-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Bupati Edi 'Urus Sampah' di Pantai Pede

Senin, 19 April 2021 | 17:58 WIB Last Updated 2021-04-19T10:58:51Z
Oleh: Sil Joni*

Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi (selanjutnya bupati EE) terus menampilkan diri sebagai 'pelayan publik' yang rendah hati. Beliau bukan tipikal pemimpin yang 'bersabda saja dari kursi kekuasaan (baca: kantor bupati)', tetapi turun ke medan praktis untuk merasakan dan mengerjakan apa yang semestinya dia kerjakan sebagai seorang pemimpin politik di wilayah ini.

Bupati EE tidak hanya 'mengurus manusia', tetapi juga 'sisa-sisa tak bermakna' yang sering menodai keindahan ruang publik di Labuan Bajo. Seperti yang dilansir media Matanews.net, Minggu (18/4/2021), bupati EE 'hadir di Pantai Pede' untuk memantau secara langsung kegiatan pembersihan area itu yang melibatkan sekian banyak elemen masyarakat.

Sampah yang 'menumpuk/menggunung' di sepanjang Pantai ternyata bukan hanya buah dari ulah tak tertib warga kota, tetapi juga 'sampah kiriman' dari wilayah pegunungan ketika musim hujan tiba. Sampah yang datang bersama 'bencana banjir' itu selalu bermuara di kawasan Pede. Akibatnya, kecantikan pantai ini 'ternoda'. Gairah publik untuk 'membangun keintiman sosial' di sini menjadi relatif pudar.

Kepekaan sosial Bupati EE terlihat secara jelas ketika beliau 'tampil' sebagai pemimpin pasukan perang melawan sampah di salah satu ruang publik perkotaan itu. Beliau 'terpanggil' untuk memenuhi kebutuhan rekreatif warga dengan 'menyiapkan ruang publik yang bersih dan asri'. Bupati EE benar-benar datang sebagai 'hamba rakyat' yang siap melayani setiap kebutuhan vital warga, termasuk kebutuhan ruang kebersamaan yang nyaman.

Di tengah isu 'menyempitnya' ruang publik di kota pariwisata ini, Bupati EE 'datang' membawa secercah optimisme bahwa kawasan Pede itu masih bisa diandalkan untuk menjadi 'ruang publik' bermartabat di Mabar. Tentu, syaratnya adalah Pantai itu bebas dari masalah sampah. Salah satu tugas dari Bupati EE dan jajarannya adalah 'menghalau' aneka sampah yang bisa menodai keindahan Pantai itu dan berpotensi turunnya minat warga untuk berkunjung ke tempat itu.

Ruang publik perkotaan yang luas, indah, asri, dan nyaman menjadi salah satu 'unsur penunjang' aktivitas warga kota. Para warga kota bisa mendapatkan energi baru ketika mereka 'berjumpa' dan berekspresi di ruang publik itu. Karena itu, pemerintah mesti memperhatikan 'keberadaan ruang publik' dalam mendesain master plan pembangunan berbasis spasialitas dalam sebuah kota.

Saya kira, Bupati EE sedang 'merintis' akses pembukaan ruang publik untuk warga Labuan Bajo dan sekitarnya. Kehadiran bupati EE di pantai Pede seperti yang diberitakan media di atas, bisa dibaca sebagai satu indikasi terlaksananya komitmen politik bupati EE untuk menata dan menyediakan ruang publik yang bermutu bagi masyarakat. Beliau ada di sana, bukan untuk senang-senang (berwisata), tetapi memperlihatkan kerja politik yang serius baik dalam hal memerangi sampah maupun dalam memperjuangkan sebuah ruang publik.

Ketersediaan dan penataan ruang publik yang berkualitas, hemat saya masih absen atau kurang diperhatikan oleh rezim politik sebelumnya. Kita belum melihat semacam gebrakan politik soal 'penataan ruang terbuka hijau' baik di tengah kota maupun di kawasan pantai dari kota ini. Berharap 'kekurangan politik' ini segera disikapi oleh pemerintahan Edi-Weng. Selain Pantai Pede, Pemda mesti memikirkan untuk menata ruang terbuka hijau di tengah kota agar warga bisa 'menikmati udara bersih dan keindahan' yang bukan tidak mungkin bisa melahirkan banyak insprasi dan kreasi baru.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update