-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tinjauan Filosofis Budaya Timur dalam Aspek Politik

Selasa, 20 April 2021 | 19:48 WIB Last Updated 2021-04-20T13:11:07Z

Secara sosiokultural budaya timur sangat melekat erat pada setiap hubungannya dengan masing-masing individu. Budaya ini telah diwariskan oleh nenek moyang secara terus-menerus.  Namun terlebih dahulu kita memahami apa  itu budaya. Para antropolog mengatakaan bahwa kebudayaan sangat erat hubungannya dengan manusia, bahkan identik dengannya, mengapa? Karena hanya manusialah yang dapat berbudaya (Raymundus Rede Blolong, Antropologi budaya, hal. 55). Dalam peradapannya orang timur memiliki bentuk dan karakter serta kekhasan tradisi budaya yang berbeda-beda. Namun tradisi tersebut tidak sama sekali  beda, persis ada kesammaan. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan dalam tradisi pelayanan.

 Hampir tiap-tiap wilayah di timur menggunakan  tradisi yang sama dalam hal melayani.  Sebagai contoh adalah tradisi pelayaan budaya orang Timor saat menerima tamu adalah dengan menggunakan Siri dan Pinang, tradisi pelayanan ini  memiliki  kesamaan di daerah-daerah lain di timur, seperti daerah Papua, flores, Sumba dan daerah lainnya. Dilain sisi, sirih dan pinang tidak dilihat sebagai faktor pelayanan semata tetapi sebagai tanda keakraban atau kekeluargaan antara sesama manusia. Jadi yang mencolok dari budaya ketimuran adalah segi pelayanannya, kendati demikian tidak merendahkan budaya lain.

Sir Edward Bume Tylor (1832-1917) pertama kali memakai dan mendefinisikan kata “culture” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Kebudayaan. Menurut Tylor kebudayaan adalah sesuatu yang rumit dan kompleks karena menyangkut segala hal yang berhubungan dengan manusia sebagai realitas yang kompleks. Budaya yang kompleks melahirkan banyaknya perbedaan.  Dalam konteks budaya orang timur meiliki banyak perbedaan.

 Pertama perkawian, (ada dua bentuk perkawinan yaitu system perkawianan matrilineal dan patrilineal ini terdapat di beberapa wilaya seperti Bajawa dan Malaka sedangkan yang menganut system perkawinan patrilineal terdapat dibanyak daerah salah satunya di Manggarai. Kedua suku dan ras yang berbeda-beda, suku Dawan terdapat Timor, suku Sentani, Marindamin, Serui terdapat di papua, suku Sadang, Pinggang, Wuntun, Bajo terdapat di Manggarai. Ketiga Kain adat/tenunan. Keempat Makanan khas. Kelima bahasa. Hampir tiap-tiap kampung di wilaya timur memiliki bahasa daerah tersendiri. Namun dari budaya yang kompleks tersebut tidak menjadi jurang pemisah antara budaya yang satu dengan budaya yang lain.

 Orang timur sangat mencintai budaya lokalnya, mereka selalu jaga dan dilestarikan budayanya dari moyang kepada keturunannya.. Disini Lowie menekankan bahwa kebudayaan berhubungan dengan masa lalu yang berkembang dan hidup dalam masyarakat itu, yang unsur-unsurnya diwariskan ke generasi berikutnya dalam diri tiap individu. Peran budaya bagi masyarakat orang timur sangat bernilai tinggi. Di mana sebelum ada aturan dan hukum yang dibentuk oleh UU untuk menyelesaikan persoalan masyarakat adat, budaya telah terlebih dahulu ada untuk menjaga dan menertibkan hidup masayarakat. Orang timur selalu mempraktekkan budayanya dalam segala hal, baik dalam memecahkan sebuah masalah atau hal lain. Adapun contoh yang di buat oleh orang timur ketika mengurus sebuah masalah adalah berkumpul bersama dan berbicara secara  adat. Sehingga keharmonisan selalu terjaga. Dalam konteks sekarang peran budaya dianggap hanya sebagai sampul saja sedangkan nilai-nilai dari budayanya telah pudar. Terlepas dari kekhasan dan keunikannya, nilai kebudayaan kita sebenarnya telah hilang. Sala satu faktor yang mempengaruhi hilangnya nilai budaya adalah faktor politik. 

