-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pak Nadiem, Pak Kapolri: Selamatkan Masa Depan MS

Sabtu, 22 Mei 2021 | 12:06 WIB Last Updated 2021-05-22T05:06:25Z

Siapapun termasuk saya dan bapak berdua tentu prihatin dengan konflik Isarel vs Palestina yang memakan banyak korban jiwa terutama anak-anak. Siapapun termasuk saya dan bapak berdua mencintai perdamaian dan bukan peperangan. Dan salah satu instrumen untuk menjaga perdamaian dan persatuan adalah hukum yang harus ditegakan secara adil, jujur dan benar.

Berhadapan dengan konflik Israel vs Palestina, kita semua sepakat bahwa yang kita bela adalah kemanusiaan dan perdamaian. Tidak ada bela Israel maupun bela Palestina. Karena hasil dari konflik Israel vs Palestina adalah adanya korban nyawa berjatuhan terutama di kalangan anak-anak.

Namun fakta berbicara lain di negri kita Republik Indonesia. Konflik Israel vs Palestina bukannya semakin menguatkan rasa kemanusiaan, perdamaian dan persatuan kita, tetapi justru semakin memperuncing jurang perbedaan di antara kita. Palestina didukung oleh oknum kelompok Islam karena merasa ada kedekatan secara agama dengan Islam. Di sisi lain sebagian oknum umat Katolik, Protestan dan lainnya mendukung Israel karena merasa ada kedekatan sebagai satu keturunan Abraham.

Jika kita mau melihat secara jernih kasus penghinan oleh MS melalui tiktok yang berujung dengan dikeluarkannya MS dari sekolah karena diduga melakukan penghinaan kepada Palestina itu merupakan dampak dari ketidakdewasaan sebagian masyarakat Indonesia yang menempatkan konflik Israel vs Palestina sebagai konflik agama yang dengannya dukungan yang diberikan juga bukan karena kemanusiaan tanpa memandang suku dan agama tetapi justru karena kesamaan agama yang mengatasnamakan kemanusiaan.

Apakah dengan mengeluarkan MS dari sekolah akan menyelesaikan konflik Israel vs Palestina? Atau apakah menjadi jalan untuk semakin mempererat persatuan dan perdamaian di wilayah NKRI? Justru kemungkinan Israel dan Palestina atau negara lain yang sedang mentertawakan kita; “Israel dan Palestina yang konflik, Indonesia jadi korbannya.”

Kenyataan menunjukan bahwa setiap konflik Israel vs Paletina, kita sebagai bangsa yang berdaulat justru terpecah belah. Ada yang pro Palestina dan ada yang pro Israel. Di saat situasi seperti ini bukannya kita menyerukan persatuan dan kesatuan diantara kita dan menyuarakan perdamaian dan kemanusian untuk Israel dan Palestina serta mengajak bangsa lain untuk membangun dialog dan mengusahakan perdamaian Israel dan Palestina, tetapi kita semakin mempertajam pro Israel untuk sebagian orang dan pro Palestina untuk sebagian yang lain.

Saya melawan setiap bentuk penghinaan. Dan karena perlawanan saya terhadap setiap bentuk penghinaan dan ujaran kebencian, saya sendiripun berharap banyak agar penegakan hukum di Indonesia ditegakkan dengan seadil-adilnya.

Seharusnya kita semua sadar bahwa salah satu alasan mengapa penghinaan dan ujaran kebencian merajalela dan bertumbuh subur di bangsa Indonesia karena penegakan hukum di Indonesia terhadap para pelaku penghinaan dan ujaran kebencian sering berakhir dengan kata “MAAF” dan “METERAI Rp. 10.000.” Bahkan dapat dikatakan juga bahwa perlakukan terhadap kata “maaf” dan “meterai Rp. 10.000” inipun diskriminatif. Bahkan kadang kata “maaf” itu sendiripun sepertinya ada kompromi akan ada tekanan massa atau tidak.

Saya contohkan saja; yang menghina dan mencaci maki polisi baru-baru ini di Sukabumi karena tidak terima disuruh putar balik, tidak dihukum hanya karena sudah meminta maaf (kompastv, Senin-17 Mei 2021). Orang yang mencaci maki penegak hukum yang notabene menjaga marwah dan martabat hukum bangsa Indonesia agar ditegakan secara adil dan benar serta ditaati oleh seluruh rakyat Indonesia justru dibebaskan dengan dalih sudah meminta maaf dan sudah dimaafkan.

Yang dicaci maki bukan orang lain, bukan pula dari negara lain. Tetapi orang kita sendiri, warga negara Indonesia yang dicaci maki. Bagi saya ketika seseorang mencaci maki pihak Kepolisian ataupun TNI maka sejatinya ia telah mencaci maki kedaulatan dan hukum Indonesia. Bahkan secara terang-terangan merongrong penegakan hukum Indonesia.

Sebaliknya MS yang menghina Palestina dan sudah meminta maaf tetapi hukuman terberat justru diterima olehnya yaitu dikeluarkan dari sekolah. Bagi saya ini adalah hukuman paling berat karena pihak sekolah sepertinya secara terang benderang memberikan dukungan kepada Palestina dengan membunuh masa depan MS.

Saya justru mempertanyakan sikap netralitas pihak sekolah dalam kasus MS di tengah pusaran konflik Israel vs Palestina. Bahkan maaf jika pak Nadiem dan pak Kapolri juga mengamini tindakan pihak sekolah maka kita sebagai bangsa yang berdaulat dan yang mencita-citakan perdamaian bagi semua bangsa justru ikut terjerembab dalam gelombang konflik Israel vs Palestina dengan secara terang-terangan mendukung Palestina. Dan jika itu benar terjadi maka saya secara pribadi menyerukan; “Selamatkan Masa Depan MS”, “Perdamaian untuk Israel dan Paletina tanpa ada bela Israel maupun bela Palestina. Tapi yang kita bela dan perjuangkan adalah kemanusiaan dan perdamaian.

Jika MS dikeluarkan dari sekolah dengan alasan menghina Palestina, lantas bagaimana dengan sikap Pak Nadiem dan Pak Kapolri terhadap sekelompok organisasi mahasiswa yang melakukan aksi bela Palestina seraya membakar replika bendera Israel? Apakah karena hanya replika bendera yang dibakar sehingga dibenarkan dan dibiarkan? Atau apakah karena mereka melakukan aksi membela Palestina sehingga dibenarkan?

Menurut hemat saya; meskipun hanya replika bendera Israel yang dibakar, itu juga sebagai bentuk penginaan dan pelecehan terhadap simbol negara lain apalagi membakar untuk mendukung pihak Palestina.

Maka dari itu dengan segala kerendahan hati, saya memohon kepada bapak berdua untuk mengkaji kembali tindakan sekolah yang mengeluarkan MS dan menyelamatkan masa depan MS. 

MS salah, tetapi lebih bijak juga kalau MS tetap didampingi dan dibina dengan baik dan benar tanpa mengorbankan masa depannya. MS salah dan seperti mereka yang mencaci maki polisi juga salah. Yang terbaik adalah hukum ditegakkan secara adil dan benar.

Seperti mereka yang mencaci maki polisi akhirnya dibebaskan karena sudah meminta maaf, seharusnya itu juga yang didapatkan oleh MS yang juga sudah meminta maaf dan tidak dihukum maka juga pihak sekolah tidak bisa mengeluarkan dia tetapi membina dia secara intensif, baik dan benar. 

Pak Nadiem, Pak Kapolri: Selamatkan Masa Depan MS! Salam.

Manila: 21-Mei 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update