-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

๐Š๐ž๐ ๐š๐ฅ๐š๐ฎ๐š๐ง ๐“๐ž๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข (๐’๐ž๐›๐ฎ๐š๐ก ๐‹๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ซ๐š๐ง ๐€๐ฎ๐ญ๐จ๐ค๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ค)

Rabu, 30 Juni 2021 | 08:57 WIB Last Updated 2021-06-30T04:11:19Z
๐“๐ž๐จ๐ฅ๐จ๐  ๐†๐š๐ฅ๐š๐ฎ

 Mengawali bagian tulisan ini, saya akan mengutip kata-kata dari Aloysius Pieris yang mengatakan: “….teolog yang ide teologisnya tidak menyentuh yang lain (realitas) akan menjadi teolog yang kesepian, yang hanya mencari kenyamanan dan kemewahan dalam dirinya sendiri.” Rasa saya, seorang teolog harus mempunyai “sparing partner”. Teolog yang tidak memiliki sparing partner adalah seorang teolog yang kesepian, seorang teolog yang sedang galau dengan  gagasan dan dirinya sendiri. Ia hanya akan bermain dengan ide-ide teologisnya yang abstrak-idealis, yang kadang kala hanya berpusat pada satu permainan ide teologis tertentu. Misalkan saja, ide teologis yang hanya berpusat pada liturgi atau Ekaristi atau tema-tema teologis tertentu rasa-rasanya akan sangat memiskinkan kekayaan dari refleksi teologis yang ada. Teolog yang tidak berani keluar dari dirinya untuk bisa menyentuh realitas yang lain harus bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang teolog yang sedang galau. Ia hanya berani dan berlari dari kesepiannya lalu akhirnya hanya bergumul dengan Tuhannya sendiri (baca: Spesialisasi ilmunya saja). Kegalauan nampak dalam ketidakberaniannya ini.

Kegalauan seperti ini disebabkan oleh kurangnya perhatian para teolog kita (konteks Indonesia) dalam memperhatikan dan mementingkan “locus teologicus” kita sebagai orang Indonesia. Seorang teolog Jepang bernama Kosuke Koyama pernah mengatakan begini: ”saya tidak bekerja di Roma dan Swiss atau bekerja dengan Thomas Aquinas atau Karl Barth tetapi dengan para petani di Thailand.”  Apa yang menarik dari kalimat ini bahwa berteologi itu ada locus teologicusnya dan seorang teolog harus bermain dalam locus teologi ini. Dalam konteks kita, ada banyak gagasan teologis yang muncul dan dikembangkan bahkan diabadikan dalam karya-karya mahaagung dan mahatebal tapi pertanyaannya apa semua itu dapat dipahami, sesuai dengan konteks kita ataukah hanya mengulangi gagasan-gagasan teologi Barat atau diktat kuliah yang dulu pernah dipelajari? 
 Saya mengambil contoh tentang diskusi teologis diseputaran ruang kelas yang sangat jelas menunjukkan adanya tegangan antara liturgi yang hanya terbatas di altar dengan berbagai penekanan ritus, tatagerak dan macam-macamnya dengan liturgi yang diharapkan bisa menyentuh dan menjawabi persoalan praktis umat. Tentu saja dari perbedaan gagasan teologis-akademis yang muncul ini, rasanya harus diapresiasi sebab menunjukkan adanya pluralitas dalam berteologi tapi menjadi tidak bijak jika kita hanya berhenti pada kepuasan pluralitas ini. Kita kembali pada diskursus tadi bahwa penekanan yang terlalu berlebihan pada hal-hal ritualis dengan macam-macam soal tanya jawab seputar: apa perlu tidak menggunakan kalimat “Tuhan Sertamu atau Tuhan bersamamu” dan perlu tidaknya menjawab “amin” pada bagian-bagian tertentu dari upacara liturgi ekaristi, rasa saya belum membawa kita pada teologi yang sesungguhnya. Kita harus berani keluar dari diskusi dan perdebatan soal ini untuk bisa menjawab dan menyentuh apa yang sebenarnya dibutuhkan umat atau apa yang pas, tepat dan cocok dengan cita rasa umat beriman. Kita masih terlalu merasa nyaman dalam berteologi.
 Karena itu, rasa saya, seorang teolog harus selalu merasa tidak aman dengan situasi sekitarnya. Teolog harus merasa ada yang selalu menggangu dirinya, mengejar dan berusaha untuk memunculkan gagasan-gagasan yang baru.Saya mengambil contoh beberapa teolog Asia seperti Kosuke Koyama, Masao Takenaka, ataupun Marianne Kattopo, selalu saja merasa tidak tenang dengan situasi lingkungan hidup mereka. Mereka berteologi dengan sungguh-sungguh berangkat dari realitas dimana mereka ada. Bila kita menyimak karya dan kisah-kisah mereka akan ditemukan bahwa mereka menulis sesuatu yang sederhana, sesuatu yang berakar dari locus dan tempus mereka hidup. Tulisan-tulisan mereka pun tidaklah terlalu panjang dan tebal yang sebenarnya ingin menunjukkan bahwa ada situasi yang selalu mengancam dan mengejar mereka. Karena itu, dengan tidak bermaksud menyinggung pribadi tertentu, rasa-rasanya bahwa bila ada teolog kita yang memiliki karya dan tulisan yang bertebal-tebal dan panjang-panjang bisa dikatakan bahwa ia terlalu berada dan merasa nyaman dalam menulis dengan duduk manis di “kursi malasnya” dan tidak merasa bahwa ada realitas diluar dari dirinya yang sangat membutuhkan sentuhan atau uluran tangan dan ide-idenya yang membumi. Maka, rasa saya akan menjadi lebih baik kita menjadi seorang “teolog jalanan” dari pada seorang “teolog kamaran atau sekolahan” yang hanya bergelut dan bergumul dengan diri dan gagasan kita sendiri.

