-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENULIS DALAM KETERBATASAN DAN KETERBATASAN DALAM MENULIS

Senin, 31 Mei 2021 | 10:46 WIB Last Updated 2021-05-31T04:13:37Z

Sudah lama saya tidak menggauli aktivitas menulis di media sosial, khususnya facebook. Tubuh yang terus digerogoti pelbagai penyakit menjadi alasan kealpaan tersebut. Terlampau sulit untuk bisa berpikir serius dan optimal ketika raga kurang bertenaga alias tidak dalam kondisi prima.

Badan yang kurang fit, sejauh ini menjadi salah satu unsur keterbatasan saya dalam menekuni dunia 'yang membesarkan saya' itu. Menulis dalam kondisi keterbatasan semacam itu, tentu hasilnya tidak maksimal.

Tetapi sebenarnya, masih banyak elemen lain yang masuk dalam kategori 'keterbatasan' itu. Pertanyaannya adalah apakah kita 'menyerah kalah' dan tidak termotivasi lagi untuk melampaui fenomen keterbatasan tersebut?

Kebetulan saya sebagai seorang guru kecil di salah satu sekolah kejuruan swasta di Labuan Bajo, maka tulisan ini berfokus pada upaya 'membumikan' tradisi menulis dalam diri para guru. Tesis utama saya adalah para guru merupakan kelompok intelektual di mana budaya menulis menjadi salah satu kekhasannya. Dengan demikian, diandaikan saja bahwa semua guru, dalam taraf tertentu, sudah bergelut dengan aktivitas itu.

Kendati demikian, tetap disadari bahwa kebiasaan menulis itu tidak dibawa sejak lahir atau jatuh begitu saja dari langit. Selalu ada pra-kondisi yang 'memungkinkan' seseorang menggauli aktivitas itu secara reguler dan berkesinambungan.

Untuk itu, saya coba menelaah 'latar situasi dan kondisi' yang bisa menunjang pertumbuhan kultur menulis itu. Analisis itu diramu dalam dua ungkapan yang setidaknya bisa mewakili apa yang terjadi pada setiap individu yang bertekat menekuni dunia menulis itu.

Menulis dalam Keterbatasan 
"Keterbatasan membuat orang kreatif, membuat orang terpecut untuk melakukan apapun. Keterbatasan tak ubahnya situasi yang dibuat tuhan untuk membuat seseorang lebih berjuang, agar apa yang diperjuangkannya bisa lebih berkesan", tulis Hanum Salsabiela Rais, penulis buku Bulan Terbelah di Langit Amerika.

Pendapat Rais ini, sudah terbukti kebenarannya dalam panggung sejarah yang bersifat empiris-faktual. Ada banyak bukti empirik soal kreativitas dan produktivitas dari mereka yang dilanda keterbatasan dalam semua lini kehidupan.  Realitas keterbatasan (kekurangan) bagi mereka tidak menjadi hambatan dalam menelurkan karya bermutu.

Saya kira, premis di atas menjadi fakta yang tak terbantahkan dalam dunia literasi, khususnya menulis. Ada banyak penulis yang sangat kreatif dan produktif dalam menulis, meski didera berbagai problem keterbatasan. Bahkan beberapa di antaranya masih setia menulis buku dari dalam jeruji bui. Jika kita sering membaca biografi atau autobiografi dari para penulis terkenal, ternyata sebagian dari mereka harus bergelut dengan latar kondisi dan situasi yang terbatas dalam memproduksi karya berkualitas tersebut.

Jadi, ungkapan 'menulis dalam keterbatasan', memperlihatkan sisi kegigihan penulis dalam menaklukan aneka kenyataan serba kekurangan yang dihadapinya. Keterbatasan seolah menjadi pelecut gairah dan motivasi dalam meracik tulisan yang bernas. Mereka tidak menyerah dengan keadaan serba terbatas tersebut.

