-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEMARTIRAN: Sisi Mengerikan Tumbuh Menjadi Katolik

Rabu, 19 Mei 2021 | 18:08 WIB Last Updated 2021-05-19T11:10:47Z

[…Melior est die mortis die nativitatis; Lebih baik hari kematian daripada hari kelahiran…] 

Kemartiran adalah salah satu ide terburuk yang pernah ada dalam sejarah peradaban dunia dan fajar tumbuh mekarnya iman Katolik.  Bagi umat Katolik, kekaguman tertinggi selalu diberikan kepada orang-orang yang meninggal karena iman mereka, dan semakin mengerikan kematiannya, semakin banyak perhatian dan penghargaan yang mereka peroleh. 

Menjadi martir adalah cara hidup yang paling diminati Kristiani awali. Memberi diri untuk dibunuh demi iman. Panggilan untuk menjadi martir adalah suatu pilihan yang menyenangkan dan bahkan tidak jarang mereka mengharapkan sebagai martir. Serentak menimbulkan pertanyaan, apa yang menjadi motivasi umat Kristiani awali untuk menjadi martir. 

IMAN AKAN PERISTIWA SALIB 
Alasan pertama ialah Iman akan Kristus yang mati di salib yang mengorbankan hidup-Nya untuk sesama. Cara hidup menjadi pengikut Kristus atau murid Kristus yang sempurna ialah mati mempertahankan iman kepadaNya, dengan demikian mati bersama-Nya di salib dan hidup bersama-Nya di kehidupan kekal. 

HARAPAN ESKATOLOGIS
Pilihan menjadi martir umat Kristiani awali juga didorong oleh kuatnya pengharapan eskatologis karena Kristus sendiri menjanjikan kehidupan itu dan ditambah lagi dengan Kitab Wahyu yang menggambarkan kehidupan tersebut yang sekaligus juga mengekspresikan kehidupan kemartiran yang merupakan cara hidup Kristiani yang kudus: 

“Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang dan malam di Bait SuciNya" (bdk Why 7:14b-17). 

Kitab Wahyu juga menginformasikan bahwa menjadi martir adalah bagaikan jalan bebas hambatan (jalan tol) untuk memperoleh kehidupan yang dijanjikan itu, tidak perlu menunggu di tempat penantian: 

"Sesungguhnya suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka dan dengan suara nyaring mereka berseru, Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba" (Why 7:9-10). 

Penulis Kristen awal dan uskup Antiokhia, Ignatius Teoforus dengan sangat baik mengatakan, "Sangat indah bagiku meninggal sebagai martir untuk menyatukanku pada Kristus. Dialah yang kucari, Dia yang telah mati untukku; aku menginginkannya, Dia yang telah bangkit untuk kita". 

Kemartiran bukan saja memberikan kesaksian yang benar kepada Gereja tetapi juga memiliki nilai penebusan, sebab kemartiran itu memiliki karitas kepada sesama; memberikan hidupnya sendiri kepada orang. 

St. Polikarpus dan juga martir yang lain bagaikan Kristus yang memiliki kesabaran saat penantian untuk dibunuh. Inilah tanda solidaritas yang sebenarnya yang tidak hanya mencari kesalamatan diri sendiri tetapi juga orang lain. Ungkapan penebusan ini juga sering digambarkan dengan agàpe yaitu pemenuhan karitas kepada sesama, karena kebajikan mereka kepda Tuhan, diarahkan juga kepada sesama. 

Sejarah telah mencatat bahwa fenomena mistik biasanya menyertai saat seseorang dalam proses kemartiran yang biasanya diungkapkan dengan penglihatan. Misalnya, Perpetua memperoleh pengalaman mistik saat dia dipenjarakan. Polikarpus juga mengalaminya tidak lama sebelum ia dibunuh. Demikian juga dengan Stefanus yang memiliki penglihatan di surga. 

Rupa-rupa pengalaman ini adalah buah dari hubungan istimewa mereka dengan Tuhan dan sebagai anugerah dari Roh Kudus mereka mengalami fenomena mistik seperti ini. Pendek kata, menjadi martir adalah salah satu hubungan istimewa dengan Kristus.

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update