-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PINTU TERTUTUP: YESUS MENGUNJUNGI KITA DI RUMAH

Minggu, 11 April 2021 | 10:07 WIB Last Updated 2021-04-11T03:11:51Z
Pasca kematian Yesus, para murid Yesus dan orang-orang dekatnya mendekam dalam rumah dengan pintu tertutup rapat karena takut. Mereka seakan kehilangan harapan dan selera sosialnya menjadi pudar. Mereka mendekam dalam rumah dan menjaga jarak dengan dunia luar. Dalam keadaan macam itu, warta dari perempuan dekat Yesus, kepadanya Yesus menampakkan diri pertama kali, seakan dianggap tidak terlalu kuat untuk dijadikan alasan untuk keluar dan mewartakan sukacita paskah (gerakan sosial). Mereka bergeming dan tetap mendekam dalam rumah. Yesus keluar dari kubur, mereka tetap terkubur di dalam ketakutan, pintu tertutup.
Dalam situasi pintu tertutup, Yesus datang menembus ruang, mendobrak pintu itu tanpa menghancurkannya. Dia berdiri di tengah mereka, menunjukkan luka-lukanya dan memberikan salam damai, menghembuskan nafasNya untuk menguatkan mereka. Ketika mereka mengunci diri, Yesus datang mengunjungi mereka langsung di rumah.

Secara teologis, kisah ini menunjukkan kekuasaan Yesus yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apa pun bahkan oleh tembok tebal rumah-rumah kita. Dia masih bahkan atas inisiatif yang lahir dari kerahimanNya, menembusi semua pagar pembatas sosial kita. Secara fisik, dengan tubuh, kaki, tangan, lambung terluka Dia tampil membawa damai. Dengan menunjukkan fisik yang terluka sebagai bukti, Yesus mau menepis keraguan para murid bahwa yang hadir adalah roh jahat, karena roh jahat tidak mempunyai fisik yang bisa disentuh. Kepada Thomas Didimus, dia berkata: ulurkan tanganmu dan cucukan ke dalam luka lambungku dan percayalah jangan ragu.

Situasi pasca kematian Yesus, sepertinya mirip sekali dengan situasi kita sekarang setelah dua tahun covid-19 mewabah dan menelan banyak korban jiwa di seluruh dunia. Oleh kehadirannya kita dipaksa untuk tetap di rumah lantaran ketakutan akan merebaknya virus covid-19 semakin luas. Bisa jadi dalam situasi ketakutan atau tepatnya kewaspadaan, mungkin kehadiran orang lain dari luar dicurigai sebagai pembawa sial, sebagai karir yang membawa virus. Pintu rumah kita tertutup rapat bagi kehadiran orang lain. Dan kalaupun engkau harus masuk rumah, engkau harus pakai masker dan mencuci tangan. Itu ritual wajib. Secara ekstrim engkau harus karantina diri seturut perintah pihak berwewenang.

Hal ini juga berpengaruh terhadap kebijakan agama-agama, termasuk Gereja Katolik. Gereja menerapkan apa yang disebut doa dari atau di rumah. Gedung-gedung gereja ditutup untuk umat, dan umat bisa terlibat dalam kebaktian atau misa dingan live-streaming, siaran langsung misa dari berbagai gereja lewat berbagai mode media. Di Kota Dili sendiri, tahun ini adalah tahun kedua kami merayakan paskah tanpa perayaan public. Umat Allah mengambil bagian lewat TV atau siaran langsung lewat Facebook.
Banyak dari umat Katolik sendiri yang mengeluhkan ini. Bahkan ada anggota Gereja yang bertanya-tanya di mana iman kita, sampai kita juga harus takut dan harus berdiam diri di rumah dengan pintu tertutup. Tapi baiklah kita kembali bahwa beriman itu mesti rasional juga (bukan rasionalisasi); bahwa ketika kita berdoa dari atau di rumah, itu tidak berarti kita kehilangan iman. Iman itu tentang disposisi batin, tapi tanggung jawab sosial itu tentang ekspresi dan tindakan nyata. Ketika kita memilih berdiam di rumah dan merayakan kebaktian atau ekaristi dari rumah, kita mengambil bagian (tanggung jawab sosial) dalam mengurangi penularan penyakit yang disebabkan virus covid-19. Dengan itu, walaupun tidak semua mengerti, kita tidak mengkianati iman kita, melainkan kita beriman dan langsung menghayatinya dalam aksi nyata. Social atau physically distancing adalah perwujudan dari iman itu sendiri.

