-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

EMPATI: Anak Sulung Rasa Sakit, Kesulitan dan Kekecewaan

Rabu, 19 Mei 2021 | 17:59 WIB Last Updated 2021-05-19T11:03:04Z
[…Semakin kita tua semakin dipanggil untuk berempati karena kita telah mengumpulkan daftar panjang rasa sakit, kesulitan, dan kekecewaan…]

Rasa sakit, kesulitan, dan kekecewaan adalah benih empati dan pengertian dalam hidup. Mari membayangkan sejenak dunia saat kita lahir. Saat kita lahir, dunia benar-benar berputar di sekitar kita. Kita menangis dan orang tua kita memberi kita makan.  

Kita merengek serentak tangan kedua orang tua  menyambut kita. Popok kotor segera mereka ganti. Kita menangis, berteriak dan orang tua kita datang menghibur dan bermain bersama kita. Mengaggumkan. Kita menjadi pusat alam semesta, setidaknya di dunia orang tua kita.  

Potret ini terus berkelanjutan sampai kita mencapai usia saat ini ketika kita menyadari bahwa dunia lebih besar daripada ruang kecil tempat kita tinggal. Dunia kita berkembang memantik kita untuk berlabuh, berinteraksi dengan orang lain. Kita juga pelan-pelan memahami hidup dari sudut pandang mereka.  

Kita harus mengintegrasikan perspektif hidup kita dengan perspektif orang yang kita temui sepanjang hidup kita. Integrasi ini jelas sulit karena kita hanya mengenal dunia melalui perspektif tunggal - milik kita sendiri. 

Nah, EMPATI adalah cara kita memahami kehidupan dari sudut pandang orang lain. Empati tidak mungkin terjadi kecuali kita berbagi pengalaman yang sama atau serupa dengan orang lain. 

Kita tidak dapat memahami luka sampai kita terluka.  Kita tidak bisa memahami kekecewaan sampai kita kecewa. Kita tidak dapat memahami kesedihan sampai kita sendiri merasakan kesedihan. 

Empati dan pemahaman sejati terjadi hanya ketika kita memiliki sesuatu yang dapat kita gunakan untuk menilai pengalaman fisik dan emosional orang lain. Akumulasi pengalaman pribadi kita menjadi standar untuk menilai perilaku dan emosi orang lain. 

Ketika kita melihat seseorang jatuh tersungkur, kita dapat berempati dengan orang itu karena kita pernah jatuh dan gagal di masa lalu. Kita tahu dukacita kematian ketika orang lain kehilangan kerabat atau teman karena kita juga telah kehilangan orang yang kita cintai dan tahu bagaimana perasaan kita. 

Pengalaman pribadi kita inilah memungkinkan kita untuk menyampaikan perasaan itu kepada orang yang mengalami atau sedang mengalami peristiwa yang sama atau serupa. Ujiannya adalah kita harus menderita rasa sakit dan kesulitan yang sama seperti orang yang kita berempati. Jika kita tidak menderita rasa sakit dan kesulitan yang sama, kita tidak memiliki alasan untuk menilai rasa sakit dan kesulitan orang lain.  

Percayalah bahwa rasa sakit, kesulitan, dan kekecewaan dengan sendirinya melayani tujuan yang berharga dalam hidup, meskipun kita jarang melihat nilainya saat kita berada di tengah kecemasan kita sendiri.  

Nilai sebenarnya dari penderitaan kita terwujud ketika kita mampu menghibur orang yang menderita atau menderita seperti kita. Empati adalah ikatan yang mengikat satu orang dengan orang lain.

Ikatan empati sejati menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang orang lain dan pada akhirnya membawa kegembiraan. Sukacita tidak akan pernah kita alami tanpa rasa sakit, kesulitan, dan kekecewaan.

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update