-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketaatan Itu Melahirkan Sukacita Dan Cinta Pada Imamat

Jumat, 16 April 2021 | 13:28 WIB Last Updated 2021-04-16T06:30:10Z
Ketaatan itu tidak terletak pada tingkat pendidikan entah S-1, S-2 dan S-3. Tingginya tingkat pendidikan seorang imam tidak bisa menjadi jaminan ketaatan. Karena ketaatan itu lahir dan merupakan buah dari doa dan refleksi.

Dalam Ekaristi misalnya, ketaatan seorang Imam untuk merayakan Ekaristi sesuai dengan PUMR manakala doa ketika mengenakan Alba, Single, Stola dan Kasula menjadi sumber kekuatan untuk menyangkal kehendak pribadi sejak saat memasuki gereja dan memulai hingga selesai perayaan Ekaristi.

Doa ketika mengenakan alba:

“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”

Doa ketika mengenakan singel:

“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”

Doa ketika mengenakan stola:

“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”

Doa ketika mengenakan kasula:

“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmat-Mu. Amin.”

Dari doa-doa saat mengenakan busana liturgi ini nampak jelas bahwa kehendak dan kuasa Allah yang diandalkan dan diikuti. Sebuah ungkapan penyerahan diri, sehingga melahirkan sukacita untuk memuji dan memuliakan Allah melalui sukacita dalam pelayanan imamat sekaligus semakin mencintai imamat sebagai sebuah bentuk penyerahan diri pada kuasa Allah yang dihadirkan dalam Ekaristi.

Sukacita sebagai seorang imam, tidak semata-mata karena bisa bertahan hidup sendiri atau yang penting bisa melayani dengan baik, tetapi yang paling penting dan utama adalah mampu mengalahkan kehendak pribadi meskipun tidak harus menjadi populer atau bahkan dikatakan konservative mampu dan setia mengikuti apa yang menjadi ajaran Gereja dan bukan kemauan siapapun hanya ingin dipuji mengikuti perkembangan zaman atau “gaul”.

Sukacita sejati adalah sukacita yang lahir dari doa dan refleksi yang menguatkan dan meneguhkan untuk mengedepankan kehendak Allah melalui ajaran-ajaran Gereja dan bukan kehendak pribadi. “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu” (Mrk. 14:36).

Demikian juga ketaatan pada akhirnya menjadi tanda mencintai imamat. Mencintai imamat bukan semata soal kesetiaan hingga akhir hidup. Ketaatan bukan sekedar asal ikut tetapi ketaatan yang melahirkan sukacita. Mencintai imamat, berarti mencintai seluruh ajaran Gereja yang didalamnya kehendak Allah ditemukan.

Ketaatan adalah bentuk kecintaan pada imamat karena, di dalam rahmat tahbisan imamat seluruh tugas untuk merenungkan ajaran-ajaran Yesus di dalam ajaran-ajaran Gereja dan mengajarkannya dengan baik dan benar untuk menguduskan umat Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian.

“Seorang imam yang mencintai imamat adalah yang taat dalam situasi apapun tanpa ada argumentasi pembelaan apapun karena satu-satunya argumentasi adalah ajaran Yesus yang diajarkan melalui Magisterium Gereja. Ketaatan adalah tanda mencintai imamat karena pada saat ditahbiskan tugas untuk memimpin, mengajar dan menguduskan Gereja diberikan untuj dilaksanakan dengan baik dan benar.”

Sumber: yesaya.indocell.net

Manila: 15-April 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update