-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PASKAH: UBI AMOR IBI OCULUS

Minggu, 04 April 2021 | 15:34 WIB Last Updated 2021-04-04T08:52:33Z
Satu hari pada malam yang tak berterang bulan dan bintang, saya tertarik oleh satu cahaya obor di jalanan. Tak biasa, pada zaman ini, orang berjalan dengan obor terang di jalan raya. Walaupun gelap, orang biasanya percaya diri karena sudah hafal jalannya. Bahkan anak-anak muda sering kali bertingkah berani mengendarai motor tanpa lampu. Kami sudah hafal jalan! Kata mereka. Para pejalan kaki juga, hampir pasti, tidak akan membawa obor atau sejenisnya ketika melintasi jalan beraspal. Paling sering kita menjumpai orang berjalan malam dengan handphone di tangan.

Namun malam itu agak lain; dan saya kira ini agak langka untuk generasi sekarang. Obor itu berjalan pelan, menyusuri jalan beraspal. Lalu saya dengan cahaya senter pada handphone keluaran terbaru waktu itu, mendekat ke arah datangnya cahaya obor. Saya berdiri di depan pastoran, tempat saya tinggal dan berusaha menunggu, siapa sebenarnya yang berjalan membawa obor. Betapa mengejutkannya, ternyata yang berjalan membawa obor itu adalah seorang kakek yang saya tahu, tak dapat melihat karena tuna netra. Dialog berjalan baik, dia mengenali saya dari suara. 

Lalu saya tanya tentu dengan permisi: apakah anda bisa melihat sehingga perlu menggunakan obor? Aku perlu terang, agar para pengguna jalan yang kadang tidak membawa terang, bisa melihatku dan tidak menabrak aku! Jawabnya meyakinkan. 

Setelah berceritera sebentar, saya kembali ke kamar dan merenung kata-katanya: AKU PERLU TERANG, AGAR PARA PENGGUNA JALAN YANG KADANG TIDAK MEMBAWA TERANG, BISA MELIHATKU DAN TIDAK MENABRAK AKU! Dia membawa obor bukan untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk menerangi mata orang yang bermata baik agar melihat cahaya.

Ada juga kisah kecil dan sederhana, yang saya dapat dan alami di sebuah kampung di tempat TOP dulu. Dua orang lansia dengan keterbatasan masing-masing; satu tidak dapat melihat, satu lagi tidak dapat mendengar. Namun yang terjadi adalah, mereka bisa berkomunikasi dengan lancar, nyambung dan kelihatan bahagia sekali. Untuk yang buta, saya masih bisa paham karena dia bisa mendengar. Namun bagi yang tuli, bagaimana dia bisa memahami apa yang lawan bicara katakan? Ketika saya tanya, dia bilang: SAYA BISA MENGERTI APA YANG ORANG LAIN BICARAKAN DENGAN MELIHAT BIBIR, GERAKAN BIBIR. TELINGA BOLEH TULI, MATA MESTI DIPERTAJAM. Saya tertegun dan terus merenungkan kata-kata itu. Kekuatan, kecekatan dan ketelitian mata untuk melihat; itu yang dibutuhkan.

Hari ini kita memasuki puncak iman Kristiani, misteri Paskah, misteri kebangkitan Tuhan Yesus dari maut yang merenggut nyawa manusiawiNya. Ada banyak diskusi tentang kebenaran kisah ini, tapi sebagai orang Kristen, kisah ini adalah sebuah fakta sejarah sekaligus fakta iman yang tidak dibantah oleh alasan rasional apa pun. Banyak diskusi yang mengerucut pada penyerangan, tapi hingga kini Gereja tetap teguh berdiri dengan imanNya pada Kebangkitan Yesus. Kalau Yesus tidak mati dan bangkit, Gereja pun bisa dipastikan tidak ada. Landasan berdirinya Gereja adalah, pada Yesus yang lahir sebagai manusia Allah, mati di kayu salib dan bangkit dengan jaya.

Malam Paskah pada setiap Gereja Katolik menjalankan ritus yang sama, dari Roma sampe ke Poco Leok, Boncu Kode, Gencor, atau Kaca bahkan sampai pelosok mana pun di dunia yang belum disentuh modernisasi, di mana gereja sudah ada. Struktur perayaan, jumlah bacaan, rumusan bacaan dan ritus-ritus yang dilewati hampir pasti semuanya sama. Yang berbeda mungkin Bahasa yang digunakan dan pemimpin serta umat yang mengambil bagian di dalamnya. Hal ini tentu untuk menunjukkan bukan saja tentang uniformitas melainkan terutama aspek communion dari Gereja Katolik. Meski terpisah karena ruang dan waktu, kita tetap satu karena menyembah Yesus Tuhan yang satu pula.

