-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

YESUS DIPAKU PADA KAYU SALIB (Merenungkan Kisah Seorang Imam yang Dijadikan Tersangka dan Kemudian Dibebaskan)

Jumat, 02 April 2021 | 10:00 WIB Last Updated 2021-04-03T01:24:54Z
Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak , mereka menyalibkan Yesus  di situ dan juga kedua orang penjahat, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam   kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi”. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami! “Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 
Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. "Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. "Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Surga” (Luk. 23: 33-43).

Refleksi:

Kristus dipaku pada kayu salib. Sebagai seorang imam, perikop Injil di atas seringkali saya renungkan. Hingga kemudian, tatkala suatu ketika mereka menempatkan saya di kayu salib, saya sungguh merasakan betapa beratnya kayu itu: saya dituduh dengan kata-kata yang begitu tajam bagai paku, hingga saya merasa pendakian itu sungguh tajam. Bahkan penderitaan itu sampai terukir pada kulitku. 

Momen paling mengerikan terjadi ketika saya melihat nama saya tergantung di luar ruang pengadilan. Ketika itu pula saya menyadari bahwa saatnya saya harus membuktikan dengan tulus, jujur dan tegas kalau saya tidak bersalah. 

Sebelumnya saya mengalami`pengalaman salib selama sepuluh tahun. Bagi saya, rentang waktu itu adalah bentuk jalan salib saya yang diwarnai dengan berbagai kecurigaan dan tuduhan yang tak berdasar serta bentuk-bentuk penghinaan keji lainnya. Pada saat di pengadilan, saya seringkali mengarahkan pandangan pada Salib yang tergantung di dinding ruang persidangan: saya terus memandangnya tatkala hukum berupaya menyelidiki kasus saya. 

 Rasa malu pernah membuat saya seketika berpikir bahwa mungkin lebih baik mengakhiri semuanya, dalam hal ini meninggalkan imamat saya. Namun kemudian saya memutuskan untuk tetap menjadi imam seperti sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk meningalkan salib yang telah saya terima, bahkan ketika hukum memaksa saya untuk melakukannya.  Saya memilih untuk tunduk pada pengadilan biasa: dalam hal ini saya berutang budi pada diri saya sendiri, kepada anak-anak yang saya dampingi selama bertahun-tahun di seminari, dan juga kepada keluarga mereka. 

Ketika pengalaman saya yang mengerikan itu terjadi, saya menjumpai mereka di sepanjang perjalanan: mereka itu seperti orang-orang Kirene yang menanggung beban salib bersama saya, menghapus setiap peluh dan air mata yang jatuh. Bersama saya, banyak dari antara mereka yang mendoakan anak laki-laki yang telah menuduh saya tanpa alasan hingga saya diadili. Kami akan terus mendoakannya. Ketika saya dibebaskan sepenuhnya, saya mengalami sukacita yang luar biasa, lebih dari yang saya rasakan sepuluh tahun sebelumnya: saya menyentuh dengan tangan saya sendiri betapa luar biasanya karya Tuhan dalam hidup saya. Meskipun tergantung di salib, imamat saya tidak pernah pudar, bahkan semakin bersinar. 

Doa:

Tuhan Yesus, kasih-Mu yang tiada tara kepada kami telah membawa-Mu pada peristiwa salib. Ketika dalam sakrat maut pun Engkau tetap mengampuni kami dan memberi kami kehidupan baru. Kami serahkan kepada Bapa di Surga orang-orang yang tidak berdosa yang sungguh menderita akibat hukuman yang tidak adil. Gaungkanlah selalu dalam hati mereka gema sabda-Mu ini: “hari ini kamu akan bersama-Ku di Surga”.

Oleh: Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update