-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sabtu Suci - Malam Paskah 2021: Jangan Takut! Ia Sudah Bangkit

Minggu, 04 April 2021 | 16:36 WIB Last Updated 2021-04-04T09:44:51Z
Sabtu Suci – Malam Paskah 2021
Kej : 1:1-2:2
Kel : 14:15 – 15:1
Yes : 55:1-11
Epistola: Rm 6:3-11
Injil : Mrk 16:1-8

“JANGAN TAKUT! IA SUDAH BANGKIT”

RP. Fidel Wotan, SMM

Sebelum Malam Paskah/Paskah, sebetulnya kita memasuki apa yang disebut dengan “Sabtu Suci, Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi” (bahasa Latin: Sabbatum Sanctum – “Hari Sabat Suci”). Ini adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah. Sabtu Suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati pada saat Tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematian-Nya.

Ringkasnya, pada Sabbatum sanctum tidak ada perayaan khusus atau tidak ada perayaan liturgisnya seperti Kamis Putih dan Jumat Agung. Kalau demikian, apa yang dilakukan pada Sabbatum sanctum? Pada “Sabtu Sunyi” umat (kita) hanya merenungkan secara mendalam dan meditatif dalam kesunyian-keheningan di depan makam Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh Maria, Ibu Yesus dan Maria Magdalena (Mat 27:51). Inilah “Sabtu Sunyi” atau dikenal “Sabtu Hening” bersama Kristus yang telah masuk ke dalam dunia paling bawah dari semua orang yang telah meninggal dari abad ke abad. Jikalau pada saat Jumat Agung Kristus digiring ke tempat siksaan dan pembantaian paling keji (bdk. Yes 52:13-53:12) hingga mati di atas palang penghinaan (bdk. Yoh 18:1-19:42), maka pada saat sebelum Paskah tiba, Yesus merasakan betapa gelap dan sunyi makam di bawah bumi. Lalu sebetulnya apa yang terjadi pada makam yang sunyi, sepi, hening itu?

Pada “Sabtu Sunyi”, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Dalam masa transisi itu terkandung dua aspek yang saling menyatu, yakni “kedukaan dan harapan”. Kita telah turut berdukacita karena Yesus sudah wafat di kayu Salib sebagaimana yang dirayakan pada Jumat Agung. Inilah dimensi kedukaan itu. Kemudian pada dimensi harapan, yang akan tampak yakni Paskah Kristus, Dia yang kini sedang berbaring di dalam makam sunyi itu akan bangkit jaya pada hari yang ketiga (bdk. Luk 24:6-7; Mat 28:6). Dan pada malam ini, seluruh umat Kristiani merayakan Malam Paskah, saat Kristus beralih dari kematian-Nya pada kehidupan baru.

Ada yang mengatakan bahwa Bangsa Israel punya kebiasaan atau tradisi merayakan Paskah pada hari bulan purnama. Bulan purnama yang dimaksud di sini, yaitu hari ke-14 menurut peredaran bulan di langit. Bulan purnama terbit waktu matahari terbenam dan terbenam waktu matahari terbit. Sepanjang malam Bangsa Israel menceriterakan sejarah mereka sejak Allah menciptakan langit dan bumi, panggilan Bapa Abraham, Mesir dan keluaran, kisah perjalanan di padang gurun, kisah tentang hidup di tanah terjanji di bawah raja-raja lalu para nabi, pembuangan dan kisah tentang perjalanan kembali dari tanah pembuangan.

Biasanya Paskah Yahudi dirayakan pada hari apa saja tergantung dari hari keempat belas itu, Paskah Kristiani dirayakan pada hari Sabtu sesudah bulan purnama. Begitu juga umat Kristiani merayakan Paskah dengan berceritera dalam tujuh bacaan Perjanjian Lama (PL), kemudian bacaan pertama dan Injil tentang kebangkitan. Dari ketujuh bacaan PL dapat dipilih dua atau tiga bacaan, tetapi isi bacaan-bacaan itu dibacakan sejak penciptaan dan seluruh PL sampai PB dan puncaknya pada Kebangkitan Yesus.

