-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Elegi Ata Pala

Jumat, 11 Juni 2021 | 17:42 WIB Last Updated 2021-06-11T10:45:55Z

Oleh: Timoteus Rosario Marten

Atapala [¹] menata jejak dari kampung
Pagi-pagi sekali susuri kali dan ngarai
Barisan bukit landai jadi pagar betis berganti-ganti

Pundak memikul bekal se-roto [²]
Hendak menerjang badai di bawah matahari
Kalau kelak jadi cerita
Biarkan sebar jadi berita

Dia menyusuri jalan sarat tikung menuju tanah lapang
Kaki berdaki dicabik duri tiada henti
Melangkah terus meski usia terus tergerus
Berani mati menerjang rintangan
Yang melintang garang sepanjang padang

Sebait doa dilafal seumpama petapa
Ujaran Tuhanku mengulum getar terdengar
Sejibun doa menggelantung di jakun
“Tuhanku, sertai hamba saat pergi jauh
Tuntun tubuh rapuh kala menemu jemu dan keluh
Agar jalan terus, menapak terus!
Meski suka menggores duka”

Pejalan kaki itu melangkah lagi di tiap pagi
Berhenti sedetik sekadar meng-idik [³]
Mengucap metafora leluhur yang unik nan luhur
Tuk lalui rimba nestapa tanpa putus asa

Dikira langkah terjeda saat malam menjemput senja
Kala daun-daun rimbun ditetes embun
Nyatanya sebuah perhentian tawarkan godaan padang gurun

Perantau berlari lagi hendak menggapai sudut benua
Dari balik kalbu gema suara Tuhanku mengalun pelan
Menyasar raga yang lalai lantunkan mazmur saban pagi
Tuhanku, jalan panjang masih terbentang!

Langkah terus tertata apik
Bergema irama dari kota ke kota
Meronta-ronta riang gembira nyanyian gita terindah
S'bab napas menghirup aroma surga 
Namun dia lelah menemu bedebah
Langkah teriring kabut menyahut sangat
Sambangi pelangi selepas rintik pergi

Atapala menengok roto petuah dan doa
Menahan sahutan di tepi jalan
Bergumam pelan bagai tarian rerumputan
Lalu menyahut lagi dan berjalan lagi
Hendak sampai bila matahari memeluk malam lagi
Agar dunia dikenang kelak tanpa henti

Mimpi di seberang menghantam bedebah penghalang jalan
Suara gusar menyasar garang
Terkenang lagi mimpi yang dititip pada buah hati suatu pagi

Bila rindu dikenang biarkan kenangan tak lekas usang
Jika nostalgia padat cerita
Biar dia berkisah tentang dunia kita

Siang dan malam silih berganti
Riang dan gumam berganti-ganti
Jedanya menoleh pada tanah berbukit duri
Tampak seikat senyuman merona di ujung bibir kaku sang musafir

Pada petuah leluhur yang terpahat di loh sanubari dia mendesah sudah:
"Neka asi one bea neka do'ong one golo
Lako lage golo kut molor mose ho'o
Neka daku ngong data neka data ngong daku
Lalong bakok du lakom lalong rombeng du kolem" [⁴]

Di tanah orang dia mengasah parang
Membasmi rumput liar dan duri kaki kaku
Mengusir malas yang terus bersarang
Menajamkan asa merangkai kreativitas
Biar kelak cetak generasi berkelas

Atapala menepi lagi
Bergidik ketika mengulik setumpuk fakta pelik
Tentang jiwa-jiwa yang menguar semangat berkobar-kobar
Lalu diumbar jadi barbar

Kikuk kaku melihat anak manusia yang meringkuk
Yang meratap tatap nyawa patriot tangguh yang luruh
Yang disekar selaksa kamboja anak-anak harapan
Lalu siang jadi malam yang menggantung kabut
Musafir menjeda lagi
Menatap kemuning padang abadi
Membasmi gulma yang melekat erat

Tapi nahas dinyata di bola mata:
Kawanan srigala berlari kencang
Mengejar kijang di padang datar
Kerbau liar menuju kubangan
Menjemput mangsa tanpa ampunan

Padang savana tampak kekuningan
Alang-alang bagai lembayung menari gusar
Kawanan rusa berarak-arak menikung musang
Di sini jadi arena tanding aneka makhluk sarat hasrat

Tepat namanya hukum rimba yang berupa
Siapa berani menanti mati
Tiap kawanan merangsek nasib kawanan kawan!

