi karena kehendak Allah sendiri. Kami sadar bahwa kami lemah, tidak sempurna dan mudah jatuh dalam dosa, namun kami tidak berdaya dihadapan kuasa dan kehendak Allah.

Karena merasa lemah dan tidak pantas, kami berusaha menjauh dari-Nya. Namun semakian kami menjauh, suara-Nya semakin dekat, tangan-Nya selalu menangkap kami untuk mengikuti-Nya.

Ketika kami mencoba untuk meninggalkan Dia dan memilih pekerjaan lain, hidup kami terasa kering, gaji dan kedudukan tak memberikan kebahagiaan tetapi justru membuat kami merasa tak ada artinya, lantaran selalu ada kekuatan yang terus memanggil kami dan semakin tak berdaya dihadapan-Nya ketika kami memandang para uskup, imam, suster dan bruder dengan jubah pelayanan mereka.

Kami memilih mengikuti Dia menjadi seorang imam, suster atau bruder bukan karena kami telah bertemu dengan-Nya secara langsung face to face. Tidak pernah! Kami hanya bertemu dengan-Nya dalam iman yang selalu menggugah hati ketika kami bertemu dan berjumpa dengan para imam, suster dan bruder dengan karya pelayanan dan pengorbanan mereka serta melalui jubah pelayanan mereka.

Setiap kali bertemu dengan mereka, setiap kali melihat mereka mengenakan jubah pelayanan serta sharing mereka, selalu ada satu kekuatan yang menggerakan hati kami; “kelak aku juga mau seperti dia atau seperti mereka.”

Kami tidak pernah bertemu dengan-Nya secara langsung, berhadapan muka namun kami percaya bahwa kami dipanggil oleh-Nya, dan kami bahagia. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh 20:29). Sabda Yesus ini menjadi nyata dalam diri kami para imam, suster dan bruder.

Kami bahagia dan percaya meskipun kami mengalami sebuah “misteri” panggilan yang dijelaskan dengan motivasi sebagus apapun tetap tidak memuaskan karena kami sendiripun tak mampu membahasakan perasaan dan kekuatan dalam diri kami sendiri.

Kami bahagia karena kami boleh melayani mereka yang sakit, meskipun kami sendiri tidak pernah tahu apa sakitnya? Beresiko bagi keselamatan kami atau tidak? Kami bahagia karena kami tidak mempertahankan kegantengan atau kecantikan kami untuk menjadi milik seseorang tetapi karena kami boleh mempersembahkannya untuk Tuhan dan Gereja.

Kami bahagia karena kami boleh mengalami kesendirian dalam sakit atau ketika menghadapi persoalan. Hanya kepercayaan bahwa Tuhan bersama kami. Kami bahagia karena kami boleh bangun jam berapapun ketika ada panggilan untuk melayani di saat yang lain masih pulas dengan tidurnya.

Di atas semua kebahagiaan yang kami alami, meski tidak pernah bertemu dan melihat Yesus dengan mata kepala sendiri sendiri, kamipun menyadari bahwa kami juga memiliki kelemahan dan ketidaksempurnaan.

Dibalik kelemahan dan ketidaksempurnaan ini, yang kami butuhkan adalah doamu dan bukan menghakimi kami. Yang kami butuhkan adalah nasehatmu dan bukan gugatanmu dengan menyebarkan isu dan gosip. Yang kami butuhkan adalah teguranmu yang menegur dan memperingati kami ketika kami salah jalan dan bukannya menutupi dan melindungi kesalahan kami.

Dari doa dan dukunganmu itu, kita semua berharap ada satu kata jujur yang terucap; “aku/kami salah!” yang keluar dari hati yang jujur mengakui kesalahan. Zakeus, Matius, Levi mau jujur mengakui kesalahan karena dikunjungi oleh Yesus dan bukannya dijauhkan dan dihakimi oleh Yesus (bdk. Luk 19:10).

Manila: 14-April 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update