Allah menciptakan segala sesuatu menjadi baru dan semuanya itu pada hakikatnya dipandang baik adanya. Namun kemudian manusia oleh karena egoisme dan cinta dirinya, secara brutal menodai atau menghancurkannya lewat perbuatan dosa-dosanya. Akan tetapi, lihatlah, apa yang rusak karena ulah manusia itu, dibaharui dan dimurnikan oleh Allah. Dalam arti ini, Yesus datang ke tengah dunia kita untuk membuat segala sesuatu yang rusak akibat dosa dan kejahatan tadi menjadi baru lagi. Ini dialami Yesus dengan cara yang amat tragis melalui sengsara dan wafat-Nya yang berpuncak pada Perayaan Jumat Agung kemarin. Di sini Yesus berkenan menghancurkan dosa dan kejahatan dunia (manusia) sampai Tubuh-Nya yang suci itu pun rela dihancurkan dalam kematian pada tragedi Salib yang begitu ngeri. Namun apa yang terjadi kemudian, justru Ia menang atasnya dan hidup kembali seperti diceriterakan oleh Penginjil Markus pada malam ini (Mrk 16:1-8).

Hari Sabat sudah lewat. Kini, pagi-pagi setelah matahari terbit, tiga orang perempuan, yaitu Maria Magdalena, Maria ibunda Yakobus dan Salome datang ke kuburan untuk merempahi Jenazah Yesus. Mereka samasekali tidak berpikir tentang batu besar penutup pintu makam itu, sebab batu itu disegel. Namun batu itu ditemukan sudah terguling. Pada umumnya, manusia takut masuk kubur, namun ketiga wanita itu sangat berani. Di luar dugaan, mereka berjumpa dengan seorang pemuda. Mereka terkejut sekali ketika melihat pemuda itu, Kemudian mereka langsung disapa dengan begitu lembut, tenang: Jangan takut! Pemuda itu menenangkan agar ia bisa memberi pesan. Pesan yang mau disampaikannya ialah berita yang paling mengejutkan dalam sejarah hidup umat manusia: IA SUDAH BANGKIT! Kita mendengar bahwa Pemuda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus dari Nazaret yang tersalib itu? Ia sudah bangkit dan tidak ada lagi di sini. Lihatlah tempat ia dibaringkan. Pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan Petrus, bahwa Ia mendahului kamu ke Galilea. Di sana kamu akan melihat Dia, seperti telah dikatakan-Nya kepadamu.” (Mrk 16:6-7).

Pemuda itu (baca: Malaikat) mengatakan bahwa Yesus tidak ada lagi di kubur itu: Ía tidak ada di sini! Kuburan itu bukan tempat kediaman Yesus. Ia memang pernah ada di dalam kubur, sebab di situlah Ia dibaringkan. Jenazah Yesus dibaringkan atau dimakamkan dalam makam itu, tapi kini kubur itu kosong. Makam itu telah kosong, tak ada Jenazah Yesus. St. Paulus pernah berkata bahwa andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita (bdk. 1 Kor 15:17). Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang sanggup membuktikan bahwa ada kehidupan setelah kematian, selain Yesus sendiri yang telah mati dan bangkit dengan gemilang. Kebangkitan Yesus menjadi jaminan pasti bahwa kematian itu bukanlah akhir segala-galanya, bukan sebuah malapetaka yang menakutkan, dan bukan memupus harapan kita, karena setelah mati, orang akan hidup kembali. Dan ini sungguh-sungguh terjadi hanya karena iman akan Yesus yang bangkit. Iman inilah yang meneguhkan dan menyelamatkan kita.

Kita sekalian pada malam ini merayakan Malam Paskah dengan mengarak Yesus Sang Terang yang menghalaukan kegelapan, kejahatan dan dosa-dosa kita. Yesus, sang Terang itu diagungkan di dalam lagu pujian tadi. Di dalam Dia, kita semua menemukan dan mengalami suatu harapan baru. Cinta Kristus bagi kita begitu besar dan tanpa syarat. Pengorbanan diri-Nya di Salib adalah bukti Kasih-Nya pada kita. Ia rela menebus dan meremukkan dosa-dosa kita. Kita dikuatkan: “Jangan takut!” … Ia sudah bangkit dan tidak ada lagi di sini.” Dari sebab itu, ketakutan kita mungkin akan menjadi sukacita baru karena kita juga mau dibaharui lagi bersama Kristus yang bangkit. Di sini, kita sekalian boleh mengalami hidup yang baru lagi. Selamat PASKAH, Dia yang bangkit itu, kini memberkati kita semua.

Seminari Montfort, Malang 3 April 2021
×
Berita Terbaru Update