-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hanya Orang Beriman Yang Tidak Mengubah Agama Menjadi Perbudakan

Kamis, 17 Juni 2021 | 18:43 WIB Last Updated 2021-06-17T11:43:02Z

Kedalaman iman seseorang tidak semata dilihat dari ketekunannya beribadah tetapi lebih dari itu adalah mampu keluar dari kepentingan dan kepedulian atas dirinya sendiri dan memberikan ruang perjumpaan dengan yang lain termasuk ruang untuk berbuat baik sebagai ruang untuk merasakan cinta kasih Allah (bdk. Evangelii Gaudium.2).

Sebaliknya ketika masih ada orang beragama yang sibuk mengurusi agama orang lain, yang sibuk memfitnah agama orang lain, bahkan dengan telanjang membohongi jemaatnya dengan kebohongan-kebohongan hanya untuk pujian atas dirinya sendiri seraya menjelekan agama yang lain, sejatinya mereka sedang mengalami kehampaan yaitu kehampaan atau kekeringan bathin dan iman yang mengubah agama menjadi sebuah perbudakan dan bukannya membebaskan.

Bahaya terbesar dari orang beragama yang mengalami kehampaan bathin dan iman adalah ketakutan akan kehadiran orang atau agama lain. Mereka berusaha untuk membangun pembenaran dengan menjelekan dan memfitnah orang atau agama lain yang dibalut dengan kebohongan melalui penafsiran sesat terhadap ajaran agama lain.

Apa yang dicari? Bukan Tuhan dan sesama. Melainkan kepuasan diri sendiri yang melahirkan ketamakan dan tumpulnya iman serta hati nurani. Orang beragama seperti ini secara jelas dan tegas menelanjangi kehidupan beragamanya sendiri; “dimana Allah  tak pernah lelah mengampuni kita; kita adalah orang-orang yang lelah mencari belas  kasihan-Nya.” (Bdk. Evangelii Gaudium.3).

Ketika agama hanya dijadikan jalan untuk memuaskan kepentingan dan kepedulian pribadi atau kelompok maka nama Allah selalu dijadikan legitimasi untuk menindas yang lain bahkan agama selalu dijadikan tameng untuk mengobrak abrik segala aturan yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pribadi walaupun itu disadari bertentangan dengan ajaran agama.

Menjadi seorang beragama bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan mulia melainkan perjumpaan dengan suatu kejadian, seseorang yang memberikan cakrawala baru dan arah yang menentukan dalam hidup (bdk. Paus Benediktus XVI dalam Evangelii Gaudium.7).

Hanya berkat perjumpaan–atau perjumpaan yang dibarui–dengan kasih Allah, yang  berkembang dalam suatu persahabatan yang memperkaya, kita dibebaskan dari  kesempitan dan keterkungkungan diri (Evangelii Gaudium.8)

Orang beragama yang menjadikan persahabatan dan perbedaan sebagai jalan untuk saling memperkaya itulah yang tidak akan mengubah agama menjadi perbudakan melainkan membebaskan yang membawa dan membagikan sukacita iman.

Catatan: Foto dari RD. Inno Ngutra, diambil dari Akun FB Beliau: SANG INSPIRATOR: Ketika Seorang Bupati yang beragama Islam hadir di tengah Tokoh-Tokoh Katolik. Dialah Bapak Bupati Maluku Tenggara, Haji M. Thaher Hanubun. Maju terus pa Bupati berdasarkan ikatan Adat, Pemerintah dan Agama.

Manila: 16-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update