Mentari pagi dipeluk malam
Dunia kelam terpahat dalam-dalam
Tak ubahnya neraka yang nyata
Dia teringat adagium pendahulu:
"Kalau berjalan memelihara kaki"

Pada suatu sore, senja merah merekah
Memercik harapan nenek moyang:
"Porong uwa haéng wulang, langkas haéng ntala
Kimpur neho kiwung cama kiwung lopo,
cimang neho rimang cama rimang rana
Mésé békék langkas nawa!" [⁵]

Bila tiba saat terjeda dan menepi
Senja yang luruh dijemput malam
Fajar pagi menyembul di bawah horizon terjauh
Kan ditata ulang rusuk yang terserak
Dalam serpihan bayang-bayang
Tuk keabadian cinta katanya

Teringat lagi tuturan sang ayah:
"Porong ras baling racap res baling lele
Tai cala wai borek cala bocel" [⁶]

Musafir menghela napas
Merenung, tercenung, tepekur:
"Tuhanku, kalaulah boleh nyatakan cintamu!
Tapi bukan kehendakku melainkan kehendakMu" [⁷]
Dia menitip cinta pada se-lingko jagung [⁸]
Membiarkan bersemai dalam bumi yang sunyi
Bertumbuh tunas bernas seirama napas
Di ladang berbatu dan lagi duri

Penjelajah bangkit lagi di tanah nagi
Melihat raga sang papa dan mama dalam sketsa
Tulang pipi jadi licin digilas air mata dari sudut mata
Mengenang sosok pencipta, pencinta
Yang digores keriput bagai seni tubuh

Ibunda menyalakan suluh di gubuk
Saban subuh dan petang
Menanti ananda pulang membawa senang
Ke pangkuan hangat dalam balutan tak terlekang

Lalu sang bunda menyapa angin malam dalam diam
Berkitar pada pijaran lampu yang bersinar
Sekiranya buah rahim yang dirindu
Datang membawa sejumput dian harapan!

S’bab ananda pergi sampai jauh tak terengkuh
Kala benih jagung belum be-rembu[⁹)
Saat bulir padi tiada menguning
Sewaktu kopi belum memerah

Kini tulang punggung terpanggang matahari
Sia-sia pergi sampai jauh mengayuh sauh kalau tak berlabuh
Namun saatnya belum tiba melawat kerabat dan darah senadi
Matahari belum kembali ke peraduan
Jalan terus pagi hingga pagi

Perlahan penjelajah itu mengumpulkan kehidupan
Menata compang[¹⁰] komitmen di sanubari
Memantapkan kota[¹¹] di jiwa yang merdeka
Hingga suara kokak berkali-kali
Isyaratkan pulang usai petang

Tentang komitmen dia membatin:
"Porong neka behas neho kena, neka koas neho kota" [¹²]
Karena jalan berliku menganga di depan mata bak ngarai di barisan Ranaka [¹³]
Kepada tanah air musafir bertutur gesar:
"Nucalale biarkan dadap dan lale [¹⁴] bersemai
Tumbuh dalam tubuh seluruh
Merimbun di mata air kehidupan
Biarkan air mengalir sampai jauh
Hingga disambut lautan kehidupan
Tuk membagi berkat hingga pelosok nusa
Di seberang pulau dan selat"

Tanah air ditengok sejenak
Menemu onggokan daging dan material
Menumpuk rapuh bagai jarahan
Sedangkan ini bukan korban bakaran

Desau dedaunan di desa
Desau tak biasa jadi risau
Cerita April mengawal kemarau
Silikon tak dinyana, tanpa kompromi
Semalaman sepekan nusa mencekam
Pekan paskah berubah jadi resah

Desau daun-daun menjelma sesal
Gubuk-gubuk melesak cekat
Napas anak nusa berdesah
Hati hancur menyerpih
Jiwa sepi menyepi sendiri
Meratap kerabat sedarah ditinggal pergi