Malam Paskah penuh dengan symbol. Di sana ada api unggun dari api baru symbol semangat dan sumber terang juga penyucian. Ada lilin paska symbol kehadiran Yesus sebagai Cahaya atau terang sejati. Ada air baptis symbol pembersihan, penyucian dan hidup baru. Ada bunga dan wewangian yang semerbak. Dan semua simbol yang digunakan itu mengerucut kepada keyakinan pada kehidupan. Yang dominan dan menjadi central adalah TERANG yang ditandai dengan adanya api unggun dan lilin Paskah yang besar diprosesikan sebagai LUMEN CHRISTE, dan lilin kecil di tangan umat sebagi kesiapan untuk menyalurakan LUMEN CHRISTE. 

Saya sengaja mengangkat dua kisah di atas lalu membuat semacam refleksi kecil berdasarkan kisah Paskah, Kisah Terang Yesus yang bangkit dari kubur.

Terang Itu Datang Dari Kubur

Kubur atau makam adalah ruang tertutup yang kadar terangnya sangat minim, kalau tidak mau dikatakan gelap gulita. Sirkulasi cahaya dan udaranya tidak memungkinkan dalam ruang tertutup itu kita bisa melihat apa-apa, apa lagi untuk bernafas. Dan Yesus yang adalah putra Allah pernah mengalami nasib sial, dibenamkan dalam ruang sumpek itu. Tangan yang sebelumnya terentang terikat, kaki yang sering melangkah dan menjulur gagah perkasa terkulai dan terkungkung dalam alam orang mati. Dia turun ke dunia bawah tanah yang tak mungkin memiliki cahaya apa pun. Tubuhnya yang tak bernyawa dibenamkan dalam ruang yang demikian tak memberikan jaminan pada kehidupan. 

Namun apa yang terjadi? Dari ruang yang tak menjamin kehidupan malah tampilah kehidupan yang sesungguhNya. Yesus putra Allah lebih berkuasa dari kekuatan apa pun dan cahaya yang tidak berpengaruh dalam ruang tertutup itu malah memancar bias, memenuhi jagad raya. Terang benderang, cahaya yang abadi malah mengalahkan kekuatan makam dan dari makamlah cahaya kebangkitan, cahaya kemahakuasaan Allah, cahaya kehidupan itu membias menerangi seluruh jagad. Terang itu malah datang dari Kubur, kepastian datang malah saat di mana kita kehilangan harapan.

Secara simbolik, peristiwa kebangkitan Yesus akan dapat kita pahami dengan lebih baik jika kita menelusuri sejarah keselamatan. Sebab dari situlah kita melihat karya Allah, setapak demi setapak menuntun manusia yang sering jatuh ke dalam dosa dan memilih jalan dalam kegelapan, kembali menuju ke jalan kehidupan, jalan terang, sebagaimana dikendaki Allah sejak penciptaan. Allah mengampuni orang-orang berdosa, Allah mengirim utusanNya untuk memanggil pulang kawanan yang tersesat dan terakhir Allah menunjukkan solidaritasNya dengan situasi penderitaan manusia dengan mengutus Yesus. Yesus memang datang untuk mengantar manusia ke jalan kebenaran, jalan terang bahkan karena cintaNya, Dia rela terkurung dalam makam dengan gelar: jenasah. Tapi Allah tetaplah Allah; kisah kebangkitan itu membuktikan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan bahwa dosa dan kekuatan kegelapan selalu kalah di hadapan terang Allah. Yesus Kristus berkuasa atas hidupNya dan kebangkitanNya menunjukkan bahwa hidup insaniNya dimuliakan berkat kesatuanNya dengan hidup IlahiNya. Dalam kebangkitanNya, Kristus membangun manusia baru, manusia yang terlibat dalam keilahianNya, manusia yang memancarkan terang Ilahi. Dengan kata lain, kematian Yesus dan masuknya Dia ke dalam dunia orang mati, ikut membenamkan dan menguburkan segala keluh, segala luka, segala dosa manusia. Dan ketika Dia bangkit, harkat dan martabat kita manusia pun ikut diangkatNya. Dosa kita diampuninya, status hamba disingkirkan dan kita boleh menikmati Kemuliaan bersama Dia. Karena itu, iman dan kepercayaan pada kebangkitan Yesus tidak pernah “percuma” karena kita mendapatkan dampaknya bahwa harkat dan martabat kita sebagai kaum berdosa dipulihkan dengan darahNya sendiri. 
Namun, itu tidak berarti semua sampai di situ. Menerima rahmat besar, juga menuntut tanggung jawab besar. Menerima cahaya menuntut kita juga untuk menjadi cahaya.

