-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

YANG LEBIH MENDESAK ITU APA: MENIKAHKAN PASANGAN LGBT ATAU MERANGKUL KELOMPOK WARIA DI PELUPUK MATA KITA?

Senin, 31 Mei 2021 | 13:16 WIB Last Updated 2021-05-31T06:26:16Z

Dari pada buru-buru omong tentang Sakramen Perkawinan untuk yg LGBT, mendingan kita sama-sama perhatikan nasib para WARIA yg ada di pelupuk mata.

Tahun 2012, teman saya atas nama Apolinaris Wawo, yg menjabat ketua seksi misi Komunitas Seminari Tinggi Ledalero (bukan STFK), menggetarkan aula St. Thomas Ledalero dengan satu program kerjanya tentang pastoral untuk kaum waria (wanita pria di Kota Maumere). Aula bergetar bukan karena protes atau debat melainkan karena tertawa terbahak-bahak. Untuk sebagian besar anggota komunitas, ini program paling lucu, paling gila dan seperti lelucon. Dan tak pelak, temanku ini pun kemudian menjadi korban bully dari banyak teman khususnya teman seangkatan. Sampai tahun 2013 kami ditahbiskan pun, program ini tidak terealisasi.

Delapan tahun di Ledalero, saya melihat kelompok waria menjadi kelompok yg tidak pernah disentuh atau termarginalkan. Malah saya boleh bilang bahwa mereka adalah kaum yang dibiarkan berkembang sendiri tanpa pendampingan dan tentu tanpa kasih sayang dari siapa pun. Kalau mereka berkembang dalam bidang ekonomi, itu karena mereka berjuang sendiri di tengah pandangan miring. Di masyarakat mereka menjadi sasaran bullying. Di rumah ibadah termasuk gereja, bahkan komunitas seminari besar yg banyak tersebar di Maumere, mereka tidak mendapat tempat. Di  sekolah atau pun di instansi lain entah milik pemerintah atau pun swasta, juga tidak ada ruang untuk mereka. Sehingga saya boleh bilang mereka dibiarkan bertumbuh dan berkembang sendirian.

Kadang saya berpikir bahwa kita sangat berlebihan. Salon-salon, barber atau tempat pangkas rambut di beberapa tempat dan kota yg pernah saya singgahi hampir pasti didominasi oleh kaum ini. Saya tdk berani memasukkan mereka dlm kelompok LGBT (maaf karena kurang paham). Dan sering kali terjadi bahwa ketika kita dekat dengan mereka atau masuk ke salon mereka, pasti kemudian akan menjadi bahan olokan.

Tahun 2013 saya tinggalkan Ledalero dan di tempat yg sekarang saya bertugas, masih ditemukan kaum waria. Nasib mereka hampir sama; tetap dipinggirkan dan menjadi sasaran bullying.

Di Maumere mereka punya organisasi sendiri yang dibentuk sendiri entah legal atau tidak, namanya sering disebut PERWAKAS. Kami cuma mendengar namanya dulu namun tidak pernah menyentuh mereka dalam program pastoral kami. Ketika temanku mengangkat program itu, sontak semua anggota tertawa.

 Delapan tahun di sana, tidak pernah ada aksi untuk berjuang mendampingi kaum lemah ini. Itu kesalahan masa lalu, masa kami.

