-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menggenjot Potensi Keunggulan SMK

Selasa, 20 April 2021 | 11:05 WIB Last Updated 2021-04-20T04:05:02Z
Oleh: Doroteus Jamin, S.Pd*

Tulisan ini merupakan elaborasi lanjutan dari materi 'Sambutan Saya' ketika menghadiri seremoni penutupan Uji Kompetensi Keahlian siswa/i Kelas XII SMK Stella Maris Labuan Bajo, Sabtu, (17/4/2021). Fokus pembahasan saya dalam acara itu adalah bagaimana mendongkrak potensi keunggulan yang semestinya diterapkan dalam praksis pembelajaran di SMK.

Tesis saya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu tidak sama dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Tentu, ada unsur kekhasan yang dipandang sebagai 'kelebihan' dari SMK itu. Hemat saya, perbedaan SMK dengan SMA yang mencolok adalah di SMK selain diberi teori siswa akan diberi keahlian sesuai potensi yang dia miliki.  Sedangkan di SMA siswa hanya akan diberi teori dan tanpa membimbing potensi keahlian nyata dari para siswa. Skema kurikulum pembelajaran di SMK seperti yang diaplikasikan selama ini adalah 30 persen teori dan 70 persen praktik. 

Porsi pembelajaran berbais praktikum jauh lebih besar ketimbang pembelajaran berorientasi teoretis. Dengan itu, sekolah dalam hal ini para guru hendak 'mengasah' ketrampilan (skill) para siswa sesuai dengan bidang keahlian. Para siswa di program keahlian Nautika Kapal Penangkapan Ikan (NKPI) misalnya, kita tidak hanya mengajarkan 'apa itu kapal penangkapan ikan, apa itu jaring dan alat tangkap yang lain', tetapi guru mesti mengajarkan keterampilan dasar bagaimana menangkap ikan di laut dan membimbing siswa bagaimana membuat dan menggunakan pelbaga alat tangkap tersebut.

Demikian pun dengan program keahlian lainnya. Kita tidak bisa hanya berkonsentrasi mengajarkan hal-hal teoretis-kognitf soal pemanduan (guiding) untuk siswa/i program Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Sebaliknya, kita mesti 'turun ke lokasi', membimbing anak-anak bagaimana teknik memandu wisatawan mulai dari penjemputan di Bandara hingga wisatawan itu kembali lagi ke Bandara dalam perjalanan pulang. 

Untuk Program Teknik Kendaraan Ringan (TKR), tidak cukup jika para guru hanya mengajarkan apa itu kendaraan dan pelbagai peralatan atau suku cadang sebuah mesin. Definisi semacam itu tidak ada gunanya jika siswa/i tidak cerdas mengoperasikan dan memperbaiki kerusakkan yang terjadi pada mesin tersebut. 

Tegasnya, kita membekali siswa/i SMK dengan sejumlah keterampilan praktis yang berguna bagi pembentukan jiwa kewirausahaan ketika mereka 'tamat'. Itu berarti kita mempersiapkan peserta didik untuk cerdas dan terampil dalam bekerja. Mereka mesti dilengkapi dengan skill mumpuni untuk memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri.

Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bisa menjadi 'sarana' untuk menggenjot tingkat kompetensi yang mesti dikuasai oleh seorang siswa sekolah vokasi. Dalam dan melalui UKK itu, para guru dan para penguji eksternal dapat mengetahui tingkat penguasaan keterampilan sekaligus memberikan catatan perbaikan yang sangat bermanfaat bagi siswa itu sendiri. Dengan itu, kita mempunyai alasan yang cukup untuk 'meluluskan' siswa dan mengutusnya ke dunia kerja.