Nyanyian ratapan jadi doa
Meratap seribu nyawa korban amukan seroja
Ingin dihalau angin selatan
Sekadar menebar tongkat seperti Musa tatkala eksodus [¹⁵]
Apa daya tak kuasa melangkah Tuhan
Hanya meracau dan risau
Agar angin dan air mata langit berlalu sudah

Meski seroja mengamuk sepekan
Menghantam apa saja di depan mata
Membenam beban di pundak anak negeri
Jiwa anak rantau segarang karang

Harum cita-cintanya semerbak bak cendana
Raga kekarnya sekeras Nampar Nos [¹⁶]
Mimpi besarnya sesumbar sesubur vulkanik cincin api Nusa Bunga [¹⁷]
Pada musim kelang[¹⁸] suatu petang
Perantau melawat semua yang dikandung ibu
Di desa teduh beratap langit biru
Pada kampung di lodok unik di lingko [¹⁹] kehidupan
Air matanya berlinang, girang!

Saat senja menyandar manja di bukit leluhur
Penjelajah pulang ke kandang
Menitip gabah, rumput dan kinggres [²⁰]
Menitip pada kawanan kuda di bukit berumput hijau
Mengikat seakar wiko dan jengok [²¹]
Tuk disemai di kaki bukit bila penghujan menderai pada Januari

Senin pagi enam belas Mei dua ribu dua satu
Dua bebek bercium buas kala diderai gerimis
Menyerpih beling di aspal panas
Atapala terjerembab, gelap!
Dua sekarat selamat, satu tak bernapas
Lakalantas jadi nahas
Dara ta'a [²²] tumpah melelah di jalan yang basah

Tiga hari sebelumnya Sang Kristus naik ke Surga
Dari antara kami juga menyusul pergi 
Dia pulang dalam senyap 
Diseret arus samudera ke dasar yang gelap
Muka yang ditinggal pergi jadi sembab
Lagi-lagi dara ta’a dipeluk tepian samudra 
Ditabur butir-butir pasir tepian Base-G yang bergelora

Tiada terduga kami berduka
Langit berkabut kami berkabung
Sambung-menyambung dari seroja sampai Jayapura

Embun pagi dan air mata mengalir deras
Menyatu dalam lamentasi di sini
Port Numbay jadi saksi lirih bagi yang pergi

Bukit-bukit hijau dan kopi kini
Bermadah lirih menyambut buah rahim terkasih
Gubuk tua tegak berdiri disemuti darah sendiri
Disertai sembahyang pagi dan petang

Buah cinta datang bersarang
Meski raga rapuh terbujur kaku di kotak cokelat
Songke [²³] dan kapan menadah ratapan
Nyanyian lamentasi mengiringnya pergi ke tanah abadi

Dia pulang dengan menitip elegi atapala
Dalam balutan songke ntala [²⁴]
Saudara sedarah terisak ramai
Menyambut ananda yang kaku tak bersahut

Retang bambas nuk wua tuka
Ba tobon kole golo
Ba matan kole tana [²⁵]
Dari seberang negeri di bawah matahari
Di atas bongkahan harapan fajar pagi

