-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berbekal Cerita Sang Ayah

Rabu, 19 Mei 2021 | 18:20 WIB Last Updated 2021-05-19T11:30:30Z
Sejak kecil ketika ke kampung Balaweling-Noten, bapak selalu mengantar saya mengunjungi semua keluarga bapak. Baik itu saudara-saudarinya nenek Kidi Wewan (mamanya bapa) maupun keluarga kakek Rotok (bapaknya bapak).

Ketika masih di SMA hingga liburan ketika masih frater dan ketika sudah menjadi imam saat masih bertugas di Samarinda, kebiasaan mengunjungi keluarga bapak di Balaweling-Noten selalu kami lakukan. Satu hal yang ada dalam benak dan hati saya adalah bahwa mereka yang kami kunjungi adalah keluarga bapak, sehingga saya tidak pernah bertanya apa marga nenek Kidi Wewan. Yang saya tahu bahwa marga kami adalah Lama Tewelu.

Pada tahun 2017 tepatnya tanggal 23 Maret, semuanya menjadi jelas dan terang benderang ketika bapak meninggalkan kami semua untuk selamanya. Saat pembacaan riwayat hidup bapak, termasuk siapa yang menjadi om kandung bapak yang akan melakukan upacara adat sebelum pemakaman bapak, saya baru tahu dan sadar bahwa beberapa keluarga yang kami kunjungi itu adalah om kandung bapak saya yang bermarga Lamatokan Eda Lolon.

Dari situ baru saya tahu bahwa nenek saya Kidi Wewan yang adalah saudari kandung dari kakek Raran, Nama, Guna, Paron Bolen dan lainnya berasal dari marga Lamatokan Eda Lolon asa usul asli mereka bersama saudara dan saudarinya dari Puka One. Memang bapak sering berceritera bahwa keluarga kami khusunya keluarga nenek Kidi Wewan banyak yang berada, tinggal dan menetap di desa Puka One. Namun yang saya pikir itu adalah keluarga yang satu marga dengan kami yaitu marga Lama Tewelu.

Dari sejak kepergiaan bapak dan saya mulai mengerti dan paham asal usul keluarga bapak dari pihak nenek Kidi Wewan, niat kecil saya memang untuk bersilaturahmi dengan keluarga nenek Kidi Wewan yang ada di Puka One untuk menyamung tali silaturahmi kekeluargaan. Hanya doa, harapan dan niat tulus yang kutanamkan bahwa kelak saya akan mengunjungi dan menjumpai mereka.

Dibalik doa, harapan dan niat tulus untuk mengunjungi dan menjumpai mereka secara langsung, jalan Tuhan mempertemukan saya dengan salah satu teman facebook saya yang setelah pembicaraan melalui messenger, menjadi jelas pula bahwa dia adalah adik, keluarga dekat saya dari pihak nenek Kidi Wewan.

Pada tanggal 04 Mei 2021, jam 7.00 malam saya memposting sebuah tulisan di fb. Dan saat itu ada seorang teman fb yang bernama Ina Marlyn Eda Lolon sebagai orang pertama yang me-like postingan tersebut. Membaca namanya, saya tergerak untuk menyapanya via messenger.

Saya dan ade Marlyn saling berceritera dan ketika saya menyebut nama kakek Raran, ade Marlyn pun tak bisa berkata-kata lagi karena rasa haru dan senang. Sebab nama yang kusebut “kakek Raran” tidak asing buat mereka. Kakek Raran masih terhitung bapak mereka, demikian cerita ade Marly sebagaimana cerita bapaknya kepada dia.

Ade Marlyn berceritera bahwa bapaknya juga sering menceriterakan keluarga yang ada di Balaweling termasuk keluarga kami. Dari pertemuan di messenger yang kemudian kuketahui bahwa salah satu teman saya yang adalah kakaknya Ade Marlyn yaitu Ansis Uba Aman, dimana saya pernah ketemu dan makan di rumahnya waktu ia masih di Surabaya, sejatinya adalah om saya. 

Ya waktu itu dia memanggil saya abang dan saya memanggil dia ade, dan ketika saya menelphon dia pada tanggal 4 Mei malam setelah chat dengan ade Marlyn, iapun masih memanggil saya abang karena kami sama-sama memang tidak tahu bahwa di dalam diri dia dan diri saya ada darah Lama Tokan Eda Lolon.

Namun setelah saya menceriterakan yang sebenarnya, semuanya menjadi sebuah pertemuan rasa syukur dibalik rasa haru yang kami alami. Demikian juga dengan kak Antonia Perada. 

Akhirnya pada hari Minggu siang menjadi kesempatan bagi saya untuk bisa bersilaturahmi dengan keluarga yang adalah om dan tante bapak saya. Saya sempat video call dengan ade Marlyn, mama, kak Antonia dan ade Lius sebagai awal merajut kembali tali kekeluargaan yang memang selama ini kami saling mencari dengan satu harapan bisa berjumpa.

Perjumpaan ini menyadarkan saya bahwa cerita tentang keluarga menjadi jalan untuk berjumpa dan bersilaturahmi dengan keluarga besar yang tersebara dimana sajapun berada. Dan saya boleh bersyukur bahwa berbekal cerita sang ayah, saya bisa menjumpai keluarga yang lain. Tuhan Maha Baik. 

Manila: 19-Mei 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update