-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi Jumat Agung: Derita-Nya Tak Sebanding Dengan Deritaku

Sabtu, 03 April 2021 | 11:34 WIB Last Updated 2021-04-03T05:23:55Z
RP. Fidel Wotan, SMM

BacI : Yes 52:13-53:12 Bac II : Ibr4:14-16;5:7-9
Injil : Yoh18:1-19:42

Penderitaan, sengsara, dukacita merupakan sebuah situasi/kondisi yang tidak pernah luput dari hidup manusia. Penderitaan atau “salib” seringkali dipandang negatif oleh manusia dan dunia, lantas tak ada seorang pun yang mau mencari dan merindukannya. Malahan semua orang bersepakat untuk melawan dan menghindarinya. Mereka akan mencari cara/jalan untuk meloloskan diri dari lubang penderitaan/kesukaran hidupnya. Setiap manusia di bawah kolong langit ini tentu tidak menginginkan penderitaan apapun bentuk dan modelnya datang menimpa dirinya. Semua orang ingin luput darinya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, “penderitaan” dan “salib” itu terus-menerus datang menimpa dunia dan hidup manusia.

Masing-masing orang dapat melihat dan merasakan seperti apakah“penderitaan”atau“salib”itu. Dalam aneka jenis penderitaan itu, mungkin sebagian besar orang merasa takut, sedih, dan kehilangan harapan. Barangkali manusia (kita) menderita karena difitnah orang, diperlakukan secara tidak adil atau ditindas oleh orang, di PHK-kan, menderita karena ditimpa bencana alam atau pun menderita karena diserang wabah/pandemi dahsyat seperti yang sedang dialami dunia saat ini, di mana ada begitu banyak orang (dunia) terkungkung/terisolasi karena covid-19. Semua orang pasti merasa sedih, takut, gelisah dan kehilangan harapan untuk bisa hidup lebih baik lagi di kala mengalami penderitaantersebut.

Semua penderitan itu memang terasa berat dan menyesakkan dada, namun rasa-rasanya itu semua belum seberapa jikalau dibandingkan dengan “Penderitaan Kristus” yang secara khusus diperingati Gereja sejagat pada Jumat Agung. Kalau kita manusia lebih suka memilih untuk menolak dan menghindari diri dari penderitaan, justruYesus sendiri mau memilih untuk merangkul dan mencium serta mengasihinya dengan cinta yang lembut nan kuat. Hari ini, jutaan umat Katolik secara khusus memeringati Wafat dan Kematian Kristus, kematian dari Seorang yang telah mengorbankan segalanya-galanya, menanggung kejahatan dan kebengisan, keegoisan hati manusia demi keselamatan dan kebahagiaan kita.

Yesus, dalam hal tertentu sama seperti kita. Sebagai manusia, Dia pun mengalami sisi kemanusiawian. Ia juga mengalami rasa sakit karena siksaan, didera, dihina. Namun yang membedakan Yesus dengan kita sebagai manusia biasa ialah bahwa Ia mau menderita, mau menanggung secara sukarela segala penghinaan dan penganiayaan, celaan, dan hujatan manusia yang membenci dan menolak-Nya. Andaikata kita sendiri yang mengalaminya, beranikah Anda dan saya menerima semuanya itu dengan sukarela seperti Yesus? Dan lukisan tentang penderitaan Kristus ini sudah dikatakan oleh Nabi Yesaya tentang nubuat penderitaan seorang yang disebut sebagai “Hamba Yahwe yang menderita” (bdk. Yes 52:13-53:12). Di situ dilukiskan bagaimana Sang “Hamba Yahwe menderita” sama sekali tidak membalas perbuatan keji manusia atas diri-Nya. Ia dilukiskan sebagai seorang yang begitu buruk rupanya, tidak seperti manusia lagi. Ia juga dihina dan dihindari orang, penuh dengan kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Ia sangat dihina sehingga orang menutup mukanya terhadap “Dia.” Bagi dunia, barangkali ‘Ia’ tidak masuk hitungan banyak orang. Ia sungguh dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang digiring ke tempat pembantaian. Dialah Yesus, Hamba Yahwe yang menderita itu. Mengapa Yesus mau menanggung segala kedurhakaan kita, mengapa Ia mau mati dengan cara begitu mengenaskan? Lihatlah luka-luka penderaanatas diri-Nya, berapakali Ia harus menahan cambukan, berapa kali Ia harus diludahi, dihina, rasa- rasanya tak terhitung banyaknya.