Catatan
1. Atapala: ata (orang), pala (rantau, merantau); atapala (perantau). Bahasa Manggarai, Flores.
2. Roto: wadah semacam silinder terbuat dari anyaman kulit bambu gurung (talok) atau daun pandan yang sudah dikeringkan. Roto dengan ukuran bervariasi dilengkapi tali sebagai gendongan untuk digantung di kepala hingga punggung, untuk membawa ubi, sayuran, padi, jagung, dan hasil kebun lainnya
3. Idik: semacam doa keluhan dalam bahasa Manggarai, biasanya dalam situasi tertentu.
4. Neka asi one bea neka do'ong one golo (jangan berhenti di tanah datar jangan terhenti di bukit). Lako lage golo kut molor mose ho'o (jalan melalui bukit/kampung agar hidup ini menjadi baik). Dua go’et/ungkapan ini biasanya diucapkan dalam doa/tudak sewaktu seseorang merantau. Neka daku ngong data neka data ngong daku (jangan klain milik saya padahal itu milik orang lain, jangan menyangkal milik orang lain padahal itu milik sendiri). Lalong bakok du lakom lalong rombeng du kolem (ayam jantan sewaktu keberangkatan ayam jantan putih sewaktu pulang). Biasanya sebelum merantau sanak keluarga membuat ritual doa khusus dengan hewan persembahan ayam jantan putih. Begitu pula sewaktu pulang dengan mempersembahkan ayam jantan berwarna-warni).
5. "Porong uwa haéng wulang, langkas haéng ntala (semoga bertumbuh sampai di bulan, tinggi sampai bintang). Kimpur neho kiwung cama kiwung lopo, cimang neho rimang cama rimang rana (keras seperti batang enau tua, kebal tajam seperti lidi pertama). Mésé békék langkas nawa! (Bahu lebar nyawa tinggi). Ungkapan-ungkapan di atas biasanya disampaikan untuk memohon kesehatan)
6. Porong ras baling racap res baling lele (semoga penuh di kiri kanan tulang rusuk dan ketiak). Ta’i cala wai borek cala bocel (berak di kaki berak di betis). Ungkapan ini biasaya untuk memohon kesuburan dan kelahiran generasi baru yang banyak.
7. Bdk. Lukas 22:42
8. Lingko: areal, kebun komunal
9. Rembu: semacam rambut pada jagung yang tumbuh di ujung tongkol terbungkus daun.
10. Compang: susunan batu menyerupai mesbah untuk mempersembahkan sesajian kepada
leluhur
11. Kota: undakan batu
12. Porong neka behas neho kena, neka koas neho kota (Semoga jangan tercerai seperti pagar
kayu, jangan terberai seperti undakan batu)
13. Ranaka: gunung tertinggi di Manggarai, dari kata rana (danau, pertama) dan ka (burung
gagak)
14. Lale: pohon sejenis sukun (Artocarpus elastic). Nucalale: sebutan untuk Tanah Manggarai
15. Keluaran 14:15-31
16. Nampar Nos: gunung berapi di Pegunungan Ranaka, Manggarai Flores). Nampar= tebing
cadas, nos=berasap
17. Nusa Bunga: Pulau Flores
18. Kelang: musim tanam/panen (saat kemarau)
19. Lodok, lingko. Dalam tradisi orang Manggarai, kebun komunal atau lingko dibagi rata kepada semua klan yang disebut panga. Tiap klan mendapat jatah yang dibagi dengan menggunakan jari tangan (los moso). Jari-jarinya ditarik dari pusat kebun yang disebut lodok hingga bagian luar kebun yang disebut cicing. Jika dilihat dari ketinggian, bentuknya seperti jaring laba-laba raksasa. Lingko: areal, kebun komunal.
20. Kingres/weteng: rumput yang biasa diberikan kepada hewan ternak
21.Wiko, jengok. Wiko dan jengkok biasanya tumbuh di daerah berawa atau berair. Wiko tumbuh di hulu sungai sehingga dimana terdapat tumbuhan wiko, di sana terdapat mata air, sedangkan jengkok biasanya dianalogikan tumbuh di hilir. Jengok biasa digunakan untuk obat-obatan atau bahkan jimat. Dua tumbuhan ini biasanya dijadikan metafora untuk mengharapkan kesuburan/kehidupan dengan ungkapan atau goet “porong wiko le ulun jengok lau wain” (semoga tumbuh seperti wiko di hulu dan jengok di hilir sungai).
22. Dara ta'a: sebutan untuk peristiwa kematian karena kecelakaan/musibah. Dara (darah), ta'a
(mentah, biru/hijau)
23. Songke: kain tenunan orang Manggarai
24. Songke ntala: songke bermotif bintang (ntala)
25. Retang bambas nuk wua tuka (tangisan sedih teringat buah rahim). Ba tobon kole golo (hanya jazadnya pulang kampung). Ba matan kole tana (bawa kematiannya pulang kampung). Maksudnya hanya pulang dengan membawa mayat/jenazah, bukan manusia yang masih hidup).
×
Berita Terbaru Update