Lantas, bagaimana kita bertemu dengan Yesus dalam ekaristi kalau kita tidak mengambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darahNya? Gereja Katolik, telah membaca kebutuhan akan pertemuan intim dengan Yesus dengan menyiapkan satu doa: komuni spiritual. Dulu waktu kuliah di Ledalero, dosen Eksegese kami, P. Simeon Bera Muda, SVD memperkenalkan satu model kebaktian untuk mereka yang karena jarak tidak bisa mengikuti ekaristi yang dipimpin oleh pastor. Kalau tidak salah namanya ISEK: Ibadat Sabda Ekaristi Kerinduan. Ini ditujukan dengan satu kesadaran bahwa dengan “kerinduan” akan tubuh dan darah Yesus seraya mengambil bagian dalam ibadat sabda, sebenarnya kita sudah terlibat dalam ekaristi itu sendiri. Jadi tidak ada gradasi nilai atau tingkatan nilai, bahwa ekaristi langsung itu lebih tinggi nilainya dari pada ekaristi yang diikuti dari rumah. Nilainya sama, bahwa kita mengalami kepenuhan perjumpaan dengan Yesus yang memberikan tubuh dan darahnya untuk menjadi santapan bagi jiwa dan raga. Jadi dengan itu terjawab sudah, bahwa ekaristi dari rumah untuk masa krisis covid-19 memiliki arti dan nilai yang sama ketika kita mengikuti ekaristi di gereja. Kita bisa saja mengelak, tetapi kembali kepada sikap atau disposisi batin kita. Sebenarnya ekaristi live-streaming bisa diartikan dari sudat pandang iman sebagai: Kunjungan Yesus ke Rumah.

Yesus ke Rumah Membawa Damai

Hari ini, Gereja Katolik dirayakan sebagai Minggu Kerahiman, Minggu Putih. Bersamaan dengan itu, kepada kita disuguhkan lagi kisah tentang Penampakan Yesus kepada para murid dalam ruang tertutup; meski semua pintu dan jendela tertutup rapat, Yesus masih bisa masuk dan menunjukkan diriNya secara utuh di tengah mereka. Itu artinya, Yesus sebagai Tuhan yang bangkit, menembus ruang dan waktu. Tak ada lagi kekuatan yang menghalangiNya beraksi.

Secara gemilang Yesus menunjukkan kerahiman-Nya yang terpancar dari lambung (Rahim) dan hati yang lemah lembut dan penuh cinta. Oleh kehadiranNya di dunia, oleh solidaritasNya dengan kehidupan manusia dan terutama oleh wafat dan kebangkitanNya, ditunjukkan secara paripurna dan penuh identitas diri Allah sebagai Yang Maha Rahim, identitas diri Allah sebagai Yang Maha Cinta. Dengan ini kita boleh bilang bahwa, oleh pengalaman akan Yesus, Cinta tidak saja dilihat sebagai perbuatan Allah, tetapi lebih dari itu Cinta adalah identitas Allah, Allah adalah cinta, Deus caritas est. Allah adalah Kerahiman, Allah adalah kasih.