Santo Montfort (1673-1716) dalam karyanya, Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi (CKA) pernah berkata bahwa “Salib dan Penderitaan” sangatlah dirindukan Yesus, Dia menerima dan merangkul serta mencintainya bahkan sudah sejak masuk dalam rahim Ibu-Nya. Seluruh hidup-Nya sendiri malahan ditandai dan dipenuhi dengan Salib. Itulah sebabnya, mengapa orang kudus Perancis ini berkata bahwa tiada Salib tanpa Yesus dan tiada Yesus tanpa Salib. Santo Montfort berkata: “Kadangkala orang mendengar bahwa ada orang yang mati bagi sahabat-sahabatnya. Tetapi apakah kita akan pernah mendengar tentang seseorang, yang mau mati bagi musuh-musuh-Nya, kecuali tentang Putra Allah? Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rom 5:8): Tetapi Yesus Kristus membuktikan betapa Ia mencintai kita, oleh karena Ia mau mati bagi kita, walaupun kita orang-orang berdosa, demikian juga musuh-musuhNya. Hal-ikhwal yang khusus dalam sengsara Yesus, ialah banyaknya, beratnya dan lamanya penderitaan-Nya. Luasnya penderitaan ini begitubesar, sehingga Dia disebut:' Manusia, Sang penderita'(Yes53:3).Pada Dia, dari telapak kaki sampai ke ujung kepala, tidak ada tempat tanpa luka, (Yes 1:6). Sahabat yang tercinta ini dari jiwa kita, menderita dari segala sudut secara lahir dan batin, dalam tubuh dan dalam jiwa.” (CKA157).

Umat Kristiani selalu mengenangkan Sengsara, Wafat dan Kematian Yesus, pada setiap Jumat Agung. Hal ini telah menjadi devosi orang Kristen,yakni devosi Jalan Salib, yang menjadi bagian integral dari hidup semua umat Kristiani. Dari sebab itu, pantaslah ini diperingati dengan khidmat, oleh karena misteri kemanusiaan Yesus adalah suatu perendahan diri-Nya sendiri yang luar biasa total dan mendalam. Seringkali banyak orang bahkan kita sendiri kurang memerhatikan ketika memeringati sengsara dan kematian-Nya, yaitu bahwaYesus dicobai dan diuji kesetiaan-Nya sama seperti kita, hanya saja Ia sendiri tidak pernah berdosa. Kita sendiri pun tidak bisa menangkap sepenuhnya bagaimana Dia, sebagai Allah dapat dicobai secara luarbiasa.

Yesus menangis minta untuk didengarkan, namun apa yang terjadi, apakah “unia” sering mau mendengarkan tangisan-Nya. Dia mengeluh rasa sakit karena hujatan, ejekan, olok-olokan manusia, tetapi apakah semua orang dan para pengikut-Nyamauikutmenderitabersama- Nya. Mungkin ada di antara kita akan merasa begitu dekat denganYesus sampai juga bisa merasakan betapa hebatnya penderitaan Dia dalam hidupnya sendiri.Yesus yang dicobai, Dia yang menangis, mengeluh dan takut terhadap maut itu, sekarang menjadi "Pengantarakita”, Dialah yang menghubungkan kita dengan Bapa-Nya. Dia benar-benar mengenal kita satu persatu karena, Ia betul-betul sudah diuji iman dan kesetiaan, ketaatan-Nya pada Allah dan bahkan menderita lebih dari banyak dari semua orang lain. Dia mengenal dengan sangat baik siapakah Allah Bapa-Nya, karena Dia adalah Putra-Nya yang terkasih. Dan mestinya hal itu sudah cukup untuk membahagiakan kita di hari peringatan ini, karena Yesus yang menderita itu, kini menjadi Perantara pada Bapa-Nya bagi kita, Dialah jaminan hidup dan keselamatankita.

Dari atas kayu Salib Ia sendiri sudah mempercayakan Ibu-Nya pada kita (bdk. Yoh 19: 27), dia yang begitu setia mengikuti jalan Salib Putra-Nya. Maria, Bunda Yesus kini juga menjadi Bunda kita semua, seorang Ibu yang akan selalu setia mendampingi kita manusia malang dan berdosa ini untuk mampu mendekati Kristus Putranya yang menderita dan wafat di Salib untuk kita. Dialah Bunda Dukacita, yang rela kehilangan Putranya terkasih demi membawa sukacita Paskah bagi dunia dan kita sekalian. Tuhan Yesus memberkati kita. Berkahdalem.

[Seminari Montfort, Malang, 2 April 2021]
×
Berita Terbaru Update