Di Mana Ada Cinta di Situ Ada Mata

Allah tunjuk pesona dengan membangkitkan putraNya Yesus Kristus. Kemudian Dia menunjukkan pesonaNya dengan hadir dalam diri malaikat yang berwajah seperti cahaya, berpakaian putih kemilau seperti salju. Bahwa Allah hadir secara sungguh dalam simbol-terang itu. Dia memaklumkan kehidupan yang baru dengan pesan agar jangan takut; harus berani mewartakan terang. Jangan takut! Aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Dia tidak ada di sini sebab Dia sudah bangkit, seperti yang sudah dikatakanNya. 

Dalam cahaya kebangkitan Maria Magdalena dan kawan-kawan dengan suka cita pergi memberikan kabar kebangkitan itu ke Galilea. Tanpa harus berkata-kata, cukup menunjukkan suka cita, Maria Magdalena membangkitkan keberanian para murid, saudara2 Yesus untuk mewartakan Paskah, mewartakan terang kebangkitan, mewartakan kemenangan kehidupan. Paulus yang juga diliputi oleh pengalaman perjumpaan dengan Yesus, cahaya yang menyilaukan dan membebaskan dia dari kegelapan, berani mewartakan sukacita paskah itu. Kepada jemaat di Roma, Paulus menyampaikan bahwa karya penebusan hidup dan pengampunan dosa manusia itu terlaksana pada diri manusia bila manusia menerima dan mengimani Yesus dan mau dibaptis. Itulah sebabnya pada mala mini, kita membaharui pembaptisan kita, untuk menghalau kegelapan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang bercahaya.

Maka konsekwensinya adalah: seperti malaikat yang bercahaya, Maria dan para murid yang bersuka cita, Paulus yang penuh keberanian, kita pun mesti mengambil pesan positif dari Perayaan ini. Energy paskah mesti membangkitkan semangat untuk beranjak dan berkiprah di tengah dunia. Bahwa lilin paskah yang kita nyalakan, lilin pribadi yang kita pegang dan terutama baptis Roh Kudus yang kita terima seharusnya memampukan kita untuk memiliki mata yang terang melihat dunia, melihat penderitaan dan kebutuhan orang lain. Kalau kita tuli, setidaknya, mata kita bisa melihat situasi dunia ini dan dengan itu, kita bisa tergerak untuk bersolider, untuk mengambil bagian dalam upaya membangun dunia, menciptakan perdamaian, menunjukkan belas kasih kepada orang yang susah. Mungkin kita tidak bisa melakukan satu karya yang besar, berbuat kasih dengan cara yang paling sederhana sudah cukup. Di tengah pandemic covid-19 yang mengglobal, paskah mesti menjadi energy bagi kita untuk terus solider, dengan membagi sedikit dari rejeki kita untuk mereka yang sudah; menggunakan masker ketika kita keluar rumah, menjauhi kerumunan dan mengikuti protocol kesehatan yang lainnya.

Kisah orang tua yang buta, yang saya angkat dan kisah dua orang tua yg cacat, setidaknya menjadi contoh bahwa PASKAH ITU BUKAN TENTANG RITUS, TETAPI TENTANG KETERLIBATAN DALAM KEHIDUPAN ORANG LAIN. Bahwa cahaya itu harus terang, terutama lewat kehidupan yang kita jalankan. Paskah harus membangkitkan kepedulian dan meningkatkan solidaritas. Di mana ada cinta kasih Allah selaluh hadir. Standar keberimanan tidak hanya diukur dari tebalnya kulit lutut karena rajin bersujud. Tidak juga diukur dengan pengetahuan kita tentang jumlah huruf dalam setiap darasan doa-doa yang kita kita daraskan. Iman itu tidak perlu diukur. Iman akan paskah kebangkitan Yesus itu mesti dibuktikan lewat kesediaan untuk “tunjuk pesona” kebaikan terhadap satu sama lain. Iman mesti melahirkan kebaikan hati bukan kebencian. PASKAH YANG SESUNGGUHNYA ADALAH KETIKA KITA PUNYA MATA DAN BERANI MENJADI OBOR. AKHIRNYA SELAMAT PESTA PASKAH DAN TUNJUKAN PESONAMU. UBI AMOR, IBI OCULUS! DI MANA ADA CINTA, DI SITU ADA MATA.

Oleh: Pater Wendly J. Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update