-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Penistaan Agama Itu Bermula Dari Dalam Oknum Didalam Agamanya Itu Sendiri

Senin, 19 April 2021 | 11:24 WIB Last Updated 2021-04-19T04:30:16Z
“Orang suka menista agama orang lain, suka mengurusi agama orang lain karena memang dia sendiri sudah terbiasa menodai dan menista agamanya sendiri.”

Ketika saya ditanya tentang pendapat saya soal Joseph Paul Zhang, jawaban saya demikian; “mengapa selalu ada “penistaan” pada agama lain, karena kita sendiripun membiarkan “oknum-oknum” dalam agama kita sendiri ikut “melecehkan” ajaran agama termasuk simbol-simbol agamanya sendiri.”

Saya mengatakan bahwa soal beragama itu juga menyangkut ketaatan. Ketaatan itu adalah bagian dari sikap iman yaitu kerendahan hati. Dan kerendahan hati itu juga diwujudnyatakan melalui sikap penghormatan dan penghargaan terhadap ajaran agama kita sendiri dan bukan sesuai dengan selera pribadi yang mengajarkan atau yang mendengarkan.

Kita semua tahu kok, bahwa di setiap agama ada oknum dan yang paling parah oknum itu adalah mereka yang disebut sebagai “tokoh agama” yang justru mengumbar kebencian terhadap sesama penganutnya, ataupun sesama tokoh agama di dalam agamanya sendiri. Apakah lantas di Katolik tidak? Ada juga oknum seperti itu. 

Mimpin misa sesuai Pedoman Umum Misale Romawi saja sulitnya bukan main. Ketika ada yang mengkritik jawabannya adalah ah itu konservative, tidak gaul, dan tidak ikut perkembangan zaman. Kita harus membuka mata kita untuk melihat kenyataan di dalam agama kita sendiri juga. Misa maunya cepat, entah kotbahnya ditangkap atau didengar yang penting selesai.

Atas nama inkulturasi busana liturgi diganti sesuai kemauan sendiri, padahal inkulturasi bukan sekedar mengganti busan liturgi. Biar umat senang, pokoknya menari, tepuk tangan di dalam Gereja pada saat misa bahkan bermain sulap saat kotbah dianggap itu untuk menyemangati umat. Padahal kita percaya pada karya Roh Kudus yang mengobarkan iman umat. Dan ketika ada umat yang mengingatkan, umat itu dianggap konservative. Peringatan dari umat untuk menunjukan ketaatan pada Gereja justru dianggap konservative. 

Bahkan atas nama dialog atau toleransi kita bisa “menertawakan” simbol-simbol iman kita sendiri hanya untuk mengundang orang beragama lain ikut menertawakan. Dan ketika ada rekan imam yang serius dan terus berjuang taat untuk mengajarkan kebenaran iman justru jauh dari panggung umatnya sendiri.

Tidak hanya agama Katolik, tetapi agama lain juga ada situasi dan suasana seperti itu. Dimana sesama penganut, sesama tokoh agama dalam agama tersebut saling menyudutkan dan merasa yang paling benar walau ajarannya itu justru menista atau menodai agamanya sendiri.
Jadi untuk mendapatkan jawabannya mengapa sekarang banyak orang suka menista agama orang lain, suka mengurusi agama orang lain karena memang dia sendiri sudah terbiasa menodai dan menista agamanya sendiri.

Ketika kita sendiri tidak mampu menghargai orang tua kita sendiri bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan bagaimana mungkin orang lain bisa menghargai orang tua kita sendiri.

Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam kehidupan beragama? Beragama untuk makanan yang akan dapat binasa seperti yang kita alami hari ini karena ketidaktaatan atau untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal karena ketaatan iman kita? (Bdk. Yoh 6:22-29).

Manila: 19-April 2021
Oleh: Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update