Baru-baru ini Media Indonesia menurunkan berita tentang pernyataan seorang Pastor yg kebetulan menjabat sebagai Ketua STFK Ledalero dan dosen HAM di almamater saya itu. Dalam berita itu, dia mengharapkan atau tepatnya menganjurkan agar Gereja Katolik membuka kemungkinan untuk menikahkan pasangan LGBT. Pernyataan ini tentu menimbulkan pro kontra, dengan argumentasi yang semuanya masuk akal, apa lagi berbasis pemahaman filsafat yang mumpuni. Secara pribadi, saya menghargai kebebasan berpikir. Sungguh sebuah pernyataan yg berani dan progresif dari seorang pastor Katolik sekaligus dosen di Sekolah Katolik. Namanya harapan, bisa jadi Gereja Katolik menerima dan bisa juga tidak. Tentu membutuhkan proses yang panjang dan perlu penelitian yang mendalam. Gereja tentu memikirkan dampaknya terhadap kehidupan termasuk hidup dalam negara-negara. Bahwa kemudian itu dikabulkan karena atas nama HAM, maka bersiaplah untuk menerima tuntutan lain juga seperti kemungkinan menikahkan mereka yg memilih berpoligami atas nama HAM, pastor boleh menikah atas nama HAM dsb. Tentu Gereja sudah memikirkan semua dampaknya. 

Sebagai ide, kita mengapresiasi keberanian sang pastor. Karena itu, kita terlalu dini dan naif jika mempersalahkan sang pastor hanya gara-gara idenya yg terkesan out of the box. Saya pun yakin bahwa beliau hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mengharapkan pembaharuan dalam Gereja Katolik.

Hingga kini Gereja Katolik masih berpegang teguh pada prinsip bahwa perkawinan itu sifatnya heterosexual dan monogami. Artinya, Gereja Katolik hanya mengakui perkawinan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki. Gereja masih menolak perkawinan antara pasangan sejenis, pasangan yang berorientasi seksual ganda (biseksual) dan tentu mereka yg mengganti jenis kelamin (transgender). 

Saya tidak punya kapasitas untuk berbicara tentang HAM dan juga tentang pertimbangan Gereja menolak atau menerima anjuran (harapan dari pakar HAM). Karena itu tulisan ini juga tidak bermaksud membangun perdebatan dan diskusi karena toh pada akhirnya mentok di otoritas gereja yang mengambil keputusan. Biarkanlah itu diperdebatkan oleh para pakar.

Di sini saya hanya mau bertanya: 

Dasar apa yang paling fundamental yg bisa kita anjurkan ke Gereja Katolik agar perkawinan kaum LGBT dikabulkan? Apakah atas dasar HAM saja lalu dihubungkan dengan kekeliruan Gereja masa lalu? Apakah itu tidak menimbulkan masalah lain, misalnya Gereja Katolik yang hidup di negara yang bukan Katolik dan dengan tegas menolak anjuran ini. Benar, ini hanya soal waktu tapi apakah kita sudah memikirkan konsekwensinya?

Pertanyaan lain adalah, Apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk mereka yang diperlakukan tidak adil seperti kelompok Waria di sekitar kita yang selalu menjadi pusat olokan? Lembaga besar seperti STFK Ledalero (kebetulan yang mengangkat isu ini adalah Ketua STFK Ledalero), apakah sudah memperjuangkan nasib kelompok Waria di Maumere yang bahkan dipinggirkan oleh Gereja? Kalau sudah, tolong bagikan pengalamannya kepada kami: apa yang dilakukan dan dengan cara apa itu dilakukan; siapa tahu itu bisa menjadi rujukan bagi kami dalam upaya merangkul mereka semua yang menyandang status WARIA. Kalau belum ada, saya hanya mau anjurkan: dari pada berbicara lebih dulu tentang sakramen perkawinan untuk mereka (LGBT), lebih baik kita rangkul mereka yg ada di depan mata kita. Sukur kalau sudah ada pasangan LGBT yg sudah didata di sekitar kita, dampingi mereka sambil menunggu jawaban dari Konsili Gereja Katolik.

Sekali lagi, dari pada buru2 omong tentang Sakramen Perkawinan untuk yg LGBT, mari kita perhatikan nasib para WARIA yg ada di pelupuk mata. Mereka butuh tanggung jawab kita juga. Jangan dulu lompat terlalu jauh, mari kita melangkah dan menengok mereka yang terpinggirkan.

Dili, 31 Mei 2021
P. Wendly Marot, SVD
×
Berita Terbaru Update