-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KAMI PEMUKA AGAMA TAPI PECUNDANG: Catatan Pasca Teror Bom Katedral Makasar

Kamis, 01 April 2021 | 12:11 WIB Last Updated 2021-04-02T03:08:12Z
Sejak berakhirnya Orde Baru, kita masuk pada era reformasi yg ditandai dengan dijaminnya kebebasan berpendapat, berdemonstrasi, berorganisasi dan bahkan tak jarang kebebasan berorasi yang kadang menyerang pemerintah, menyerang kelompok agama dan sebagainya. Di catatan ini saya cuma fokus pada masalah toleransi beragama.

Saya tidak mempunyai catatan yang mendetail tentang hal ini, namun saya mempunyai ingatan yang masih bisa dipercaya tentang kiprah para pemuka agama yang jago memprovokasi masa, memanipulasi kebodohan umat sederhana dengan seruan-seruan yang mempropagandakan kebencian baik terhadap pemerintah, kelompok tertentu, agama dan kepercayaan lain, bahkan menyerang pribadi. Atas nama kebebasan berpendapat, mereka-mereka itu tidak pernah disentuh oleh hukum. Memprovokasi, menyerang orang lain atau kelompok lain sudah dianggap normal di negeri ini. Apa lagi itu dilakukan oleh pemuka agama, imam besar atau ulama besar. Itu sah bagi mereka dan mungkin bagi negara. Lihat saja Riziek Zihab. Dia berulang-ulang menghina institusi negara, menghina agama lain, namun seakan tidak pernah disentuh. Sekarang memang dia dipenjara, tapi bukan atas kasus penghinaan terhadap agama lain, melainkan karena kasus kerumunan yang melawan protokol covid-19. Andai kata covid-19 tidak ada, mungkin sekarang dia masih berkoar-koar menghasut pengikutnya. 

Atau kita mungkin melihat video-video di youtube. Di sana ada nama Abdul Somad, Yahya Waloni dan banyak lagi yang lainnya, yang dengan bebas dan percaya diri berkotbah, berpidato atau berkoar-koar menghina agama lain. Mereka itu pemuka agama dan katanya itu adalah tugas utama mereka.

Gejala ini hanya terjadi pada masa reformasi, di mana segala-galanya dibiarkan bebas termasuk hasut-menghasut semacam itu.

Berkaitan dengan reformasi ini juga, ada kenyataan lain yang menyakitkan yang sering terjadi, yaitu: penyerangan, pengrusakan, pembakaran dan pengeboman rumah-rumah ibadah. Hal ini sudah seakan menjadi santapan wajib tahunan kita. Sudah banyak rumah ibadah yang hancur, terbakar. Sudah sekian banyak korban jiwa melayang karena bom atau aksi anarkis di rumah ibadah. Dan tentu semua umat beragama sakit hati. 

Maka pertanyaannya: siapakah yang seharusnya bertanggung jawab?

Jawabannya adalah:

Pertama: pasti pelaku dan kelompok yang mendukungnya. Dari penjelasan pemerintah dan polisi khususnya, peristiwa anarkis seperti pembakaran rumah ibadah dan terutama pengeboman dilakukan oleh kelompok orang ber"agama" tapi dari golongan radikal. Perlu dicatat di sini. Mereka beragama, namun dari kaum radikalis.

Kedua: pemerintah dengan perangkat keamanan yang bertanggung jawab langsung terhadap keamanan dan kenyamanan hidup bernegara. Karena itulah, polisi selalu di depan memastikan keamanan warganya. Ok, kadang mereka bangun terlambat atau terlambat sadar, kita maklumi. Mereka juga bukan malaikat yang bisa menjaga orang per orang.

Ketiga: para pemuka agama atau ulama (istilah ulama aslinya berarti pemuka agama. Jadi janganlah kita menpersempit artinya hanya untuk pemuka agama A atau B. Kalau saya sebut ulama: itu berarti pemuka dari agama-agama. Termasuk saya: ulama dari agama Kristen. Maaf kalau saya salah, tetapi setidaknya pembaca paham maksud saya). Kelompok ketiga ini, kadang malah yang menimbulkan kebingungan. Banyak dari kaum ulama yang tidak konsisten pada prinsip dan ajarannya. Ada bebetapa contoh paling nyata tentang inkonsistensi prinsip dan ajaran para pemuka agama yang kadang membuat kita (khususnya saya) bingung:

1. Segala hal yang berkaitan dengan makan minum, itu berhubungan dengan agama. Karena itu, para ulama mempunyai hak dan kuasa untuk menentukan halal atau tidak halalnya makanan dan minuman.

2. Produk-produk material lain, seperti barang ekektronik, teknologi komunikasi produk luar bahkan vaksin covid-19 mesti diuji halal dan tidak halalnya oleh para ulama. Ada ulama yg menyatakan produk tertentu, tidak halal namun dia tetap memakainya.

3. Dalam banyak hal yg berkaitan perilaku moral, kami para ulama selalu dan senantiasa menghubungkannya dengan ajaran agama dan Kitab Suci. Menjelang perayaan agama kami sibuk merazia tempat hiburan, tempat wisata kami anjurkan agar dihalalkan. 

4. Tindakan tidak bermoral dari orang-orang ateis, orang beragama lain selalu dibandingkan atau selalu diukur dengan standar agama para ulama. Namun giliran teroris atau kelompok radikalis menyerang dan membunuh orang lain seperti aksi bom bunuh diri yang sering terjadi, kami para ulama langsung putar lidah: jangan dihubungkan dengan agama tertentu. Sementara itu si pelaku dengan bangganya mewartakan bahwa itu perintah agama tertentu, malah agama yang dianut si ulama juga.

Dari kisah Bom di Katedral Makasar, dan kisah serupa pada tahun-tahun sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan kiprah para ulama atau pemuka agama yang sering kali berkoar-koar menyebarkan kebencian dari mimbar rumah ibadah, saya pribadi boleh dengan berani mengatakan bahwa: lahir dan bertumbuhnya kaum radikalis dan pelaku bom bunuh diri di Indonesia didukung oleh pemuka agama tertentu. 

Tentu tidak semua ulama mengajarkan hal itu. Namun kita para pemuka jangan terus-menerus mencuci tangan. Kita berkontribusi terhadap lahirnya kaum radikalis dan teroris; karena kita membiarkan mimbar di rumah ibadah kita, digunakan oleh oknum ulama tertentu untuk mengumandangkan kebencian terhadap orang lain yang berbeda dengan kita. Saatnya para pemuka satukan hati untuk menggunakan otoritas yang berwibawa dan terkesan mulia itu untuk menyuarakan kebaikan hati, cinta kasih, kelemah-lembutan dan keberadaban. Saatnya para pemuka agama membersihkan mimbar dan rumah ibadah dari oknum-oknum yang intoleran, oknum ulama yang suka memprovokasi dan menumandangkan ujaran kebencian.

Kalau kita terus-terus cuci tangan dan mengatakan jangan menghubungkan teroris dengan agama tertentu, maka saya boleh mengatakan: KITA INI PEMUKA AGAMA, NAMUN PECUNDANG.

Oleh: Pater Wendly J. Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update