-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Minggu Paskah: "Di Mana Tuhanku, Dia Diambil Orang?"

Minggu, 04 April 2021 | 16:52 WIB Last Updated 2021-04-04T09:52:00Z
Hari Minggu Paskah 2021
Bac I : Kis 10:34a.37-43
Kol : 3:1-4
Injil : Yoh 20:1-9

“DI MANA TUHANKU, DIA DIAMBIL ORANG ?”

RP. Fidel Wotan, SMM

Berita tentang Kebangkitan Tuhan Yesus serta pesan dari dalam kubur Yesus sungguh sangat mengejutkan para perempuan yang datang ke makam Yesus. Mereka sangat goncang, takut, ketika mendengar berita itu. Mereka berlari karena takut, panik (siapa sih yang tidak takut?) Mereka bungkam seribu bahasa. Tampaknya mereka tidak mau menjumpai siapa-siapa. Mereka takut karena tidak mau dituduh sebagai pendusta.

Sudah sejak Perjanjian Lama secara khusus dalam Kitab Mazmur, sejatinya Tuhan itu hidup dan abadi. Oleh karena Dia itu hidup dan kekal, maka Cinta Kasih atau Kasih Sayang-Nya pun kekal abadi, tak pernah mati. Tuhan dengan “tangan kanan-Nya”, yaitu seluruh kekuatan-Nya menjadikan yang tadinya mati kini menjadi hidup kembali. Dia menjadikan yang tadinya dianggap telah musnah, kini menjadi ada dan hidup lagi. Oleh karena itu, batu yang dianggap “mati” karena sudah dibuang orang, justru telah dijadikan oleh Tuhan sebagai “batu penjuru”. Batu itu menopang hidup untuk seluruh isi rumah dan karenanya ia membuat rumah itu tetap kokoh kuat berdiri.

Kebangkitan itu sebetulnya tidak dapat diterima dan dipahami selama yang dicari ialah Yesus yang mati. Yesus yang baik hati yang kini tiada lagi. Kebangkitan adalah berita bagi mereka untuk membuka hati dan akal bagi dunia baru, yakni dunia yang menjadi milik Allah sendiri.

Dalam Injil hari ini (Yoh 20:1-9), Penginjil Yohanes mengisahkan bahwa pada hari pertama setelah hari Sabat, Maria Magdalena dan teman-teman lainnya (tanpa menyebut siapa mereka [nama]) pergi mengunjungi makam Yesus. Saat itu Jenazah Yesus sudah dua hari dibaringkan di situ. Biasanya makam orang Yahudi dipahat pada bukit batu dan pintu makam disegel (ditutup) dengan batu. Segera sesudah Maria Magdalena melihat batu penutup makam itu sudah terguling, ia langsung menyampaikan hal itu kepada Petrus dan seorang murid lain, yakni murid yang dikasihi Yesus (baca: Yohanes). Murid ini melihat hal itu dan percaya, sedangkan Petrus samasekali belum mengerti meskipun dia tahu bahwa isi makam itu kosong, semuanya tampak teratur: “maka tibalah juga Simon Petrus menyusul dia, dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping, di tempat yang lain, dan sudah tergulung.” (Yoh 20:6-8). Petrus memang belum bisa percaya dan mengerti peristiwa makam kosong itu. Ia belum memahami akan isi Kitab Suci bahwa Yesus harus bangkit dari antara orang mati.

Terlepas dari perasaan takut para perempuan yang melihat kuburan kosong, tidak ada Jenazah Yesus, kita diajak untuk melihat sikap lain yang ada dalam diri mereka, yakni, pergi memberitahukannya kepada para murid yang lain. Warta atau berita ini tidak boleh mereka sendiri yang tahu karena itu harus disampaikan kepada murid-murid lain. Nah, pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus, dan ia melihat rupanya batu telah diambil dari kubur. Kemudian ia menemui Petrus dan Yohanes dan berkata: “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya, dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Mendengar itu, pasti Petrus merasa penasaran, apakah berita itu betul atau tidak, Dari sebab itu, dia berlari bersama murid yang lain (Yohanes) ke makam Yesus. Di situ mereka hanya melihat “kain kapan dan tudung itu tergulung, letaknya terpisah dari kain kapan”. Mereka melihat hal itu dan mengetahui bahwa tidak ada Jenazah Yesus. Jikalau demikian, di manakah Dia? Mereka percaya kepada Maria Magdalena yang menyampaikan hal itu, akan tetapi Injil mengatakan bahwa mereka belum juga memahami isi Kitab Suci: Yesus harus bangkit dari alam maut.

Iman para rasul akan Kebangkitan Yesus, lambat laun tumbuh, meskipun mereka masih dihantui rasa bimbang dan ragu. Demikianlah misalnya, Petrus pada makam kosong itu belum mau percaya juga dan sesudah nanti bertemu dengan Yesus secara langsung, ia kemudian percaya (Luk 24:12.34; 1 Kor 15:5). Nah, tanda itu hanya dapat dipahami oleh murid lain yang dikasihi Yesus karena intuisinya lebih tajam dari Petrus. Sekarang, Petrus tinggal saja memberi kesaksian resmi sebagai Pemimpin para Rasul, dan ini mungkin terjadi karena ada desakan Yohanes.

Apa yang menarik dari keyakian Yohanes, bahwa orang tidak perlu melihat dulu baru percaya, seperti Petrus yang belum mau langsung percaya ketika melihat makam Yesus kosong. Kristus sudah bangkit, dan kita semua adalah murid-murid-Nya, juga samaseperti para Rasul-Nya dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya. Kita menjadi saksi hanya dalam dan melalui seluruh hidup kita, melalui tindak-tanduk kita.

Sebagai murid Kristus, kita yang percaya kepada kebangkitan Yesus, diajak untuk mengarahkan usaha dan karya hidup kita, perbuatan-perbuatan kita kepada Kristus itu sendiri. Ini artinya, jangan pernah menjadi orang yang selalu dikuasai oleh segala macam persoalan-persoalan dunia, kuatir akan hal-hal duniawi, tergiur oleh urusan-urusan duniawi (uang, harta, benda, status, jabatan atau pekerjaan, korupsi, suap, dst.,), melainkan seperti yang dikatakan St. Paulus, “arahkanlah perhatianmu kepada harta surgawi itu, bukan kepada yang di dunia. Kamu sudah mati dan kehidupanmu tersembunyi dalam Allah bersama Kristus”. Pusat kehidupanmu yang sesungguhnya ialah “KRISTUS”. Jadi, sangat jelas, kita yang pada hari ini merayakan Kebangkitan Kristus, diajak untuk sungguh-sungguh mengarahkan hidup kepada Kristus. Apakah kita semua berani dan maukah kita mengarahkan hati, pikiran, kehendak, harapan, angan-angan kepada Kristus yang bangkit itu? Selamat Paskah Tuhan. Alleluya.

Seminari Montfort, 4 April 2021
×
Berita Terbaru Update