-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dari Jalan, Hingga Berdirilah Sebuah Kapel

Selasa, 15 Juni 2021 | 11:44 WIB Last Updated 2021-06-15T04:46:01Z

“Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya  sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si miskin papa. Suara  Allah tak lagi didengar, sukacita kasih-Nya tak lagi dirasakan, dan keinginan untuk  berbuat baik pun menghilang.” (Evangelii Gaudium. 2).

Selama setahun sejak 2017, setiap Sabtu sore jalan adalah “gereja” tempat saya mempersembahkan misa “street mass” untuk umat urban di perumahan Recomville. Di perumahan ini belum ada kapel. Ya, mencoba untuk mendekatkan altar misa ke tengah-tengah mereka.

Setiap kali misa banyak umat termasuk anak-anak yang hadir dalam perayaan misa tersebut. Melihat kerajinan mereka, yang pertama saya tanyakan kepada mereka bukan apakah mereka menghendaki sebuah kapel? Tidak.

Karena menurut saya, saya tidak mau membebani mereka karena keinginan saya untuk mendirikan sebuah kapel, tetapi bagi saya yang paling tepat adalah mereka yang kemudian mengusulkan, mencari tempat dan mendirikan kapel sendiri. Yang saya tanyakan kepada mereka adalah;

“Apakah, kalian mau di sini dijadikan stasi?”

Bagi saya tempat bisa di mana saja untuk merayakan misa. Namun membangun sebuah persekutuan iman sebagai Gereja yang sesungguhnya lebih penting dan merupakan salah satu tujuan misi agar mereka ikut terlibat dan melibatkan diri dalam setiap pelayanan termasuk usaha mengembangkan stasi mereka.

Atas pertanyaan saya diatas, merekapun setuju sehingga pada bulan Mei 2018 mereka resmi menjadi stasi ketiga dari Christ the King Parish. Saya menyadari bahwa umat dari stasi baru ini adalah kelompok urban yang hidupnya sangat sederhana. Maka saya tidak mau membebani mereka dengan berbagai macam permintaan yang justru membebani hidup beriman mereka. Dengan kata lain, tidak menjadikan pelayanan sebagai perbudakan bagi mereka, namun membebaskan mereka.

Sebagai inspirasi, saya mengutip pesan bijak Santo Agustinus;

“Perintah-perintah yang kemudian disampaikan oleh Gereja harus diberikan tanpa berlebihan“sehingga tidak membebani hidup umat beriman”dan mengubah agama  kita menjadi perbudakan, padahal “belas kasih Allah menghendaki bahwa kita harus  bebas.” (Evangelii Gaudium. 43).

Setelah menjadi stasi, pihak kelurahan mengijinkan kami untuk merayakan misa setiap hari Minggu di gedung bola basket. Perayaan misa di gedung bola basket ini dilaksanakan selama setahun, 2018-2019. Seluruh kolekte misa, saya ijinkan agar mereka simpan sendiri selama setahun. Dari kolekte itu mereka mulai membeli peralatan misa, buku misa dan kursi. Karena umat mulai bertambah merayakan misa, maka parokipun membantu mereka untuk membeli kursi tambahan.

Melihat perkembangan yang cukup pesat sebagai berkat dan rahmat dari Allah, pada pertengah Mei 2019, ada umat yang memberikan sebidang tanah untuk stasi tersebut. Pengurus stasi bersama umat menemui saya dan menyampaikan keinginan mereka untuk mendirikan kapel diatas sebidang tanah tersebut.

Saya menerima permintaan mereka dan menyampaikan bahwa asal tidak membebani umat yang lain. Merekapun memberikan kepada saya satu lembar kertas yang berisi seluruh tanda tangan mereka bahwa mereka setuju dan siap mendukung sepenuhnya pendirian kapel. Saya sangat gembira, karena bukan interese atau kemauan saya untuk mendirikan kapel, melainkan dari umat.

Proses pembangunanpun mulai dikerjakan. Dan pada pertengahan Februari 2020 sebuah kapel kecil, sederhana namun anggunpun berdiri. Seluruh dana pembangunan adalah dari umat dan donatur. Satu sen dana dari paroki tidak dikeluarkan. Merekapun kemudian membeli sound system dan beberapa banku panjang.

Tidak hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jemaat. Mereka mulai membentuk kelompok lektor, komentator, serta koor dari Couples For Christ dan koor anak-anak.

Dari pengalaman sederhana ini saya kemudian merenungkan bahwa;

“Ketika sebuah pelayanan yang tidak terbelenggu oleh interese dan kepentingan imamnya, maka selalu ada ruang bagi umat yang sederhana untuk terlibat dan melibatkan diri dalam setiap usaha pembangunan dan pengembangan Gereja.”

Atau dalam bahasa Paus Fransiskus;

“Saya tidak menginginkan Gereja yang berambisi menjadi pusat dan berakhir dengan  terperangkap dalam jerat obsesi dan prosedur.” (Evangelii Gaudium. 49).

Note: foto bersama anggota koor stasi Recomville di dalam kapel setelah misa, Minggu: 13-06-2021

Manila: 14-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update