Kerahiman itu telah ditunjukkan oleh Allah dalam diri Yesus dan Yesus telah menunjukkan itu dalam seluruh karyaNya. Dan hari ini terangkum dalam “pemberian salam damai”; Damai sertamu. Sapaan damai sertamu yang dilanjutkan dengan penunjukkan luka lambung, tangan dan kaki membangkitkan kegembiraan pada para murid dan ketakutan pun hilang lenyap. Para murid merasakan kedamaian oleh kehadiran Tuhan.
Dan untuk kita yang melalui situasi sulit oleh pandemic covid-19 dan juga oleh bencana badai Siclon atau dikenal badai seroja, barangkali bisa memetik pesan iman dari kisah ini bahwa Yesus juga hadir. Yesus juga mengunjungi kita dari rumah ke rumah, dari tenda ke tenda pengungsian dan membawa damai. Covid-19 tentu saja membuat kita takut dan cemas. Bencana alam, tanah longsor dan banjir bandang serta angin kencang yang melanda daerah kita tentu membuat kita trauma dan sedih. Namun sebagai orang percaya, kita tetap teguh yakin bahwa Tuhan Yesus yang bangkit juga hadir dalam situasi dan kemelut hidup kita. Karena itu sebagai orang percaya kepada Allah, kita juga mesti menghilangkan ketakutan dan membangkitkan optimisme dari dalam diri bahwa bersama Yesus, bersama Allah semuanya akan baik. Bahwa ada yang tidak kuat, akan mati tapi itu tidak berarti bahwa harapan kita dan kepercayaan kita kepada kerahiman Allah sirna seketika. Ingatlah akan satu hal ini, bahwa Allah yang ada dalam situasi kegembiraan adalah Allah yang juga hadir dalam suasana duka. 

The God on the mountain is still God in the valley
The God of the good times, is still God in the bad times
The God of the day, is still God in the night

Kita dari Rumah: Menjadi Agen Kerahiman Allah

Iman harus berbuah solidaritas, keadilan, perdamaian dan cinta kasih terhadap alam dan sesama. Iman harus berorientasi pada kebaikan bersama, bukan saja bertujuan pada kesalehan pribadi. Iman mesti ditunjukkan dalam tanggung jawab sosial. Setelah memberikan salam damai kepada para muridNya, Yesus juga menghembuskan nafas, memberikan roh kudus sebagai kekuatan spiritual kepada para pengikutNya. Bahwa oleh hembusan nafas Yesus, mereka menerima tanggung jawab untuk menjadi agen kebaikan, membawa pengampunan bagi yang salah, memberi harapan kepada yang putus asa, membawa damai di mana ada pertikaian, pembawa keadilan di mana penindasan, pertolongan bagi mereka yang menjadi korban bencana. 

Maka kita pun yang menerima kunjungan Yesus di rumah masing-masing mestinya juga menjadi agen kerahiman Allah, menjadi agen cinta kasih Yesus. Di tengah pandemic covid-19 dan pasca bencana alam yang melululantahkan beberapa daerah, kita melihat ada semangat cinta kasih dan kerahiman itu tumbuh subur di beberapa tempat. Beberapa waktu lalu, di kota Dili saya melihat ada yang membagi masker kepada pengguna jalan. Ada juga gerakan solidaritas terhadap para penderita covid-19 dan para perawat juga menjamur di mana-mana. Di ruang doa biara-biara, intensi untuk penanganan covid-19 juga terus didengungkan. 

Pasca bencana banjir bandang di Kota Dili, saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana orang secara spontan dan antusias mengulurkan tangan meringankan beban dan menghilangkan duka para korban. Saya sendiri merasakan dan menyaksikan bagaimana orang secara sukarela menyumbangkan sembako, selimut, pakaian dsb. bagi para korban bencana. Di TV dan media sosial kita melihat orang-orang secara spontan bergotong-royong mengumpulkan dan dan hadir secara langsung menangani para pengungsi dan membenahi daerah-daerah terkena musibah seperti yang terjadi di beberapa tempat di NTT. Tentu banyak aksi yang bisa kita lakukan, yang kita bisa tentukan sendiri dari hal yang paling sederhana sampai yang luar biasa. Di tengah pandemic covid-19, salah satu wujud kerahiman kita kepada orang lain adalah dengan mentaati peraturan yang paling sederhana dan tanpa biaya banyak, yaitu 3M: Memakai masker, Mencuci tangan dan tetap Menjaga jarak/menghindari kerumunan. Kalau ini dijalankan dengan sepenuh hati, itu memiliki arti yang sangat luar biasa. Dan ditengah dunia yang dilanda bencana, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah mendoakan mereka yang menjadi korban dan juga mereka yang ada di garis depan menangani dampak bencana. 

Oleh: Pater Wendly J. Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update