Menelitik dari aspek politik, budaya timur telah kehilangan kelumrahannya. Faktor politik bisa menyebabkan hilangnya nilai budaya yang telah tertanam dalam masing-masing individu masyarakat. Beberapa tahun yang lalu tiap-tiap daerah melakukan pemilihan, antatara lain pemilihan kepala desa, pemilihan bupati,  dan gubernur. Dalam pemilihan tersebut tiap-tiap daerah memiliki dua kubu, ada kubu pro kemudian ada kubu kontra. Dinamika tersebut tidak dihabiskan dalam masa kampanye tetapi sering terjadi  tidak menerima kemudian saling balas dendam hingga adu fisik antara sesama kelompok. Masalah seperti ini bisa disimpulkan bahwa norma budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang dahulu telah pudar. Di abad moderen ini ada banyak masalah-masalah di wilayah timur yang tidak menggunakan pendekatan-pendekatan budaya sebagai langka solusi dalam penanganan masalah. Ada beberapa kasus yang sering terjadi di wilayah timur seperti; perang rebut tanah, rebut perbatasan antara wilayah dan masi banyak masalah lain yang tidak menggunakan pendekatan budaya sebagai jalan solusi (dalam konteks ini adalah tidak diselesaikan secara adat) sehingga bisa dikatakan nilai budaya orang timur itu hanya sebatas sampul saja sedangkan prakteknya sama sekali tidak ada. 

Filsafat klasik Plato, Aristoteles, Zeno dan lain-lain melihat manusia sebagai makhluk natural di mana makhluk yang dibentuk dari esensi tak berubah yang diperoleh dari alam, ia mampu memperoleh hukum biologis dan peraturan-peraturan moral melaluinya. Manusia secara alamiah diciptakan oleh Allah menurut citranya. Orang timur dalam praktek keagamaanya sangat sakral. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Tuhan-an. Dalam keseharian hidupnya, mereka selalu menggunakan tradisi lama dari nenek moyang mereka yang diwariskan secara turun-temurun. Hal itu terlihat ketika ada orang timur yang pergi rantau ataupun keluar kampung pasti mereka selalu melakukan ritual adat seperti membawa benda-benda yang dianggap bisa menjaga dirinya di tengah masalah. Orang Timur juga selalu taat pada hukum norma baik norma agama maupun norma budaya. Dan dari norma inilah yang membentuk mental kepribadian mereka. 

Filsafat modern melihat manusia sebagai suatu produk dirinya. Manusia adalah the artificie of himself. Ini didasarkan pada primasi kehendak dan kebebasan di atas pengetahuan, praksis di atas teori dan eksistensi di atas esensi, sejarah di atas alam. Di sini menandakan bahwa zaman semakin berkembang yang ditandai oleh banyak orang berpendidikan dan melabelkan diri menjadi orang pintar. Sebagian besar bahasa lokal di wilayah timur telah hilang karena selalu menggunakan bahasa indonesia untuk menghargai para pendatang dari luar daerah. Hal ini menyebabkan bahasa lokal makin lama makin hilang. Di sisi lain orang Timur kehilangan produk lokal, dalam konteks sekarang rata-rata semua orang selalu mencintai produk-produk dari luar. Hal ini seperti apa yang diutarakan oleh Hegel, Nietzche melihat manusia sebagai produk dalam dirinya, saya melihat bahwa banyak kecendrungan manusia untuk melahap alam dan menghilangkan kebudayaan dalam dirinya sendiri. Metode atau praksis terhadap kebebasan pengetahuan manusia dapat membawa dampak negatif terhadap suatu kebudayaan.

Nilai budaya yang dimiliki oleh orang Timur diperoleh dari dan untuk kehudupan bersama dalam masayarakat tertentu melalui proses pembiasaan yang terus-menerus hingga menjadi bagian dalam dirinya dari kehidupan bersama. Di sini Ralph Linton menyebut proses ini sebagai warisan sosial. Seperti dalam basis kebudayaan terdapat unsur-unsur seni yang memukau dalam tiap-tiap kebudayaan. Pada konteks ini bagaimana kita menilai beragam budaya dan adat istiadat melalui tradisi budaya yang digunakan oleh masing-masing individu.  Nilai kebudayaan yang dihayati dan dimiliki oleh seseorang adalah nilai yang direpresentasikan  dalam kehidupan sehari-hari yang tidak terlepas dari nilai dan norma dari suatu kebudayaan. Hal itu akan masuk dalam kategori kebudayaan khusus yang kadangkala bila terlalu berbeda nilai yang dihayati kelompok atau yang menyimpang dari pola dan aturan hidup bersama dapat disebut sebagai penyimpangan, yang penerimaannya diperoleh lewat toleransi budaya. Karena kebudayaan adalah suatu warisan sosial masyarakat, kebudayaan akan senantiasa berlangsung dalam situasi normal, dan proses penerusannya dari suatu generasi ke generasi yang berikutnya (enkulturasi). Sebagai generasi yang cinta akan budaya, marilah kita mencintai budaya dengan tulus dan jangan terpengaruh dengan situasi politik yang bisa menyerang nilai kebudayaan kita.

Yohanes Paulus II dihadapan wakil-wakil UNESCO mengatakan bahwa kebudayaan merupakan sarana lewatnya manusia menjadi lebih manusia dan lebih dekat dengan adanya. Sebagai orang Timur, mari kita lestarikan budaya tanpa ada kepentingan atau unsur-unsur yang dapat menyebabkan atau menghancurkan kekhasan budaya kita.

Oleh: Febri Nala

 Tanpa Pena Kertas Jadi Usang
 Tanpa Pikiran Manusia Jadi Hampa
×
Berita Terbaru Update