Meski saya bukan tergolong penulis profesional dan produktif, tetapi saya sudah merasakan bagaimana 'kerasnya perjuangan' menghasilkan tulisan di media sosial di tengah fakta keterbatasan yang saya hadapi. Terus terang, predikat sarjana filsafat yang sekarang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah kejuruan swasta, bukan sebuah garansi untuk memperoleh aneka kemudahan dan kemewahan dalam menulis.

Ribuan artikel pendek saya yang bertebaran di jagat maya, semuanya ditenun di atas latar yang serba sederhana dan terbatas. Sampai detik ini, saya belum mampu membeli komputer jinjing (laptop), sebuah fasilitas modern penunjang aktivitas menulis. Saya hanya menggunakan  Hp sederhana dalam menulis.

Selain itu, saya juga harus taktis mengelola waktu untuk meramu sebuah tulisan. Pasalnya, selain seorang guru, saya juga seorang bapak untuk kedua anak saya. Aktivitas menulis tentu hanya sebagai selingan di tengah menumpuknya pekerjaan di sekolah dan rumah. Tegasnya, saya sangat menghayati ungkapan 'menulis dalam keterbatasan' itu secara konsisten.

Keterbatasan dalam Menulis
Berbeda dengan frase 'menulis dalam keterbatasan', di mana 'kegiatan menulis' tetap berjalan normal, ungkapan keterbatasan dalam menulis justru memperlihatkan sisi kelemahan manusiawi dalam menulis. Problem utamanya terletak pada 'potensi internal' dari penulis itu sendiri. Seorang calon penulis mesti berjuang melawan kemiskinan pengetahuan dan keterampilan yang terbatas dalam menulis.

Boleh jadi, kita dilengkapi dengan suasana serba mewah dalam menulis, tetapi karena terbatasnya potensi diri dan ditunjang dengan dengan motivasi yang lemah, kita kurang kreatif dan produktif dalam menulis. Itu berarti dalam kasus semacam Ini,  keterbatasan menjadi 'kendala utama' untuk mengasah kemampuan menulis. Jika kita gagal mengatasi 'kelemahan manusiawi' itu, mungkin kita tidak akan menghasilkan apa-apa dalam jagat literasi, walau faktanya kita tergolong cerdas secara intelektual.

Saya kira, umumnya para guru di Mabar mengalami persoalan semacam ini dalam menulis. Dari sisi fasilitas, mungkin kita tidak mengalami kendala berarti. Tetapi, problemnya adalah kita ketiadaan motivasi dan mungkin belum sanggup mengatasi kondisi soal kurangnya pengetahuan dan keterampilan menulis. Kita tahu bahwa para guru memiliki kualifikasi akademik dan intelektual yang tidak diragukan lagi. Hanya saja, kita masih kesulitan untuk keluar dari persoalan 'anggapan kurangnya kecakapan' dalam menulis. 

Dari penjelasan singkat di atas, kita bisa simpulkan bahwa 'factum keterbatasan' bisa dimaknai secara berbeda pada saat kita mengembangkan potensi literasi menulis. Realitas keterbatasan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, pada sekelompok orang, bukan alasan untuk menumbuhkan minat dan menghasilkan sekian banyak karya bermutu. Pada sisi yang lain, kondisi keterbatasan itu, bisa menjadi penghambat bagi kelompok tertentu untuk menghasilkan tulisan tersebab oleh ketiadaan motivasi dan komitmen serta terkurung dalam penghargaan diri (self-esteem) yang lemah. Kita terjebak dalam kompleks inferioritas diri yang akut.

Sebetulnya, kondisi keterbatasan dalam menulis bisa menjadi peluang untuk tampil lebih produktif. Mengapa? Jika kita berpikir positif bahwa kondisi kekurangan pengetahuan dan keterampilan menjadi problem serius dalam menulis, maka kita terpacu untuk terus mengasah keterampilan itu secara reguler dan konsisten. Bukan tidak mungkin, kita yang sebelumnya kurang berbakat dalam menulis, tetapi berkat latihan yang kontinyu, pada akhirnya kita bisa menjadi penulis top. Selamat menggauli aktivitas menulis itu.

Oleh: Silvester Joni
×
Berita Terbaru Update