-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mahasiswa dan Peran Transformatif

Jumat, 30 April 2021 | 09:32 WIB Last Updated 2021-04-30T02:32:25Z
Oleh: Sil Joni*

Disinyalir bahwa fenomen 'apolitis' dalam diri mahasiswa kita mulai menguat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar mahasiswa bersikap indiferen dan apatis terhadap pelbagai dinamika sosial politik yang berkembang di tengah masyarakat. 

Tentu gejala semacam ini dilihat sebagai sebuah kerugian. Mahasiswa merupakan salah satu 'modal sosial dan kultural' dalam merawat peradaban politik yang berorientasi pada perbaikan kehidupan bersama.

Publik Mabar bisa berbangga sebab sudah ada kampus Perguruan Tinggi (PT) di Labuan Bajo. Seingat saya, kampus Politeknik Elbajo Commodus telah hampir tiga tahun hadir di tengah kita. Namun, kontribusi dan keterlibatan 'mahasiswa dari kampus ini' dalam dunia gerakan sosial-politik di Mabar, rasanya belum terlalu optimal. Kita jarang membaca atau menonton senat mahasiswa dari kampus ini mengadakan semacam 'mimbar terbuka' untuk mendiskusikan isu-isu aktual di Mabar dan memberikan catatan atau sikap kritis terhadap para pengambil kebijakan di daerah ini.
  
Sebagai bagian vital dari elemen masyarakat sipil (civil society), peran mahasiswa sangat strategis dalam keseluruhan derap dan dinamika pembangunan politik di negara kita. Mereka menjadi "pressure groups) yang efektif dalam memengaruhi dan mengubah desain dan implementasi kebijakan yang pro kemaslahatan publik.

Kita tahu bahwa watak kekuasaan (penguasa) cendrung koruptif, represif, dan otoriter. Mahasiswa mesti tampil pada garda terdepan untuk "meminimalisasi" tendensi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang dalam banyak kasus, terbukti menggiring publik ke jurang nestapa politik yang tak berujung.

Saya kira, mahasiswa relatif tidak menemui aral dalam memanifestasikan idealisme politik di atas. Mereka adalah kelompok politik yang tidak terkontaminasi dangan interese politik partisan dan faksi atau blok politik yang bercorak pramatis.  Ikhtiar "mentransformasi" panggung sosial-politik yang belepotan dengan lumpur korupsi dan manipulasi kian mudah tergapai sebab mereka telah dibekali dengan "senjata kultur ilmiah" yang kritis-rasional.

Pisau intelektualitas dan integritas moral yang terasah dipakai untuk "membedah" realitas sosial-poltik yang patologis. Adegan manipulasi dan penindasan yang acap diperagakan penguasa tentu menjadi "common enemy" dari kelompak aksi yang kritis, termasuk di dalamnya adalah mahasiswa.

Mahasiswa yang melek (sadar) poltik biasanya "terusik hati nuraninya" ketika menyaksikan praksis kekuasaan yang bermuara pada "penurunan kualitas" kehidupan publik. Mereka pasti "mengangkat senjata kebenaran" sebagai basis dalam memberikan perlawanan yang massif dan frontal kepada penguasa yang tamak dan lalim.

Sudah jamak diamini bahwa mahasiswa adalah agen transformasi (agent of change). Sejarah Republik ini dikonstruksi di atas narasi "gerakan orang muda yang energik dan kritis". Mereka adalah mahasiswa yang tampil militan dan konsisten pada zamannya. 

Bagaimana realitas "pelaksanaan" misi transformasi yang diemban mahasiswa pada zaman now? Apakah "spirit, orientasi, dan motivasi gerakan mereka masih lurus? Apakah idealisme "pembaharuan" wajah sosio-politik konkret kita terus digelorakan dan diperjuangkan?

Mahasiswa tidak boleh "mengeksklusi" diri dalam menara gading keilmiahan. Mereka adalah bagian yang inheren dalam sebuah komunitas politik. Mahasiswa lahir, hidup, dan mengabdi untuk kebaikan publik (bonum publicum) melalui pengejawantahan "spirit perubahan" yang ditopang oleh tiang kebenaran ilmiah.

Ilmu dan pengetahuan yang digeluti bukan semata-mata demi ilmu pengetahuan in se, tetapi terutama untuk "mengubah kontur tubuh sosio-kultur dan sosio-politik yang berwatak humanis dan filantropis.

Karena itu, mahasiswa mesti "eksodus" dari kampus untuk menyebarkan cahaya kebenaran ilmiah secara konsisten kepada publik dan terutama kepada para penguasa yang arogan. Imperasi untuk "bergrak ke luar" tidak berarti mahasiswa "mengorbankan" tugas utamanya sebagai musafir, pencari ilmu yang serius.

"Keterlibatan" dalam misi transformasi ini tidak bisa dijadikan sebagai alibi "ketersendatan" dalam mermpungkan hasil studi. Tidak ada korelasi yang tegas antara "aktivisme" dengan "keterlambatan atau kegagalan meraih gelar akademik.

Kendati demikian, harus diakui bahwa tidak banyak mahasiswa zaman now yang berpartisipasi aktif dalam "proyek transformasi kehidupan sosial politik ini. Kenyataan miris ini patut diratapi. Mengapa? 

"Tagihan" agar mahasiswa "terjun" ke "lapangan sosial politik" selain sebagai satu bentuk "penghargaan" terhadap konsep Tri darma PT (pengabdian kepada masyarakat), juga yang paling penting adalah pertanggungjawaban sosial terhadap watak sosial-publik dari ilmu dan status mahasiswa. Bahwasannya ilmu pengetahuan tidak diracik di lingkungan yang antisosial. Refleksi dan kajian ilmu tentu berangkat dari kondisi kehidupan sosial-politik yang ditaburi aneka problem laten dan manifest. Karenanya, ilmu itu "harus" dikembalikan ke lokus aslinya, setting sosial-politik riiil yang "pincang".

Mahasiswa, jadilah makluk akademik yang melek politik dan makluk poltik yang bermental akademik-saintifik. Kontribusi mahasiswa dalam "menyehatkan" latar sosial-politik kita yang dililit seribu isu, tidak hanya relevan tetapi juga sangat urgen (mendesak) diejawantah saat ini dan di sini. Salam.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.
×
Berita Terbaru Update