-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Makna Kambing Hitam Dalam Kaitan dengan Manusia

Selasa, 13 April 2021 | 18:26 WIB Last Updated 2021-04-13T11:26:54Z
Mengapa pelimpahan kesalahan kepada orang lain kita sebut kambing hitam? Apakah karena kesalahan itu identik dengan warna hitam? 

Istilah Kambing hitam  begitu akrab di telinga dan belantika  pergaulan kitapun kerap diwarnai oleh aksi jual-beli 'kambing hitam' sekadar untuk menyelamatkan muka dan membunuh harga diri orang lain. 

Tanpa bermaksud menuduh kita manusia memang amat potensial untuk menunaikan tugas ini. Paling tidak pernah satu kali berperan menghadirkan kambing hitam atau bisa juga sebaliknya kita pernah dikambinghitamkan. 

Kambing hitam itu merujuk pada orang dalam suatu peristiwa yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. Kambing hitam bisa menyiratkan seseorang atau kelompok tetapi mekanisme kambing hitam juga dapat berlaku untuk entitas non-manusia, baik benda atau hewan bahkan setan. 

KAMBING; Hewan Korban dalam Tradisi Yahudi 

Dalam tradisi Yahudi ada yang disebut dengan upacara Yom Kippur, Hari Pendamaian atau Hari Penebusan Dosa bagi umat Israel dan ritus suci ini dilaksanakan di Bait Suci, Yerusalem.  Ritus ini dilukiskan dengan amat jelas dalam Kitab Imamat bab 16 yang menuliskan bahwa Tuhan memerintahkan Musa dan Harun untuk mengorbankan dua kambing setiap tahun. 

Kitab Imamat memberitahu kita bahwa Harun harus mengambil dua ekor kambing jantan dan menempatkannya di hadapan Tuhan di depan pintu Kemah Pertemuan dan membuang undi atas kedua kambing jantan itu; sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah undi bagi Azazel.

Pada Hari Pendamaian itu, Kambing jantan yang dipersembahkan untuk Tuhan harus dibunuh, diolah dan darahnya disiram di atas Tabut Perjanjian sebagai korban penghapus dosa. Sementara kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan Tuhan. 

Imam Besar Bait Alllah biasanya meletakkan tangannya di atas kepala kambing dan mengakui dosa-dosa orang Israel, kemudian kambing jantan itu dilepaskan ke padang gurun bersama dengan beban dosanya. 

"Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun" (Imamat 16:9-10). 

Istilah KAMBING HITAM

Asal kata ini adalah scape (bentuk kuno untuk kata "escape" yang artinya melarikan diri) ditambah dengan kata "goat". Istilah "scapegoat" atau kambing hitam sama sekali tidak ada hubungannya dengan warna hitam. 

Kata kambing hitam pertama kali diciptakan oleh sarjana Protestan Inggris William Tyndale ketika dia melakukan tugas penerjemahan pertama dari seluruh Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Inggris tahun 1530. Ia mengacaukan kata 'azazel' (nama tebing yang daripadanya kambing itu didorong) dengan 'ez ozel' (harafiah berarti kambing yang pergi). 

Tyndale yang sedang mengartikan deskripsi Ibrani tentang ritual Yom Kippur dari Kitab Imamat yang sudah kita bahas di atas kemudian menciptakan kata kambing hitam untuk menggambarkan makhluk yang membawa dosa, menafsirkan kata Ibrani Azazel sebagai ez ozel, atau "kambing yang pergi atau kabur." 

Beberapa sarjana Kitab Suci tidak setuju dengan interpretasinya dan mengklaim bahwa Azazel sebenarnya adalah singkatan dari nama iblis hutan belantara seperti kambing untuk persembahan atau lokasi tertentu di padang pasir tempat dosa dibuang atau sering juga dianggap sebagai tebing pegunungan tempat kambing hitam itu dibuang dan dibunuh sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Imamat 16. 

Dari sini ini kita menangkap selama berabad-abad istilah kambing hitam diasalkan dari cerita Alkitab yang kemudian hari-hari ini digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan seseorang yang menanggung kesalahan atas kesalahan apa pun.  

Kambing hitam bisa menjadi opsi terakhir untuk memadamkan "kegilaan orang banyak" saat kehidupan bersama mencapai titik kritis, nalar menyerah pada kekuasaan massa, kekacauan, dan kekerasan. 

Oleh: Pater Garsa Bambang MSF
×
Berita Terbaru Update