-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Si Buta Dari Istana

Senin, 24 Mei 2021 | 09:03 WIB Last Updated 2021-05-24T02:03:44Z
Aku duduk terpekur di atas batu memandang puing-puing rumahku yang berantakan dihantam banjir bandang. Tak ada yang tersisa. Kasur tempatku dulu berlabuh saat lelah, kini bergrantung layu di pohon mangga samping rumah. Kasur itu masih basah dan tak mungkin akan dipakai lagi. Atap rumah sebagian sudah mencium tanah. Perabot rumah tak ada yang tersisa, hanya sebuah kualli yang sudah penyok kugantung di tiang pintu yang masih berdiri kaku. Yah, tiang pintu itu tempatku bersandar ketika pulang kerja hari-hari sambil minum kopi buatan istri tercinta. Biasa, sore-sore saya duduk di pintu bersandar pada tiang pintu sambil bersenda gurau dengan istri, anak-anak dan para tetangga. Yah..itu semua kenangan. Sudah luluhlantah bersama rumah kami yang sudah rebah tak sadar diri. 

Hari-hari aku di pengungsian, namun tak pernah membuatku nyaman, walau segala kebutuhanku terpenuhi oleh kebaikan hati mereka yang punya hati. Beras kami tak kurang. Sayur juga! Air pun begitu. Pokoknya segalanya ada; hanya saja kami masih tidur rame-rame. Tidak ada ruang seperti dulu di mana istriku akan mengurut kakiku walau tidak keram. Tidak ada lagi curhat malam jelang tidur dari sitri dan anak-anak tentang jualan kue yang tidak laku karena orang takut dengan Covid-19. Memang segala kebutuhan sudah dipenuhi, namun tetap saja tidak membahagiakan. Yah namanya pengungsian.

Saban hari sejak kisah tragis itu, aku tidak lagi bisa bekerja apa-apa. Malam hari duduk bersama teman-teman pengungsi; berceritera tentang apa saja yang muncul di benak. Pagi hingga petang, aku ke rumahku yang tinggal puin-puing. Ingin membangunnya kembali, namun mau gimana. Aku tak lagi punya apa-apa. Aku cuma petani. Bisa saja aku menanam sayur namun, lahanku sudah ditutup pasir yang dibawa banjir. Tanamanku seperti pisang, sirih dsb sudah tumbang dan hanyut entah ke mana. Tinggal saja tunas-tunas baru yang tumbuh berantakan tak karuan.

Air mata kami sudah lama mengering. Tak ada lagi sumber air untuk air mata. Anak-anak sudah tak lagi sekolah. 

Sudah berulang kali para pejabat datang silih berganti. Yang satu datang janji ini. Pejabat lain janji ini. Dan yang menyakitkan malah datang pada hari-hari terakhir; kami disuruh pindah namun tidak tahu mau pindah ke mana. Alasannya tempat kami rawan banjir. Malah orang yang kami pilih karena kami percaya mengatai kami bodoh karena mendirikan rumah tidak memikirkan risiko banjir. 

Kamu semua bodoh! Kamu sudah tahu tanah ini dekat dengan kali, kamu masih ngotot mendirikan rumah di sini! Kalau kamu tidak mau pindah, nanti kami tidak bantu! Kami tidak mau bantu orang bodoh! 

Kata-kata itu menusuk hingga ke ulu hati. Lebih sakit dari efek banjir. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Aku ingat! Dialah yang dulu datang dengan bibir manis berjanji akan memperbaiki hidup kami. Dia berjanji akan mendirikan tanggul penahan air agar tidak meluap ke pemukiman.

Kalau saya terpilih, akan saya bangun tembok penahan sepanjang kali agar ketika banjir, airnya tidak meluap ke sini. Dan saya pastikan tidak ada siapa pun yang bisa mengusir kamu dari tanah tumpah darah warisan leluhurmu. Tanah ini adalah warisan leluhur dan karena itu, tanah ini adalah identitas kita!

Itu kata-katanya dulu. Dan sekarang sudah berubah. Dia berubah sejak dia duduk di istana yang megah. Dia sudah buta. Dia si buta dari Istana.

BERSAMBUNG...

(Ceritera ini tidak ditujukan untuk siapa-siapa. Ini cuma ceritera khayalan. Dan foto ini diambil hanya utk cocokan dgn ceritera)

Oleh: Pater Wendly J. Marot SVD
×
Berita Terbaru Update