Kita tahu bahwa SMK sering kali menjadi pilar terakhir jika orang tua tak mampu membiayai pendidikan anaknya ke SMA dan seterusnya ke tingkat Perguruan Tinggi (PT). Sangat disayangkan jika tamatan SMK tidak terserap di dunia usaha tersebab oleh minimnya skill atau kompetensi keahlian yang dibutuhkan. Saya kira, ini yang menjadi tantangan konkret para pemangku kepentingan (stakeholder) di SMK. 

Karena itu, sebagai pengawas pembina, saya selalu menyuarakan soal pentingnya memperhatikan aspek kelebihan SMK ini. Saya menganjurkan agar pembelajaran berbasis praktik itu mesti dijalankan secara optimal. Ruang pembelajaran siswa/i SMK lebih banyak terjadi di 'lapangan', bukan dalam kelas. 

Untuk meningkatkan kualitas sekolah kejuruan, pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah dan sedang menerapkan program SMK sebagai pusat keunggulan, Center of Excellence (COE). Kurikulum pembelajaran di SMK didesain untuk mengakomodasi perwujudan idealisme menjadikan SMK sebagai Pusat Keunggulan tersebut. 

Diharapkan agar para guru di SMK bisa mengoptimalisasi keberadaan program COE ini sehingga potensi keunggulan SMK bisa terdongkrak. Program COE ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa, tetapi membangkitkan atau memfasilitasi spirit kewirausahaan dalam diri peserta dididik. Sejak dini, para peserta dididik dilatih untuk bisa berwirausaha dengan memaksimalkan semua faslitias yang disediakan oleh sekolah.

Dari penjelasan di atas, maka secara amat ringkas kita bisa membentangkan beberapa potensi keunggulan SMK untuk dijadikan bahan permenungan dan acuan dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan. Pertama, pengembangan potensi keahlian. Berbeda dengan SMA yang hanya mengajarkan teori, di SMK para siswa/i akan diajarkan banyak hal yang meliputi teori dan praktek sesuai jurusan. Sebagai contoh mereka yang mengambil jurusan Perhotelan, potensi akan bakat tentang dunia perhotelan akan dikembangkan di sana. Selain dapat teori mereka juga dapat pelajaran produktif yang berbasis praktikum di lapangan. Jadi, inilah yang menjadi nilai plus sebuah SMK. Potensi pembelajaran produktif berbasis praktek inilah yang mesti digenjot secara serius di SMK.

Kedua, tamatan SMK juga bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jika anda melanjutkan ke SMA itu berarti anda diwajibkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun jika kita sekolah di SMK maka anda bisa langsung bekerja. Tetapi, jika anda ingin melanjutkan pendidikan setelah selesai SMK maka kita bisa melanjutkannya sambil bekerja.

Ketiga, menghasilkan lulusan dengan karakter baik. 
Anak SMK biasanya dari kalangan yang kurang mampu. Tentu saja mereka sadar dengan kondisi keluarga mereka. Setelah lulus nanti, kemungkinan mereka tidak akan sombong dan tentu akan bekerja dengan keras karena mereka memiliki tujuan yang pasti yakni untuk membahagiakan kedua orang tua dengan jalan memperbaiki perekonomian keluarga.

Keempat, mudah mendapatkan pekerjaan. Jika misalnya kita sekolah di SMK jurusan Perhotelan dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jurusan Perhotelan lagi itu berarti kita sudah lebih paham tentang dunia Perhotelan dibanding teman-teman yang lain. Hal ini tentu saja  dilihat oleh perusahaan dan menjadikan pertimbangan tersendiri dalam merekrut para pekerja.

Mengacu pada keunggulan tersebut, maka hendaknya para guru dan para pemangku kepentingan lainnya, untuk benar-benar memperhatikan upaya peningkatan dan pendayagunaan sisi kelebihan SMK. Dengan itu, SMK tidak lagi menjadi lembaga 'pencetak penganggur terbanyak', tetapi lembaga pemasok tenaga kerja yang berkompeten dan profesional.

*Penulis adalah Pengawas Pembina SMK  di Manggarai Barat.
×
Berita Terbaru Update