-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pembelajaran Bahasa Inggris dan Lab Penerjemahan Berbasis Budaya Lokal

Jumat, 30 April 2021 | 09:33 WIB Last Updated 2021-04-30T02:33:43Z
Oleh: Sil Joni*

Yang global dan yang lokal hadir secara simultan dalam industri pariwisata. Meski pariwisata Manggarai Barat (Mabar) berlabel 'super premium', kecintaan pada produk lokal tak pernah surut. Bahkan justru 'produk budaya lokal' terus dikampanyekan untuk tampil ke permukaan, sebagai komoditas primadona yang bisa mengubah image atau branding pariwisata kita.

Mempromosikan 'anasir lokal' ke pentas globalisasi industri turisme, tentu membutuhkan tingkat sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Lembaga pendidikan formal, sudah pasti memikul tanggung jawab besar dalam mengangkat performa SDM kepariwisataan tersebut. Generasi muda Mabar mesti mendapat pengetahuan dan keterampilan teknis bagaimana 'menguasai bahasa asing' dan menggunakan bahasa itu dalam mempromosikan dan memperkenalkan pelbagai kearifan lokal (local wisdom) kepada para wisatawan global. 

Praksis pembelajaran yang 'berbasis budaya lokal', masih sebatas ideal teoretis dan retorika. Para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan belum secara kreatif dan progresif menerapkan skema pembelajaran berbasis kearifan lokal itu.

Kendati demikian, atensi dan imperasi untuk mengimplementasikan praksis pembelajaran berbasis lokalitas, terus disuarakan atau digerakkan. Mata pelajaran Bahasa Inggris mungkin didorong untuk 'memakai konten budaya lokal' dalam menjabarkan pengetahuan dan kompetensi berbahasa Inggris kepada para peserta didik.

Dengan itu, selain skill berbahasa asing semakin terasah, para siswa juga tidak merasa terasing dari alam kebudayaan mereka sendiri. Para siswa tidak kesulitan untuk menjelaskan produk budaya lokal beserta nilai-nilai tradisi yang bersifat khas di wilayah ini.

Urgensitas dan pentingnya menerapkan pembelajaran Bahasa Inggris dan proyek penerjemahan berbasis budaya lokal ini, ternyata menjadi salah satu keprihatinan dan pusat perhatian dunia Perguruan Tinggi (PT). Universitas Warmadewa (Unwar) Bali misalnya berencana menawarkan Program Pengajaran Bahasa Inggris dan Translation Lab Berbasis Budaya di Mabar. 

Seperti yang dilansir oleh Media-Wartanusantara.id, Rabu, (28/4/2021), Universitas Warmadewa berencana menyelenggarakan program pengajaran Bahasa Inggris dan Lab Penerjemahan (translation Lab) berbasis budaya lokal di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) yang dimulai pada tahun 2021 sampai tahun 2023.

Demikian rangkuman hasil pertemuan antara I Wayan Budiarta,  dosen yang mewakili rektor Universitas Marwadewa dengan Wakil Bupati (Wabup) Mabar, dr. Yulianus Weng di ruang kerjanya pada Senin, (26/4/2021).

Wabup Yulianus menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu ada dua poin program yang ditawarkan oleh pihak Universitas Mahadewa.

Pertama, akan diadakan program pengajaran Bahasa Inggris berbasis budaya lokal di Labuan Bajo. Pihak Universitas akan menerjunkan mahasiswa untuk mendampingi guru dalam menyusun modul pembelajaran dan proses pembelajaran yang lebih menarik berbasis budaya lokal.

Kedua, namanya adalah translation lab (Lab Penerjemahan) yang akan bekerja sama dengan kampus Universitas Flores (Unflor). Mahasiswa diterjunkan untuk mengumpulkan cerita rakyat yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Semua kegiatan itu akan berlangsung 6 bulan atau setara dengan 20 sistem kredit semester (SKS).

Sementara itu, I Wayan Budiarta menjelaskan soal latar belakang, mekanisme/tahapan pelaksanaan dan peran dari mitra yang terlibat dalam program tersebut.

Beliau menegaskan bahwa penerjemah telah menjadi profesi dengan penghasilan yang menjanjikan. Peluang-peluang di bidang ini masih terbuka lebar.

Hanya saja, belum banyak informasi mendetail terkait profesi dan peluang kerja  di bidang ini yang tersampaikan ke mahasiswa. Mahasiswa belum memahami bahwa profesi ini memilki prospek masa depan yang menjanjikan secara finansial.

Daerah yang akan dijajaki adalah wilayah kebudayaan Manggarai. Cerita rakyat yang didokumentasikan itu kemungkinan berbahasa Manggarai, Komodo, Namut, Riung dan Rongga.

Pendokumentasian dan pengalihbahasaan budaya lokal ke Bahasa Indonesia bertujuan mengenalkan budaya setempat ke pentas nasional.

Sedangkan mengenai mekanisme dan tahapan pelaksanaannya, I Wayang menjelaskan bahwa program itu akan dimulai pada tahun 2021 ini hingga 2023.

Secara garis besar, rincian mekanismenya adalah pada tahun 2021 diadakan survey lokasi, pengembangan materi dan penyusunan modul, pengumpulan data, verifikasi dan validasi data, proses penerjemahan, proses editing, penilaian, monitoring, penerbitan dan publikasi pertama.

Pada tahun 2022 dan 2023, demikian I Wayan tahapan kegiatannya tetap sama, tetapi fokusnya berbeda.  Tahun 2022, topiknya tentang makanan tradisional dan tahun 2023 berfokus pada topik lain, misalnya tentang hukum adat.

Lebih jauh, I Wayan mengungkapkan soal kelompok yang menjadi mitra dan narasumber dalam kegiatan ini. 

Unwar akan bermitra dengan tokoh adat Mabar sebagai narasumber tradisi atau budaya lisan. Selain itu, dengan Universitas Flores sebagai konsultan dari sisi akademisi terkait budaya setempat, sebagai tim bahasa lokal.

Jika dicermati secara serius, sebenarnya dua program yang ditawarkan pihak Unwar itu, hampir sama dengan yang digeluti oleh anggota grup diskusi facebook, Guru Mabar Menulislah (GMM). Saya kira selama ini kita gencar mendiskusikan soal metode atau pola pembelajaran yang berbasis budaya lokal itu. Tetapi, kita belum samakan persepsi perihal modul (kurikulum) dan pola penjabarannya dalam ranah praksis. Artinya, pada level diskursus, kita sudah membahas program pembelajaran berbasis budaya, namun belum diaplikasikan secara serius dalam level implementasi.

Hal yang sama berlaku untuk program Lab Penerjemahan berbasis cerita rakyat. Saat ini, komunitas GMM sedang merampungkan proses penerjemahan dan pendokumentasian cerita rakyat di seputar destinasi wisata favorit. Pelbagai kisah rakyat itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Jadi, sebelum pihak Unwar Bali tawarkan program itu ke Mabar, komunitas GMM sudah melakukannya dan bahkan sebentar lagi hasilnya akan segera tampak.

Proyek yang dirancang oleh GMM sebenarnya tidak kalah 'berkualitas' jika dibandingkan dengan dua program Unwar itu. Sayang, komunitas GMM tak punya cukup kapital dan power untuk menjadikan program kerjanya didukung secara politis oleh pemerintah daerah.

*Penulis adalah anggota komunitas GMM. Tinggal di Watu Langkas.
×
Berita Terbaru Update