-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tuhan Tidak Marah

Senin, 05 April 2021 | 12:04 WIB Last Updated 2021-04-05T05:05:50Z
Kidung Paskah seketika seakan menjadi Litani Salib. Senandung pujian merayakan kemenangan seketika seakan menjadi ratapan meratapi perjalanan salib, ratapan kekalahan. Golgota yang telah menjadi Tabor sukacita kemuliaan seketika menjadi tangisan Kalvari. Sepenggal Sabda dari kayu salib; “selesailah sudah” (bdk. Yoh 19:30) seakan menjadi penutup pujian kebangkitan membawa kembali masuk ke taman Getsemani.

Di tengah gundah gulana merasuk seisi ruang bathin dalam tangis dan duka, tak harus dipungkiri bahwa kadang terselip sebuah kata; “Tuhan marah, Tuhan mungkin tak mau bersahabat dengan kita.” Ya semua kalut diarahkan pada Tuhan. 

Kebangkitan yang menjadi bukti kekuatan Allah seakan tak berdaya seketika berhadapan dengan tragedi yang merenggut nyawa anak-anak kesayangan-Nya. Tuhan yang begitu perkasa mengalahkan maut seakan tak kuasa menahan terpaan badai diiringi gemuru gelombang dan banjir lumpur batu meluluhlantakan semesta dan menenggelamkan kehidupan di rahim yang Ia ciptakan.

Pada titik ini, rasanya iman seakan sebuah kesia-siaan. Ya, harus dipahami bahwa kehilangan orang-orang yang dicintai adalah sebuah kehilangan selamanya yang membekaskan duka, derita dan kesedihan.

Di balik itu semua, duka, derita dan kesedihan hanya mampu bangkit dan bisa bertahan menata kehidupan baru kekuatannya ada pada iman. Iman yang menyiarkan kebaikan dan kekuasaan Allah bahwa Allah tak sedang memarahi atau mengugat dan menghakimi kita. Allah juga tidak sedang mencobai kita.

Allah juga tidak sedang marah pada mereka yang mendahului kita. Pun pula tidak sedang memberikan teguran pada sanak saudara kita yang sedang berduka dan kehilangan segala-galanya. Yang kita tahu dan imani, Allah mencintai kita lebih dari segala-galanya.

Allah tetap mencintai kita dengan cara-Nya sendiri yang sulit kita selami, sebagaimana Allah yang juga dalam pandangan insan manusia seakan “membiarkan” Putera terkasih-Nya wafat di kayu salib yang dalam suara lirih “mengadu” kepada Bapa; “Eli, Eli Lama Sabachthani” (bdk. Mat 27:46). Allah tidak membiarkan atau meninggalkan Putera-Nya, demikian juga dengan kita.

Allah mencintai kita tidak dengan cinta yang fana, namun dengan cinta-Nya yang kekal abadi. Allah telah menyediakan rumah cinta-Nya bagi kita semua termasuk bagi mereka yang mendahului kita.

Allah juga tidak membiarkan saudara-saudari kita meninggal begitu saja, karena kuasa tangan kasih-Nya sendiri sedang memegang erat mereka dan menghantar mereka kepada pelukan kasih Anak-Nya yang bangkit dalam kebahagiaan abadi di surga.
Allah juga tidak sedang menguji kita yang selamat. Namun karena Allah begitu mengasihi dan menyayangi kita, sehingga masih menyediakan kesempatan, ruang dan waktu untuk mengalami cinta-Nya dan semakin mencintai Dia.

Allah tidak marah. Semestapun tidak sedang memarahi kita. Allah dan semestanya sedang membuka tangan kasih mereka agar kita lebih dekat dan mencintai Dia. Merawat cinta Allah dengan semakin mencintai Dia, sesama dan alam ciptaan-Nya di atas segalanya.

Manila: 05-April 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update