-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AKU DI DALAM YESUS DAN YESUS DI DALAM AKU

Minggu, 02 Mei 2021 | 10:46 WIB Last Updated 2021-05-05T04:37:18Z

Setidaknya ada tiga tingkat relasi kita orang Kristen dengan Yesus:

1. Aku dekat dengan Yesus
2. Aku ada bersama Yesus
3. Aku ada di dalam Yesus 

Tahap satu: aku dekat dengan Yesus. Sepintas relasi tingkat ini kelihatan mungkin baik. Yah memang tidak ada yang salah jika ada yang mengaku dekat dengan Yesus. Namun relasi seperti ini masih menyisahkan distance/jarak antara si aku dengan Yesus. Meski jarak tak jauh, namun tetap saja kita dengan Yesus masih terpisah.

Tahap dua, hampir sama dgn tahap satu. Aku ada bersama Yesus. Kita ada bersama Yesus. Dalam tahap ini, kita mungkin merasa bangga. Siapa sih yang tidak bangga kalau duduk atau tinggal bersama seseorang yang dipuja? Namun, relasi ini tetap saja menyisahkan jarak antara aku dengan sang pujaan, karena kadang-kala ada bersama belum tentu merasa bersama. Ada bersama Yesus belum tentu merasa bersama Yesus. Dua org duduk bersama di warung kopi: satu pesan kopi pahit, satu pesan kopi manis campur susu. Kedua orang ada bersama namun tidak merasa bersama dalam arti yg penuh. Tetap ada pembeda yg membuat mereka tetap berjarak: feeling distance. 

Demikian halnya relasi kita dengan Yesus. Kadang ada bersama namun beda perasaan: Yesus maunya begini dan aku maunya begitu. Yesus maunya kita berjuang, aku maunya terima yang gampangan. Jadi tetap saja ada "differance": different and distance; berbeda dan berjarak meski kecil.

Tahap tiga: aku ada di dalam Yesus, dan Yesus ada di dalam aku. Relasi ini adalah tingkatan pengalaman spiritual yang mendalam atau "pengalaman puncak". Kita terpaut pagut menjadi satu. Inilah yg disebut Intimacy, sebuah relasi yg paripurna: bahwa hanya berada dalam kesatuan dengan Yesus, aku akan hidup dan berbuah.

Personifikasi diri sebagai pokok anggur sebagaimana dikatakan Yesus dalam Injil hari ini, bisa dimengerti dalam konteks relasi tingkat yg ketiga: bahwa seperti ranting yg bisa hidup dalam kesatuan dengan pokok, demikian juga kita hanya bisa hidup dalam kesatuan dengan Yesus. Ranting yg terpisah dari pokok, walau jaraknya tetap dekat bahkan masih bersandar pada pokoknya, berakir akan kering, karena dia tidak menerima aliran kasih yg menghidupkan dari pokoknya. Demikian halnya dengan manusia. Ketika kita terpisah dari Yesus sang pokok, kita tidak akan bertumbuh, apa lagi berbuah. Kita akan mengering.

Kekuatan utama keintiman kita dengan Yesus adalah: berakar kuat pada Allah dan hidup dari getah hidup yg sama, yang mengalir dari akar sampai ke pucuk. Getah hidup itu adalah Roh Kudus, yg mengalir dari Allah sendiri dan mengalir terus ke pucuk, daun dan buah-buah dari iman kita. Ada banyak bentuk nyata dari buah keintiman relasi dengan Yesus di mana orang pada akhirnya mengenal kita sebagai "impersona Cristi". Bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Intisari pesan dari bacaan Injil hari ini adalah: agar kita membangun relasi yg intim dengan Yesus; kita di dalam Yesus, dan Yesus ada di dalam kita. Ranting yg menyatu dgn pokok pasti bertumbuh dan berbuah. Kesatuan intim kita dengan Yesus juga mesti berbuah. Keintiman dengan Yesus, tidak menjadikan kita sebagai orang beriman yang egois. Kedekatan itu mesti berbuah. Ada beberapa point penting atau buah dr keintiman kita dengan Yesus:

Pertama: Buah iman adalah kasih (bdk. Bacaan ke-2 hr ini). Jesus caritas est, Yesus (sebagaimana Allah) adalah kasih. Kasih adalah identitas Yesus. Jika kita ada di dalam Yesus dan Yesus ada di dalam kita, maka identitas kita adalah kasih, yang terwujud dalam banyak hal baik terutama dalam solidaritas; menciptakan keadilan, perdamaian san keutuhan ciptaan. Jika ini yg terjadi, maka hidup kita sesungguhnya haruslah menjadi penampakkan hidup Yesus. Orang menilai pohon dari buahnya. Orang akan mengenal Yesus dari cara hidup kita.

Kedua:. Menerima perbedaan dan membentuk persekutuan. Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menuntun kita, untuk menempatkan persatuan dan kesatuan sebagai kekuatan utama. Kesediaan para rasul menerima Saul adalah kekuatan komunitas kristen. Mereka menjadi semakin solid dalam pewartaan karena pewartaan itu berbicara tentang kisah hidup para rasul sendiri. Yang mereka wartakan adalah pengalaman akan Yesus bukan pengetahuan akan Yesus. Dan yg utama adalah: pengalaman persatuan yang intim dengan Yesus membuat mereka kuat dan tegar dalam mewartakan Sabda Allah. Hasilnya adalah Gereja Kuat dan kita pun teguh berdiri walaupun banyak tabtangan.

3. Keintiman relasi dengan Yesus harus mengubah diri sendiri menjadi: lebih humanis, lebih solider, lebih pluralis dan terutama lebih mencintai kebaikan. Kebaikan adalah orirntasi dasar dari setiap agama. Maka mengenal Yesus saja tidak cukup. Kita harus sampai pada tingkat "intim dengan Yesus" dan sentire cum Jesu Criste" atau merasa bersama Yesus Kristus. Maka buah akhirnya adalah kebaikan.

SELAMAT HARI MINGGU

Oleh: Pater Wendly J. Marot SVD
×
Berita Terbaru Update