๐“๐ž๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข ๐†๐š๐ฅ๐š๐ฎ

 Pertama-tama harus diakui bahwa teologi kita adalah teologi tulisan. Aspek teoritis tidak heran menjadi fokus utama pembelajaran kita. Kegalauan teologi justru berawal dari sini, dari teologi kita yang adalah teologi sekolahan atau teologi hafalan. Keterjebakkan dalam kedua model ini “sekolahan” dan “hafalan ” ini membuat kita tidak bisa menjadi teolog atau calon teolog yang kreatif dan bisa menemukan sendiri suatu bentuk teologi yang autentik, padahal kita telah dibantu dan dilatih dalam teologi proyek, teologi kontekstual atau sejenisnya untuk bisa berteologi.
 Pada dasarnya teologi itu mengajarkan kita untuk berpikir dan berefleksi. Tapi kadang kita hanya berhenti pada diskursus teologi sebagai “technical dicipline” sehingga tidak dapat membantu dan membuat orang tidak tahu akan apa yang bisa direfleksikan dari teologi. Teologi justru jatuh pada omongan manis dan indah yang tidak menyentuh realitas dan tidak bisa menjawab banyak pertanyaan. Teologi kita seolah terbatas dan terkungkung  dalam sangkar, kamar, tembok biara dan pikiran kita sendiri. Kita menjadi tidak tahu apa yang terjadi dan pergulatan hidup semacam apa yang sedang dihadapi sesama kita. Berteologi sebenarnya mengangkat pergulatan-pergulatan praksis seperti ini, apalagi dalam konteks kita di Indonesia. Meminjam kata-kata Steve Jobs yang pernah mengatakan: “teolog itu konsumer dan bukan produser”. Dalam arti bahwa berteologi itu pertama-tama bukan apa yang aku/kita pikirkan tapi apa yang dipikirkan oleh umat. Maka teologi harus lebih bersifat pastoral dan jangan lebih dogmatik yang justru semakin melebarkan jurang antara: doktrin, ritus, struktur dan realitas.
Kegalauan teologi tidak hanya berhenti disitu tapi akhir-akhir ini makin nampak pada beberapa realitas hidup menggereja. Rasa saya, teologi tidak boleh merasa aman meski sekarang keadaan gereja kelihatan aman dan menggembirakan.Gereja-gereja penuh. Koor hidup.Doa dan devosi adorasi ekaristi lancar. Imam-imam dihargai dan dihormati umatnya.Teologi seharusnya tidak harus berhenti saja karena keamanan dan kemapanan ini.Teologi harus selalu curiga.Teologi harus selalu merasa resah dengan segala yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, rasa-rasanya teologi harus berani memecah kesempitan akalnya sendiri dan mulai belajar untuk terbuka pada yang lain, terbuka pada pikiran-pikiran baru ataupun pada agama yang lain. Misalkan saja dalam konteks kita (baca: Indonesia), bila teologi kita hanya asyik dengan ajaran dan ilmunya sendiri dan tidak menyentuh realitas atau agama lain maka teologi kita sudah berada diambang “kematian suri.”Teologi harus berani melawan tantangan ini.Keberanian itu nampak dalam keberanian untuk keluar dari dirinya. Maka pokok-pokok teologi tak hanya lagi soal dogmatik ,ekaristi, hukum gereja, teologi sistematik, eksegese, ataupun moral. Kegalauan teologi menjadi nyata bila kita hanya ada dalam lingkaran ilmu-ilmu Kristiani saja.Maka teologi harus berani berwacana secara interdisipliner dengan ilmu dan agama-agama lain entah itu sejarah agama-agama, sosiologi agama-agama juga dengan filsafat dan ilmu budaya.

Pada akhir tulisan ini, saya suka dan kembali mengutip kata-kata Kardinal Carlo Maria Martini, beberapa hari menjelang kematiannya. Kata Kardinl Martini: “The Church was 200 years behind the times”. Liturgi Gereja memang megah dan meriah, busananya gemerlap indah, tapi berhadapan dengan zamannya, Gereja sendiri sesungguhnya kehilangan nyali dan menjadi penakut. Mengutip Karl Rahner pula Kardinal Martini mengatakan: “Gereja sekarang seperti bara api yang tidak kelihatan nyalanya lagi karena tertutup abu. Kita mesti menyingkirkan abu itu, sampai kita bisa menemukan apinya lagi”.  Rasa-rasanya, Gereja, Teologi dan para teolog sekarang juga sedang lelah dan berbeban berat dengan sikapnya yang harus membela struktur keseragaman, yang demikian mewarnai zaman ke zaman. Itulah sebabnya di tengah tuntutan keanekaragaman zaman, Gereja, teologi dan para teolog cukup terseok-seok (bisa dibaca: Galau), dalam membangun komunikasi didalam dirinya sendiri maupun dengan dunia diluar dirinya.

Oleh: Pater Doddy Sasi, Cmf

๐™น๐š˜๐š๐š“๐šŠ, ๐™ผ๐šŽ๐š๐š’๐š˜ ๐Ÿธ๐Ÿถ๐Ÿท๐Ÿน
×
Berita Terbaru Update