-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pater Tuan Kopong: Berlindung Dalam Keheningan

Senin, 26 April 2021 | 15:00 WIB Last Updated 2021-04-26T08:00:24Z
“Sayangnya, kami, para pemimpin Gereja, berlindung dalam keheningan. Kami seperti anjing penjaga, yang kehilangan keberanian untuk setidaknya menggonggong.” (Mgr. Broderick Pabillo: Administrator Apostolik Keuskupan Agung Manila).

Ruang-ruang publik termasuk media sosial, sudah menjadi panggung bagi mereka yang menyebarkan kebencian, fitnah bahkan penistaan atas nama agama. Harus kita akui itu. Sedang orang-orang baik dan benar yang berkualitas dan diharapkan untuk memasuki ruang-ruang kehidupan masyarakat untuk menyampaikan kebaikan, keadilan dan kebenaran sepertinya lebih jalan “keheningan” atas nama menjaga silaturahmi.

Ajaran-ajaran agama yang baik dan benar termasuk suara-suara moral yang harus disuarakan pada akhirnya menjadi sebuah “penjara” kesalehan, penjara “moral” bahwa agama kita tidak mengajarkan pembalasan tetapi mencintai, agama kita tidak mengajarkan kebencian tetapi mendoakan dan mengampuni.

Betul bahwa kita diajarkan untuk mencintai, mendoakan dan mengampuni tetapi bukan berarti tanpa suara kenabian yang menyerukan moral kebaikan, keadilan dan kebenaran di tengah ketidakadilan dan ketidakbenaran. Yesus yang menentang praktik ketidakadilan dan kemunafikan para Ahli Taurat, orang-orang Farisi dan para Imam kepala, apakah merupakan sebuah ungkapan balas dendam dan kebencian?

Karena cinta-Nya yang begitu besar pada kemanusiaan maka Ia menyuarakan suara kenabian entah dalam bentuk kritik maupun protes demi merajanya cinta kasih, keadialan dan kebenaran bagi semua. Yesus mengajarkan kepada kita semua bahwa suara kenabian entah berupa kritikan terhadap segala bentuk praktek ketidakadilan, ketidakbenaran dan penistaan adalah ungkapan nyata cinta kasih kita kepada semua orang yang mengharapkan keadilan, kebenaran, perdamaian dan persatuan.

Apakah ketika orang tua kita yang tidak setuju terhadap tutur kata dan tindakan kita yang tidak baik adalah bentuk bahwa mereka tidak mencintai kita? Atau bahkan kemarahan mereka merupakan bentuk perlawanan terhadap kita? Tidak! Semua itu adalah ungkapan kasih mereka agar kita menjadi orang yang lebih baik dan benar dalam bertutur kata dan bertingkah laku.

Suara kenabian kita adalah suara kebenaran dan kasih yang membuka mata setiap orang akan adanyan ketidakadilan dan ketidakbenaran yang terjadi. Adalah sebuah “kejahatan rohani” ketika kita mengedepankan cinta, doa dan pengampunan namun kemudian membiarkan kejahatan dan keburukan terus bertumbuh subur.

Adalah sebuah “kejahatan moral” ketika diam menjadi pilihan untuk menyelamatkan diri ataupun sebuah hubungan sosial meskipun kejahatan dan keburukan nyata kita alami dan lihat di tengah kehidupan masyarakat banyak.

Sayapun mengimani kekuatan doa, cinta dan pengampunan namun apakah kemudian membuat saya harus memilih untuk diam sedang perilaku buruk semakin merajalela di mana yang juga selalu mengatasnamakan agama dan keyakinan.

Kelimpahan hidup bagi semua orang hanya bisa terwujud ketika suara kebaikan dan kebenaran juga terus kita suarakan dalam bentuk apapun agar semakin banyak orang yang masuk melalui satu pintu keselamatan yaitu pintu keadilan, kebaikan dan kebenaran. (Bdk. Yoh 10:1-10).

Mungkin pesan bijak Mgr. Pabillo ini bisa menjadi inspirasi kita bersama bahwa menyuarakan keadilan, kebaikan dan kebenaran entah dalam bentuk kritikan yang membangun, masukan usul dan saran ataupun seruan-seruan moral lainnya bukanlah sebuah hal yang tabuh bagi para pemimpin agama termasuk pemimpin Gereja bahkan tidak juga bertentangan dengan ajaran Gereja di samping doa, cinta dan pengampunan yang menjadi pedoman iman dan moral kita.

"Di Gereja, ada orang yang memilih untuk tidak berbicara meskipun ada kejahatan yang nyata di masyarakat." (Mgr. Pabillo).

Manila: 26-April 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update