-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

GERAKAN RASA: DARI HATI KE HATI

Jumat, 11 Juni 2021 | 19:20 WIB Last Updated 2021-06-12T08:30:56Z

Ketika kita berbicara tentang cinta, kita sedang berbicara tentang getaran dan gerakan rasa. Itu hal yang pertama. Karena itu orang sering berkata bahwa cinta bukan logika. Ceritera tentang seorang ibu yang rela tidak makan berhari-hari dan ayah yang tidak tidur malam karena menjaga anaknya yang sakit bermula dari getaran rasa, tak perlu logika. Kamu memaksa seorang ibu yang tidak mau makan sampai anaknya selamat dengan logika: ibu makan dulu, biar kamu kuat agar tetap kuat menjaga anakmu, biar kamu tidak  ikut sakit, tidak akan berpengaruh pada getaran dan gerakan cinta sang ibu pada anaknya. Dia tak peduli pada logika, dia sudah dirasuki oleh rasa cinta yang kuat.

Cinta adalah gerakan rasa dari hati ke hati dan dampaknya bisa meluluhlantahkan apa saja. Saya menyaksikan sendiri seorang ibu yang rela melawan protokol kesehatan dan merangkul, mencium anaknya yang dinyatakan positif covid. Dulu saat saya masih frater, saya menyaksikan seorang ibu dan suaminya mendampingi anak yang di ambang maut karena HIV AIDS. Secara logika kesehatan, ibu yang merangkul dan mencium anak yang pasien covid mungkin tidak logis karena itu berdampak pada penyebaran covid itu. Namun itulah cinta, selalu bergetar dan mendorong pergerakan rasa dari hati ke hati.

Hari ini Gereja Katolik merayakan hari raya Hati Kudus Yesus. Besok akan dilanjutkan dengan pesta Hati Tersuci Bunda Maria. Gereja Katolik tentu menyadari gerakan cinta itu dari hati ke hati, maka Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria dirayakan.

Hati Kudus Yesus menyemburkan kasih yang sempurna kepada hati semua orang. Gerakan kasih dari Hati Yesus menuju hati manusia melintasi segala banyak tantangan. Sebagai Tuhan, Yesus tentu membiarkan kasih itu mengalir dari kebebasan cinta-Nya tanpa sisa, tanpa egoisme. Dia mencintai manusia sampai hatinya terluka dan Dia mati. Cinta Yesus pun tanpa logika, Dia mencintai sampai mati terkapar. Dia mengalir begitu saja tanpa terhalang oleh egoisme manusia.

Bunda Maria sebagai ibu yang melahirkan Yesus ke dunia, pantas menerima gelar "Hati Tersuci" pertama-tama lantaran kesediaan hati-Nya untuk menerima tawaran Allah dan menyimpan semua rahasia itu di dalam hatinya. Sejak menerima tugas dari Allah sampai pada penyaliban Yesus Sang Putra, Maria selalu menyimpan rahasia kasih itu di dalam hatinya. Dia tidak pakai logika ketika menerima tawaran Allah. Dia tidak berontak ketika mendengar kesaksian Simeon. Dia tidak marah ketika mendengar jawaban Yesus di bait Allah, ketika sepanjang hari dan malam mereka mencari, malah Yesus bertanya "mengapa kamu mencari aku". Dia tidak memberontak ketika putra semata wayangnya disesah, disalibkan dan mati secara tragis. Maria menyimpan semuanya di dalam hati.

Disposisi batin dan hati Yesus dan Maria membuat mereka pantas menyandang gelar: HATI KUDUS YESUS dan HATI TERSUCI MARIA. Keduanya sama-sama bergetar oleh belas kasih dan mengalirkan rasa cinta dari hati ke hati.

Kita semua yang percaya pada Tesus patut berbangga dan bersyukur bahwa kita memiliki Yesus yang berhati Kudus dan memiliki Maria yang berhati suci. Dan kita menerima gerakan rasa dari hati ke hati. Dan kita semua dikaruniai hati: SEMOGA HATI YESUS HIDUP DALAM HATI KITA. DAN SEMOGA HATI TERSUCI MARIA JUGA MENGINSPIRASI KITA, agar kita pun bersedia untuk mengalirkan rasa kasih dari hati ke hati.

JAGALAH HATI DENGAN HATI-HATI

Oleh: Pater Wendly J. Marot SVD
×
Berita Terbaru Update