-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Toleransi Tanpa Intoleran Pada Prinsip Iman Masing-Masing

Minggu, 16 Mei 2021 | 11:15 WIB Last Updated 2021-05-16T04:15:09Z
“Om ingat doa dan misa ya.” Demikian pesan yang selalu ia ingatkan kepada saya di akhir vc atau pesan via watshapp. Nak, juga ingat shalat yang rajin, pakai jilbab yang benar ya, demikian pesanku kepadanya. 

Dia adalah Nisa, putri semata wayang dari almarhumah kak Sukmaniar. Nisa yang kujumpai saat itu masih berumur 10 tahun, ketika bersama mamanya mengunjungi saya di Katedral Samarinda, adalah seorang gadis kecil yang periang dan lugas. Saya masih ingat, ketika ia dan mamanya tiba di Katedral dan melihat saya memakai kalung salib, Nisa bertanya kepada saya; “om itu apa?”

Saya menjawab, ini salib. Apakah Nisa juga boleh memakainya? Tanyanya lagi. Sayapun menjawab; “nak, ini hanya bisa digunakan oleh umat Katolik seperti om. Nak Nisa khan Islam, jadi bagus kalau nak Nisa mengenakan tasbih. Oh begitu om, Nisa pikir Nisa juga bisa memakainya.

Perjumpaan pertama pada tahun 2010 itu terus berlanjut meski nak Nisa adalah seorang Islam, pun pula mamanya yang kemudian menjadi kakak saya juga bukan bagian dari keluarga saya maupun keluarga asli kak Niar.

Awal perjumpaan yang saling menghargai dan tetap memegang teguh prinsip ajaran iman kami masing-masing seperti saling mengingatkan di antara kami setiap mengakhiri vc atau pesan melalui watshapp justru membuat hubungan kekeluargaan kami semakin akrab antara om dan keponakan.

Dan ketika nak Nisa ditinggal pergi selamanya oleh mamanya yang adalah kakak Niar pada tahun 2018 ketika Nisa masih berumur 18 tahun dan harus bekerja sebagai cleaning service di salah satu Rumah Sakit di Samarinda untuk bisa membiayai sisa masa kuliah dan kos, saya menjadi teman nak Nisa dalam perjalanannya menggapai cita-citanya.

Saya sedih dan menangis ketika pada saat kami berdua vc dan ia mengatakan; “om, besok Nisa bekerja sebagai cleaning service”, saya hanya bisa mengatakan kepada om dan kak Niar; “oma, kakak maafkan saya yang tak bisa membantu nak Nisa semampuku, sehingga nak Nisa harus berjuang demi menggapai mas depannya.”

Nak Nisa kemudian menguatkan saya, “om, gak apa-apa. Yang penting halal. Om jangan sedih dan menangis lagi. Tolong doakan selalu mama, oma dan Nisa dalam doa dan misa yang om lakukan.”

Meskipun nak Nisa bukan ponakan kandung saya, pun pula bukan seagama dengan saya, namun salah satu kebahagiaan saya hari ini adalah bahwa saya boleh menjadi bagian dalam perjalanan nak Nisa menggapai cita-citanya. Nak Nisa sudah menjadi ponakan kandung saya dan saya buktikan dengan memperkenalkan nak Nisa kepada kakak-kakak saya walau hanya melalui foto dan penjelasan yang saya kirimkan kepada kakak-kakak saya yang juga menerima nak Nisa sebagai ponakan mereka.

Saya boleh merasakan kebahagiaan karena kekuataan kekeluargaan saya dengan nak Nisa adalah saling mengingatkan untuk tetap menjalankan prinsip-prinsip ajaran iman kami dengan benar dan taat.

Nak Nisa, ada om dalam setiap perjuanganmu. Nak Nisa juga selalu ada dalam doa-doa om. Saat nak Nisa kangen sama mama dan oma, ingatlah bahwa ada om Pastor yang selalu mendampingi dan menemanimu dalam perjalanan nak Nisa menggapai cita-cita, demikian pesanku kepada Nisa.

Manila: 15-Mei 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update